
Disya tersneyum miring melihat Hana yang bungkam dan takut padanya. Disya mengusap rambutnya kebelakang membuat wajahnya terlihat semua sesaat. Rambut pendek disya kembali balik seperti semula, meksi rambut pendek Disya masih terlihat cantik dan luar biasa menawan.
Ibu Hana melihat anaknya tidak menjawab menatap Disya nyalang.” Ini memang karena dia pak. Dia yang memukul dan membully anak saya. Beberapa siswa dan sisiwi di sini ada yang merekam kejadian tersebut kata anak saya. Bapak Tanya saja dengan anak anak lain. Pasti akan mengaku jika dia benar benar pelaku pembullyan dari anak saya..!” tegas snag ibu menggebu gebu-gebu.
Kepala sekolah yang dibentak pun memberi isyarat kepada si ibu Hana untuk tenang. Ibu Hana ini salah stau ibu gllamor yang menggunakan barang barang berkilau seperti emas, bajunya pun berwarna merah cerah dan konde yang bertusuk emas. Ciri khas orang kaya baru, “ ibu tenang dulu yah. kita selidiki terlebih dahulu.,” tenang kepala sekolah kepada ibu Hana pelan.
Ibu Hana berdehem menenangkan diri. Nafasnya nak turun membuat kebaya yang ia kenakan ikut naik turun karena sangat sempit. Kepala skeolah kembali bertanya kepada Hana.” Benar nak Hana apa yang dikatakan oleh ibummu nak???'’ Tanya nya lagi dengan tenang. Hana menunduk tidak berani mendongak.
“ ndok kamu jawab saja jujur. Tidak usah takut biar kita masukin penjara sekalian ini perempuan. Wong berandalan kok masuk sekolah swasta elit. Mending dia di masukin ke jeruji besi saja.” Tegas ibunya sewot dan mata yang memutar sinis pada Disya.,
Disya melihatnya hanya diam saja tak menjawab dengan tatapan datar andalannya. Kepala skeolah menghela nafas.” ibu tenang dulu. Kita Tanya sama anaknya ibu, anak ibu ini diam saja. Kenapa Hana? Kamu terrtekan? Kamu takut sama Disya?” Tanya kepala sekolah kepada Hana.
Ayah Hana hanya diam menatap Disya tajam tapi Disya tidak gentar. Dia masih tetap diam tak takut. bahkan Disya memberi smirk miliknya kepada ayahnya Hana. Ayah Hana disana mendesis meliuhat disya.
“ HANA JAWAB JANGAN DIAM SAJA.” Teriak ibunya geregetan kepada anaknya.” kamu ndka usha takut sama dia. Jika dia masuk penjara nanti dia tidak akan ganggu kamu. Sekarang kamu jawab dulu.,” jelas ibunya mengguncang bahu Hana.
Hana mengangguk pelan sembari memejamkan mata. Berharap jika ini bukan pilihan yang salah.” Iya pak. Disya yang bully dan memukul saya berkali kali, dia juga yang melakukan kekerasan fisik dan batin saya pak.” Jelas Hana menatap Disya tajam dan nanar. tangan Hana meremas kuat sofa yang di di dekat tangannya. Tapi Disya malah meliriknya tersenyum tipis sembari mengangguk.
__ADS_1
“ tuh kan pak. Memang anak kurang ajar ini yang buat anak saya babak belur.” Pekik si ibu kepada kepala sekolah hampir berteriak kesal.
Kepala skeolah melirik Disya yang terlihat tenang.” Benar itu nak disya yang dikatakan Hana?” tanyanya kepada Disya yang diam saja tak menjawab atrau menentang.
Disya melirik kepala sekolah.” Kemarin dia jatuh di depan saya. Bukan saya membullynya.” Jelas disya polos dan juga tenang.
Kepala sekolah mengerjab bingung harus melakukan apa apa.” Pak anak saya sudah mengaku pak kenapa bapak susa percaya? Anak saya ini jujur dan tidak suka berbohong. Anak kebanggaan saya beda sama dia anak yang mungkin tidak punya orang tua mangkanya bertindak hal diluar nalar. “ tegas dari ibu Hana melirik disya sinis.
