Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Bertemu


__ADS_3

Gibran sudah menghubungi pesuruhnya. Orang yang mengawasi Caisar beberapa hari ini, ia pun bergegas menuju lokasi Caisar saat ini bersmaa Karen. Keduanya tak banyak terlibat dalam pembicaraan. Kalian bertanya kenapa tuannya ini tidak bekerja? Tentu saja bekerja tetapi karena dia skaiyt jadi yah begini sikapnya.


Berselang satu jam mobil sampai disitu rumah sakit. Karen mengernyit melihat rumah sakit didepannya.”Apa dia bekerja dirumah sakit? Siapa yang sakit Gibran?”Tanyanya pelan pada tangan kananya.


Gibran mnatap tuannya.” Caisar sedang disini tuan dikarenakan adiknya yang sakit. Lebih baik tuan masuk saja dulu dan lihat.”Ujarnya membantunya turun. Karen mengernyit tapi ikut saja. Ia pun dibawa oleh Karen menuju kedalam dan menyuruh para penjaga berpencar saja. Menjaga dari jarak jauh menyisahkan dua penjaga dna dirinya didekatnya saja. Mereka melewati beberapa jalan dan lift sampai pada lantai tiga rumah sakit itu,. mereka kembali berjalan dilorong dan tak jauh dari sana mereka melihat tiga orang yang duduk diatas kursi tunggu didepan kamar rumah sakit, lalu ada juga beberapa orang disekitar tapi itu dikamar lain. Mereka juga tak peduli yang lain.


Sampai tak berjarak mereka mendengar semua percakapan dari wanita yang memiliki banyak luka lebam disekitar wajahnya, serta baju kebesaran. Tatapan tajam dan dingin, lalu da sosok lelaki yang mendengar dengan saksama, wajah penuh ketulusan dan lembut itu yah itu lelaki yang membantunya, lalu satu yang terlihat emmm cantik, manis bersamaan, tingginya juga lebih tinggi dari gadis disampingnya itu. apa itu adiknya Caisar?


Semua percakapan mereka terdengar jelas oleh Karen dan Gibran. Karen disana terlihat menyeringai pelan.”Tuan apa yang kau pikirkan? Tolong singkirkan pikiran kotor anda. Ingat dia itu yang membantu anda untuk tetap hidup. Jika tidak an----“ Ucapanya terhenti karena tuannya menyumpal mulutnya dengan sapu tangan beka singusnya. Ia melotot merasakan asin dibibirnya.. “ughhgsjksgs sialan..” Ia melepaskannya menatap tuanya tajam.


Tuanya memutar bola mata malas.. ‘''Kau sangat berisik..” Gumamnya disana pelan lalu melajukan kursi rodanya menuju sang empu disana. tatapan yang penuh wibawah dna tubuh yang sangat tegap... jika boleh jujur ia cukup kagum dengan gadis dismaping Caisar yang mengajar Caisar akan kejahatan.. emm hanya kagum ingat dia bukan pedofil.


Puk..puyk..puk...


“ Kau benar, dunia itu sangat kejam nona.. ku pikir kau tau banyak tentang dunia atas..!!”


Caisar. Disya dan Cessy melirik asal suara. Disana ada satu lelaki paru baya yang tak lain adalah Karen yang duduk diatas kursi roda dan didorong oleh seorang berbaju jas. Karen itu tersenyum miring pada Disya.


Disya disana menatapnya dengan tatapan kaget, namun memilih diam menatap apa yang ia inginkan.


Tatapan karen itu jatuh pada Caisar yang diam menatapnya, Cessy yang juga disampingnya Caisar. Ia cukup kaget melihat mereka, mereka semua cukup tampan dan cantik-cantik.”Hallooo. kau masih ingat denganku nak?”Tanya Karen kepada Caisar.

__ADS_1


Caisar mengernyitkan keningnya sembari memeluk dokumen ditangannya. Ia disana mengingat siapa orang didepanya lalu tatapannya terjatuh pada orang yang mendorong paru baya itu. rasanya ia tak ingat sama sekali dengan mereka. Apa mereka saling kenal? “Maaf pak, saya tidak ingat. Bisakah kalian memberi tahuku siapa kalian?”Tanyanya sopan dan pelan.


Karen baya itu terkekeh pelan. “Pertanyaannya sangat sopan nak.”Bisiknya. Caisar diam menatapnya heran.” Aku orang tua yang kau bantu disaat dijalanan diwaktu malam itu. kau membantuku karena dikeroyok oleh puluhan para pembunuh bayaran itu. Maafkan aku baru bisa mengatakan ucapan terimakasih., itu karena aku harus mengalami perawatan yang intensif cukup lama.” Ujarnya jujur.


