Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
pulang


__ADS_3

Caisar menatap langit luas yang bertaburan bintang. Sangat indah, namun tak bisa ia rasakan. Semua sendi tubuhnya mati, sampai menggerogoti Indra perasa miliknya. Ia harus bagaimana sekarang? apa ia harus tetap bergantung dengan Disya? Bukankah itu sangat tidak etis untuk dirinya sebagai laki-laki malah terlalu banyak memanfaatkan seorang perempuan yang sebaik Disya??


Ia tidak setidak bermoral itu sebagai lelaki! Ia lelaki yang tau siapa dirinya! dia laki-laki yang harusnya memberi bukan diberi!


Ia harus mencari uang dimana?? Ia tadi tidak sengaja melihat Disya mengobrak-Abrik dompetnya dan kertas jatuh, ternyata itu biaya tagihan sang adik Rafa dan Farel. Itu terhitung sekitar 340Juta dalam satu hari dikarenakan mengenakan beberapa dokter professional dan tuang VIP dua kamar. Dan ia juga tau jika Disya membayar beberapa pasien untuk mendapatkan donor darah. Itu membuat tagihan membengkak. Caisar harus bagaimana mencari uang lagi untuk mengembalikan semua itu? Disya memang tidak minta tapi lagi lagi kalian harus tau jika dia sadar diri!


Sadar diri itu memang penting biar tidak jadi beban orang lain!


“Pangeran.. ngantuk..” Disya datang mengagetkan Caisar. Caisar disana menatap kebelakang mengerjab pelan menatap Disya yang dalam keadaan menguap pelan datang entah dari mana. Ia menepuk sisi sampingnya menyuruh Disya duduk. Disya mengikut saja duduk disisi dimana Caisar suruh. Caisar bergeser dan tersenyum tipis menutupi wajahnya yang tadinya sendu sekarang terlihat melembut.


Ia melepaskan jaketnya dan ia kenakan kepada Disya. Disya disana ikut saja serta mengangkat tangannya memudah Caisar memakaikannya jaket. Caisar menaruh kupluk jaket itu dan mengikat serta mengancing jaket hingga tubuh Disya terbenam hanya wajah tembemnya saja yang terlihat.


Caisar tersenyum dan juga menaruh kepalanya disisi bahunya. Ia mengusap bahu Disya pelan.” Kamu kenapa belom pulang? Tadi katanya mau pulang kok enggak jadi hmm?”Tanya Caisar pelan pada Disya yang terlihat terdiam memejamkan matanya


Disya menggeleng memejamkan matanya. ia memeluk Caisar erat dan menyelusup kepala di dadanya Caisar mencari kehangatan. Caisar menghela nafas lalu membantu Disya untuk naik di pangkuannya.


Disya yang diperlakukan begitu cukup kaget tapi setelahnya tidak lagi karena merasa posisi ini memang nyaman. Sangat hangat dan nyaman. Ditambah tangan Caisar yang mengusap kepalanya pelan dan juga memeluknya erat tanpa nafsu. Jadi begini yah rasanya disayang sepenuh hati,?


Caisar mengecup pelipis nua pelan dan tersenyum lembut.”Tidurlah...."Ujarnya pelan.


“Mimpi indah Sasa..”Lanjutnya lagi. Disya mengeratkan pelukannya tersenyum tipis. Tadi moodnya cukup buruk akibat papanya dirumah dan memarahinya.


Jam menunjukan pukul 11 dan Disya baru menapakkan kakinya dirumah, ketika kakinya memasuki rumah, pandanganya jatuh pada sang ayah yang berciuman dengan perempuan yang pernah dimall ia temui. Ia mendengus lalu berjalan masuk.

__ADS_1


Ayahnya yang kaget mengetahui anaknya baru pulang segera melepas ciuman itu.”Dari mana aja kamu Disya? Papa liat kamu sedari beberapa hari ini pulang malam terus. “Ujar ayahnya dingin seperti yang tadi ia lakukan bukanlah apa-apa atau itu adalah hal yang lumrah.


Disya disana memutar bola mata malas. Moodnya buruk, ia lelah. Ia memilih menatap ayahnya datar.”Pulangin jal4ng anda..!! saya mual liatnya dirumah ini.”Ujar Disya ketus dan tersenyum miring.” Atau tangan saya yang mengusirnya. Tapi dengan cara saya.”Jedanya penuh intimidasi.


“Disya saya bertanya sama kamu. Kamu dari mana..!! dan dia tamu papa bukan urusan kamu..!!” Teriak ayahnya membentak tak suka kekasihnya malah dipanggil j4lang oleh anak gadisnya. Ia bahkan tak sadar suaranya membentak anaknya sendiri.


