Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Pulang


__ADS_3

“ di depan rameh banget.” Ujar Delon memelankan mobilnya yang melaju.


Disya segera melirik dava dan membuka jaket Dava dan juga seluruh atributnya sampai Dava meringis karena beberapa tubuhnya terluka. Menampilkan dava menggunakan kaus olong dan dirinya juga menggunakan baju tidur. Disya menutupi kaki Dava yang terluka menggunkan jaket milik Delon yang tergantung. Ia mengambil jaket lain dan memakainya dengan Dava sedangkan dirinya tidak,.


Dava lagi lagi tertegun melihat disya yang malah memperhatikannya dirinya bukan dirinya sendiri


Disya disana merapikan rambut Dava dan berdehem.” Loe pura pura tidur aja biar nggak keliatan gugup. Tidur di kaki gue.” ujar Disya menaruh kepala Dava kasar ke pahanya, sebenarnya tidak kasar tetapi karena memang kekuatan Disya yang sangat kuat dan karena panik membuat Disya tidak berfikir panjang lagi. Dava meringis pelan tapi tetap menurut. Sehingga seperti Dava yang tidur di kakinya Disya agak takut dan gugup.


Dava tidak pernah sedekat ini dengan perempuan kecuali Cessy dan juga Cleo.


Delon melirik mereka dengan tenang.” Cepet. Polisi nyamperin kita.” bisik Delon pelan.


Benar polisi mendekati mereka dan menatap mereka dengan tatapan bingung. Delon membuka kaca mobilnya. “ loh kalian ngapain jam segini lewat sini?” Tanya polisi tajam pada Delon dan Disya. Dava memejamkan mata dan menaruh wajahnya di paha disya,


“ Teman kami sakit pak. Kami harus kerumah sakit.” ujar Delon memberi wajah khawatir.


Disya pun mengusap kepala Fava nanar,.” iya pak.” Polisi melihatnya segera mendekati Dava dan memegang kepala Dava dari kaca mobil. Dava menegang di sana lalu membuka mata pelan menatap polisi bergetar. Mata Dava merah dan juga pucat pasi ketakutan.


Polisi menyenteri dava pun berdehem.” teman kalian pucat banget dan tubuhnya menggigil kedinginan. kepalanya sangat dingin. Coba bawa kerumah skait lebih cepat.” Tegas polisi. Delon dan Disya mengangguk dan Dava memasukan lagi kepalanya ke kaki disya.


“ jika boleh tau ini kenapa yah pak?” Tanya Delon kepada polisi pura-pura tidak tahu.


Polisi menggeleng.” Pembunuhan. Mobilnya masuk ke air.” Jelas polisi.


Delon terlihat kaget dan Disya pun menatap kaget pada polisi.” cepat lewat.” Jelas polisi mengarahkan jalan.


Delon segera menutup kaca mobil mereka dan segera keluar dari keramaian. Beberapa polisi melihat mobil mereka dengan penasaran dijelaskan oleh polisi sebelumnya. Disya melihat kearah sungai yang memang terlihat deras dan beberapa polisi yang sudah berlalu lalang. Disya tersenyum miring. Pilihannya dengan sungai ini, sebab sungai ini akan sangat sulit orang orang mengevakuasi mobil atau bahkan penumpangnya.


Deras dan dalamnya air sangat menyulitkan pencaharian, karenanya jika ada yang hanyut disini bisa jadi tidak akan ditemukan, kasus lain beberapa kali mobil masuk ke sungai tapi tidak bisa dievaluasi karena terlalu derasnya arus. Mobil juga sulit ditemukan, bisa jadi mengendap dan hanyut.,


Dava mengeratkan matanya dan hampir menangis. Dava tidak mengatakan disya jahat kali ini. bahkan dava merasakan kebaikan Disya yang begitu besar untuknya dan keluarganya. Di saat begini Disya terlalu mengutamakan dirinya meksi dirinya hanya menjadi beban. Tapi disya masih ikut membawanya demi rasa kepuasan dirinya.


Yah Dava puas meksipun hanya membalas dua pukulan kuat untuik Malvin, dirinya sangat puas karena bisa membalas perbuatannya pada kembarannya. Kali ini sisi iblis Dava keluar, ia harap malvin menjadi abu dalam harapan. Setiap orang ada sisi iblis masing masing bukan? sebaik mana pun dia jika dia manusia.


Disya mengusap kepala Dava tenang. “ nggak usah takut. ada gue.” Bisik Disya kepada dava yang mengeratkan tangan di celananya. Dava memejamkan matanya tenang. Yah dirinya punya Disya yang kuat dan caisar yang menyayanginya. Ia dikelilingi semua orang yang melindunginya. Disya sendiri tau jika Dava dilingkupi rasa traumanya sendiri.