Caisar disana membuka mulutnya bulat.”Ohhh yang hampir mati itu yah.. saya kira anda sudah mati pak soalnya kemarin bapak kena tulukan atau tembakan yah.”Ia mengetuk dokumen ditangannya mengingat hal itu. ia ingat bagaimana mengenaskan orang yang ia tolong dimalam itu, sampai beberapa orang dan membantunya masuk mobil Caisar ditinggal dengan luka parah dibagian lengannya.


Karen terdiam dengan diam menatap Caisar, alisnya terlihat menatap pemuda yang membantu dirinya dimalam itu. “ Kau menyampaikan mati?”Tanyanya hampir berbisik namun penuh penekanan.


Caisar Menggeleng pelan.” Aku bertanya bukan mengatakan.. lagi pula kenapa tersinggung jika kamu masih tetap hidup.—“


" Tinggal jawab masih hidup saja susah.” Ketusnya Disya pelan melihat orang didepannya ia memotong ucapan Caisar karena tidak suka melihat pangerannya disudutkan.


Pria paru baya menatap Disya dengan tatapan menyeringai. Ia menatap Caisar yang dia menatapnya.


Caisar menggeleng.”Itu hanya luka lama, bulan yang lalu dan sudah kering.”Ia menunjukan bekas luka yang ditangannya.


Cessy menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena kaget. Ia kaget melihat luka yang cukup panjang dilengan kakaknya, itu juga terlihat sangat dalam.”Kakak... ini-ini kenapa bisa?”Tanyanya lirih. Ia baru tau dilengan dalam kakaknya luka begini besarnya.


Caisar disana menggeleng.”Ini biasa kok. Kamu tenang saja.. lagi pula ini sudah diobati oleh Disya dan teman kakak.”Ujarnya,


Cessy disana menatap kakaknya tidak suka." Lalu apa gunanya Cessy kalo kakak nggak mau minta bantuan Cessy?”tanyanya lirih.

__ADS_1


Karen disana terlihat menghela nafas kasar karena dikacangi oleh mereka disana.. Cessy disana menatap Karen dalam.


Caisar dan Disya ikut menatap Karen dengan tatapan tanda Tanya.” Lalu apa mau mu kesini?”tanyanya Disya dengan pelan penuh penekanan. Ia tau jika lelaki didepanya ini memiliki aura yang kurang baik yang ditutupi dengan wajah ramah tama busuk miliknya. Disya orang jahat mana mungkin dia mudah dikecoh lawan.


Karen disana tersenyum lembut.” Aku keisni untuk berterimakaish kepada pemuda yang telah membantuku diwaktu itu. andai dia tidak ada sudah pasti aku ke neraka saat ini.. akhh aku harus tau balas budi bukan?”Ia menatap Disya dnegan denyum lembut dan ramah miliknya. Gadis yang ia anggap menarik dan ia cukup Kagumi karena pemikirannya yang besar diusia kecilnya.


Caisar disana menatapnya dengan diam. Disya disana mendengus,.”Tak Usah basa basi. Gerik tubuhmu sudah memberitahuku jika ada maksud lain yang kau mau. Katakana aku tidak suka basa-basi-busuk milikmu. Sampah.” Disya bercetus kasar kepada Karen tanpa sopan santun.


“Sasa.”Bisik Cisar menahan Disya. Caisar menatap Karen dengan merasa bersalah.”Aduh maaf tuan. Sasa memang bicara sedikit kasar tetapi orangnya aslinya baik kok hehe.. maafkan sekali lagi,” Disya menolak diucapkan begitu ingin angkat bcara lagi tapi tangannya ditahan oleh Caisar ia memilih bungkam menatap Karen tajam dan tak suka.


Karen disana tersenyum tipis mendengar Disya, disya ternyata sangat peka yah? lalu Caisar yang naïf? Kenapa dirinya mudah ditebak oleh Disya?? Notabenenya gadis kecil? “Iya tidak apa. Bukankah anak muda memang memiliki emosi yang kurang setabil. Itu hal yang bisa diusia kalian saat ini,.” Jawabnya dengan tenang,.


Caisar disana mengangguk.”Tuan apa kabar??” Tanyanya sopan. Karen tersenyum ingin menjawab tapi dicela oleh Disya.


” Pangeran tidak usaha baik dengan orang asing.. Tidak usah basa basi busuk...“ Ia menahan Pangeran bicara. Entah kenapa Ia merasa Karen sedikit tidak baik dan tidak bisa dipercaya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2