“Ini urusan saya..!! asal anda tau ini rumahnya mama, jadi bukan kah anda tidak tahu malu jika membawa wanita lain dirumah orang lain??”Tanyanya Disya terkekeh pelan, tapi sedetik setelahnya wajahnya sangat datar. “Dan mau saya pulang jam berapa itu bukan urusan anda. Itu urusan saya. Masih untung saya pulang.”Ujarnya sinis.


Ayahnya mengepalkan tangannya meredan amarah, sosok kekasihnya hanya tersenyum masam melihat Disya. “ Kamu semakin hari semakin tidak bisa diatur..” Gumam ayahnya lelah. “Apa salah papa? Papa nanya karena papa sayang sama kamu Disya. Anak gadis mana yang baru pulang jam segini si? Jika kamu diluar sana kenapa-napa bagaimana?”Tanyanya pelan pada Disya lagi, Mencoba mengalah dan memahami sang anak


Disya malah terkekeh pelan. “Saya baru tau nih tuan, jika sedang khawatir tu bukannya mencari atau menelpon, tetapi malah asik ciuman dan juga membawa j4lang kerumah. Apa sekarang kosakata Khawatir di kamus bahasa sudah beralih profesi?”Tanyanya pelan.


Papanya terdiam menatap sang anak lirih. Disya bukan lagi anak manis, sepuluh tahun berubah anaknya. "Handphone lamu nggak aktif...!"Gumamnya lirih.


"Alasan,....!"Disya melangkah dan mendekati jal4ng ayahnya. Tatapannya sangat datar “ Dan anda, saya rasa anda sangat bodoh, mau saja dijadikan kekasih tapi tidak dinikahi. Sudah berapa kali dimasuki.?”Ujarnya terkekeh,


“kapan saya bilang saya tidak setuju jika kalian menikah? Menikah saja tapi anda tidak lagi jadi ayah saya. Angkat kaki tanpa ,membawa sepeserpun harta dirumah ini. dimana letak gara-gara saya dimana? Bukankah itu kesalahan dari kalian sendiri yang sadar jika harta membuat kalian tidak bisa berbuat apa-apa?” Relung hati Disya tersengat rasa sakit sejujurnya. Semuanya sudah tertumpuk dengan wajah datarnya.


Papanya menggeleng.” Papa hanya mau kamu menerima dia, dan menerima dia jadi mamamu. Kita hidup bahagia da—“


“Bagaimana saya bisa menerima dia sedangkan dia yang menyebabkan mama saya mati? Dan bagaimana saya bisa bahagia jika berdekatan dengan manusia pembunuh seperti kalian???” Wajahnya semakin datar suaranya semakin menyempit. Matanya merah karena marah dan karena menahan tangis menjadi satu.


“Mamamu meninggal bukan karena Kami tap-“

__ADS_1


“Tapi karena apa? Karena kalian egois dan juga tidak peduli? Kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri dengan bersembunyi jika kalian saling mencintai? Enyahlah dari sini saya muak melihat kalian.”Jengah Disya keras.


-“Disya kamu jangan ku-“


Disya disana mencekik papanya yang bicara lagi hingga ucapannya terpotong. Tatapan Disya sangat buruk menatap ayahnya.


Kekasihnya sampai meringis takut melihatnya. Disya mencekiknya tanpa perasaan dan melepaskannya tanpa perasaan. “ Mulut ada terlalu kotor dalam pembelaan.”Ujarnya pelan melangkah meninggalkan tempat itu tanpa kata lagi.


“Mas nggak apa-apa?”Tanya kekasihnya pelan papa Disya hanya menggeleng menangis menatap anaknya sudah pergi menjauh.”Dia membenci saya Rum, dia membenci saya Dan kamu.”Gumamnya lirih.”Saya merindukan dia yang dulu, saya merindukan senyumnya.” Ia menangis di tenangi oleh kekasihnya.


Merasakan mereka manusia yang paling tersakiti dan Disya adalah tersangka yang kejam. Katakana saja jika Disya kejam tak juga peduli. Toh dia memang kejam.


...----------------...


Caisar mengusap air mata dari pipi Disya yang entah kenapa sampai menangis. Caisar mengernyit mengusap kepalanya pelan.” Mimpi buruk??? Jangan takut, ada aku disiini.” Ia mengusap kening Disya yang mengerut dan juga mengusap pipinya pelan.


Disya teringat kejadian barusan dan masuk kedalam mimpinya lagi, Disya disana terlihat sudah sedikit meringsut. Keningnya sudah tak lagi setegang tadi, caisar memilih kembali keruang nya Farel saja menidurkan Disya disana. disana juga sudah ada Cessy kok.


Keadaan Farel? Ia sudah sedikit lebih baik tidak se shok kemarin. Hanya saja ia slalu menangis setiap harinya.


.


.

__ADS_1


Lanjut nggak? kalo iya nanti Ki Doble Up lagi..


Mumpung lagi rajin hehehe. Kalo typo aku udah sebisa mungkin supaya nggak typo tapi mau gimana lagi ternyata masih ada ada hmmm


__ADS_2