Disya mendengarnya menatap ibu Hana rumit, tidak punya orang tua yah?. Ibu Hana ditatap begitu seidkit gugup.” Apa kamu tatap begitu? Saya ndak takut yah sama kamu. Kamu tidak usah sok mengancam saya umur saya bau kencur.” Tekannya kepada Disya,.
Kepala sekolah mengangguk.” Saya akan memberikan hukuman kepada disya sepantas yang dia dapatkan pak. Tapi dengan bukti dan benar nya Disya melakukan hal tersebut.“ jelas kepala sekolah tegas.
" Tapi pak saya dia sudah terbukti melakukan pembulyyan terhadap anak gadis saya. " Jelas
Disya melirik kepala skeolah datar.” Tidak bisa begitu. Kalian tidak ada bukti jika itu ulah saya.” Jelas Disya dengan tegas.
“ kamu masih nanya bukti sedangkan bukti nyawa sudah ada di depan mata kamu ha?” Tanya ayah Hana tegas kepada Disya. “ muka anak saya babak belur seperti ini. bahkan kepalanya juga harus dijahit asal kamu tahu dan kamu masih bertanya mana buktinya?” tanyanya kepada Disya lagi tegas.
__ADS_1
Disya mengangguk.” Bisa jadikan itu luka yang dibuat sendiri bukan dari saya?” Tanya Disya pelan dan tersenyum miring.” Kan sudah saya bilang jika dia yang jatuh di depan saya dan memegang kaki saya.. kasih saya satu bukti lain jika itu memang ulah saya maka saya siap menerima hukuman yang akan diberikan kepada saya.” Jelas disya pelan lagi.
Bu hana ingin sekali mencakar wajahnya Disya yang sudahh membuat anaknya begini. “ yaallah jika kamu bukan anak orang sudah saya masukan kamu kekolam piranha yah. sudah melukai anak saya tidak juga mau mengaku. Kami lapor juga kamu kepolisi agar kamu tau rasa yah.” tegasnya lagi kepada disya nyaring.
Disya mengangguk.” Lapor saja saya tidak takut.” jelas disya tersenyum tipis. Tapi senyumnya Disya tidak geratis untuk orang orang yang tidak berguna. “ bagaimana jika panggil orang tua Disya juga untuk menyelesaikan masalah ini pak?” Tanya ayah Hana lagi kepada kepala sekolah.
Kepala sekolah semkain gelagapan. Ayah disya mana mau membuat Disya bersalah, akan semakin runyam ini masalahnya kelak.
“ bagaimana jika dimulai dari bukti. Kita akan mencari bukti terlebih dahulu. Jika Disya memang benar nbenar bersalah kita akan memanggil ayahnya kesini.” Jelas kepala sekolah dnegan pilihannya tegas kepada kedua orang tua Hana.
Mereka mengangguk.” Pasti dari murid lain memvideokan kejadian itu dan katanya disana ada banyak murid melihat kejadian. Coba bapak Tanya sama murid lain untuk menjadi saksi dan bukti,” jelas sang ayah hana tenang.
Kepala sekolah mengangguk.” Baik saya akan umumkan kepada anak anak. Mari kita ke mimbar pengumuman dan memanggil anak anak yang mungkin punya video bukti dan saksi kejadian itu.,” jelas kepala sekolah.
Ibu dan ayahnya hana mengangguk.” Baik jika kamu terbukti bersalah habis kamu ditangan saya.” Jelas ayahnya Hana menekan kepada Disya. Disya mendengarnya malah mengangkat bahu acuh dan melirik Hana yang diam saja. Tapi diam diam Hana menyimpan senyum miring. Disya tahu dan paham akan hal itu, sebab dia sering melakukanya. Disya melangkah tak jauh dari Hana, berselang sesaat disya sudha di sebelah Hana.
Disya tersneyum miring. “ Wellcome to my hell Hana,,” bisiknya tersneyum miring. Hana menegang mendapatkan bisikan tersebut dari Disya. Dan Disya membasahi bibir bawahnya menatap Hana mengerikan.
__ADS_1