Keduanya sampai ke rumah Dwi. Disya dan Dava segera keluar dan Demon menghentikan mobil menatap keduanya keluar. Disya berdehem melirikya dna berkata.” Sorry, kali ini nggak nguntungin loe. Loe minta apa buat bayarannya?”bertanya Disya kepada Demon tegas.,

__ADS_1


Demon menggeleng pelan.” kita temen kan?” tanyanya.


Disya berdehem pelan dan demon terkekeh.” Kalo gitu gue duluan. See You Disya.” Ia melaju lagi mobilnya keluar dari perkarangan rumah Disya mengangkat bahu acuh.


Bersyukur jika Demon enggan apa apa darinya. Jika beginikan dirinya juga tidak memikirkan lagi tentang hutang budi.


Ia memapa Dava yang berjalan pincang.” Mau gue gendong aja?” Tanya Disya kepada Dava yang diam saja.


Dava menggeleng melirik disya.” Apaan sih. “ Disya terkekeh pelan segera memapa Dava, sebab memang sepertinya lutut Dava terkilir dan juga luka cukup parah. Saat keduanya memasuki rumah. Meteka kaget ada Dwi yang tidur di sofa dengan selimut tipis.


Dan saat pintu terbuka mata Dwipun ikut terbuka menatap keduanya kaget dan khawatir.” Kalian kenapa lama banget pulangnya? Udah jam dua baru pulang.” Ujar Dwi lirih melirik jam yang sudah pukul dua pagi dan keduanya baru saja pulang sekarang.


Dava disana diam gemetar mengeratkan pegangan dengan Disya. Disya menggaruk pelan kepalanya.” Maaf yah ma, kita nggak bawa kue martabaknya. “ jelas disya meringis pelan.


Dwi mendatarkan wajahnya dan menjitak kepala disya. Disya menhgerjab polos menatap dwi yang di depanya menatapnya garang.” Mama bukannya marah kalian nggak bawa martabal Disya. tapi khawatir kalian belum pulang sampek sekarang. Sedangkan kamu taukan kalo Fardan sama Caisar sedang diluar? Mama telepon siapa? Fadly. Dia udah semaleman cari kalian dan nggak nemu, sampek dia kecapekan juga tu di kamar.” Jelas Dwi kesal. Bisa bisanya kekhawatiran beratnya disalah artikan oleh Disya.


Disya mengerjab pelan.” Jadi hmm tante nggak marah karena kita nggak bawa martabak?” Tanya Disya pelan.


Dwi menatap disya tajam.” sekalian sih.” jelasnya dan Disya mendatarkan wajahnya.


“ tadi kecelakaan Tante. Mangkanya kami lambat pulang. “ jelas Diisya pelan.


Dwi melebarkan matanya menatap Disya dan Dava bolak balik.” Yaampun, serius? Kenapa nggak telepon mama? Yatuhan sayang. Ada yang luka? Udah diobatin. Sini sini.” Ia menarik tangan Dava.


Tapi Dava meringis pelan karena telapak tangannya lecet.” Yatuhan. “


Dwi menatap telapak tangan Dava dan menatapnya nanar.” luka begini. Belum diobatin lagi. mama tekepon dokter bentar yah biar nggak infeksi.” Jelas dwi cepat.


“ Ma obat pakek obat merah aja ngak apa apa.” Jelas Dava kepada Dwi nanar.


Dwi melotot.” Gimana bisa? ini patah, kalo infeksi gimana? Kamu diem Dava. Kita kekamar sekarang. Disya kamu juga iikut mama. Kamu ada luka juga nggak?”tanyanya pada Disya.


Disya menggeleng pelan.” ayo kekamar bentar lagi dokternya kesini. Kita bersihin dulu lukanya.” Jelas Dwi disana ceoat dan panic.


Keduanya disuruh masuk kekamar paling bawah tidak ditempati. Dava disana dibersihkan lukanya oleh Dwi. Sesekali Dava meringis karena merasa sakit. beberapa waktu berlalu dokter datang dengan peralatannya. Dava diobati dan Disya diam di sofa menatap Dava yang diobati. Wajah Disya tetap datar seakan-akan tidak terganggu segan dava yang meringis kesakitan. Kedua lutut Dava merah dan tangan kananya bagian telapak tangan lecet, kakinya juga terkilir, serta bagian lengannya juga memar. Cukup kuat tandanya mereka melompat atau memang Dava salah posisi melompat. Karena memang posisi mobil dalam kecepatan tinggi saat mereka melompat, jika tidak takutnya nanti malah ketahuan.


Dava melirik Disya yang diam saja, pasti wanita itu juga terliuka, diam menatap lamban dikakinya, memang ada luka di sana, darahnya membasahi celana hitam miliknya.” Kak Disya pasti terluka juga?” Tanya Dava.

__ADS_1


Disya menggeleng.” Tidak.” Jelas Disya tegas.


Dava menggeleng cepat menatap Dwi yang menatap Dava.” Kak Disya pasti terluka. Obatin kak Disya juga ma.” Bisiknya lirih. Dava sangat takut Disya juga terluka tapi hanya diam saja.


Dwi melotot menatap disya.” Disya kamu coba sini kita cek dulu.” Ia membawa Disya ke kamar mandi dan menggantikan baju lebih pendek. Saat Disya hendak.membanya Dwi melotot garang. " Nggak usah bantah!!!'" Disya mengatupkan bibirnya lagi.


Benar saja, bagian punggung Disya memar, bagian pinggang terluka cukup parah mungkin dirinya terkena batu tajam. lalu bagian siku tangan disya juga memar dan berdarah. Bahkan disya lebih parah dari Dava,.


Dwi diam menahan sebak di dadanya. Ini sakit meksipun Disya bukan anak kandungnya.” Kenbapa nggak bilang sakit?” Tanya Dwi pelan duduk dikloset.


Disya mengerjab pelan,. tangannya pelan mengusap air mata Dwi yang menetes di sana. “ ini tidak sakit tante. Tadi Sasa tidak tahu, jangan menangis.” Gumam Disya pada Dwi.


Dwi menggeleng. Bohong sekali ini tidak sakit. “ memangnya kamu punya ilmu kebal sampek nggak ngerasa sakit apa? Dimana kamu nuntut ilmu hitam?” Tanya Dwi melototi Disya.


Disya disana tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Dwi menguspa air matanya, menatap mata kaki disya yang paling terluka parah, “ ayok obtain dulu.” Jelas Dwi memapa disya.


Disya menolak di papa.” Disya tidak sakit. “ jelas Disya segera berjalan sendiri.


Dwi di sana meremas dadanya sendiri akibat tolakan dari Disya. Sesakit apa hidup kamu Disya sampai fisik kamu terluka parah kamu masih bilang diri kamu baik baik saja bahkan tidak terasa sama sekali. Dwi menghela nafas pelan mengusap air matanya baru ia keluar dari sana mengikuti Disya,


Dava diam melirik Disya yang berjalan menuju kasurnya, lalu tidur disana. dokter menatap Disya yang tidur disana pun segera mendekatinya dan mengecek bagian luka. Dwi segera mendekat dan menunjukan posisi posisi luka ditubuh Disya. Dokter tertegun, bahkan tulang putih bagian kaki Disya terlihat dan dia hanya diam saja. Dokter segera mengambil alat jahit dan membersihkan luka disya untuk ia jahit. Luka ini cukup parah harus di jahit,


Dava disamping Disya saat Disya dijahit mengerjab pelan. Disya yang ditatap oleh Dava mengerjab pelan.” kamu nggak sakit lagi kan?”


Dava mengerjab pelan menatap Disya bertanya. Harusnya ia bertanya. Harusnya ia yang berteriak.” Maaf yah kak. Aku Cuma jadi beban buat kak disya. Andai aja aku nggak ikut.” Bisik Dava kepada Disya merasa bersalah.


Disya menggeleng dan menepuk kepala nya pelan.” nggak kok. Kamu senang kakak senang, jadi kamu sudah tidak lagi merasa dendam kan? semua sudah dibayar tuntas, tapi lain kali jangan yah biar kakak aja yang jahat kamu jangan..” Ujar Disya tersenyum lebar.


Dava menatap disya nanar an segera memeluk Disya. Dokter melihat dava tiba tiba memeluk disya terdiam.” Makasih yah kak.” Gumam Dava nanar dan Disya hanya mengangguk dan mengusap kepala Dava.


" Jangan banyak bergerak yah.." Peringat dokter. Dava melepaskan pelukannya dan mengangguk menatap dokter yang memperingatkan dirinya


Dwi diam menggigit dalam mulutnya. Disya diberi bius saat menjahit tapi tetap saja akan sakit. tapi lihat, dia malah akan tetap diam saja seakan akan ini bukan apa apa.


Dwi segera keluar dari kamarnya sekarang untuk menenangkan diri. Sedangkan Dokter masih disana membantu Disya dan Dava.


Disya dikakinya dijahit empat jahitan, lalu bagian punggungnya tidak dijahit karena memang itu terkoyak, tapi tidak bisa terkena air. Jika tidak akan terasa sangat pedih, Dwi menggigit pelan tangannya dan menangis pelan. Dwi tidak tega melihat nya.

__ADS_1


__ADS_2