
terimakasih yang sudah memberikan jejak...ππ
β kenapa papa???βTanya Disya kepada Alam lembut. Tapi siapa yang mendengar suaranya merinding. Amor meletakkan anak dipelukan nya menatap Disya nanar.
β kamu membunuh anak saya??? Kamu MEMBUNUH SEMUA NYA?? IBLIS KAMU..!!!β Teriak amor pada Disya. Tangan telunjuknya bahkan menunjuk Disya dengan menantang.
Disya mengangguk. β Yah yah. saya suka panggilan itu. panggil saya Iblis.β Ujar Disya terkikik di hadapan Amor.
β Manusia sampah manusia sampah. Kalian pikir bisa bebas dari gue dengan gampang?β Tanya Disya dengan pelan.
Disya menggeleng pelan kepada mereka..β nggak akan.. β jelasnya tegas di akhir kata katanya.
β bajingan..!β Teriak Alam kepada Disya. β mengapa kamu membunuh anak anak saya ha?!!β Teriak Alam kepada Disya di tengah keterkejutan dari faktanya.
β Harusnya kamu mati saja dengan mama mu..!!β teriak nya lagi pada Disya,.
β harusnya yah?β tanya Disya tersenyum miring.β Tapi nyatanya mama ditemani sama anak anak kalian. Bukannya impas yah?? kalian hidup bahagia berdua dihadapan mama. Bukannya papa dulu minta buat bahagia berdua bukan sama anak anak? Disya Cuma nurutin kehendak papa sama mama. Dan Kita sudah impas, mama mati karena kalian, dan anak kalian mati karena Disya.β Jelas Disya menjauh dengan kemenangan.
Disya menghela nafas pelan di sana. Lalu menggeser pelan. Plas... suara guci dilempar di kepala Disya terdengar nyaring. Disya diam merasa pening dikepalannya, Basar karena darah mulai mengalir dikepalannya.
Disya terkekeh melihat Amore yang melemparkan dirinya guci besar. Alam dan Jef tersentak melihatnya.β Dasar iblis. Mati saja kau..!!!β teriaknya kuat di hadapan Disya.
Disya memegang kepalanya yang terasa perih. Wah berdarah. Disya menatapnya dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Plas.
Semua orang kaget saat besi kecil dari saku Disya keluar membesar dan memanjang. Amor menatap disya kaget saat benda itu ditangan Disya. Disya mendekati Amor langkah lebar tanpa kata segera memukul tepat di kepala Amor kuat. Amor terpekik nyaring merasakan sakit di kepalanya, bahkan di pipinya tercetak luka cukup dalam. Disya menatap meja kaca didepannya. Dan menarik rambut Amor tak berperasaan.
Alam dan Jef mundur menatap kaget keduanya. Amor terpekik saat Disya tanpa ampun menjedotkan kepalanya di meja kaca hingga meja itu pecah saking kuatnya dan kepala amor berdarah.
" Disya berhenti..." Alam hanya bisa berteriak tidak berani mendekat melihat apa yang Disya perbuat.
Amor terpekik merasakan kesakitan menyelinap di kepalanya, kaca menjauh keningnya, Disya tak sampai disana., masih menjedotkan kepala amor di kayu kursi hingga kepada amor berdarah.
β awalnya saya nggak mau bunuh kamu. Tapi kamu udah buat iblisnya murkah. Jadi mati saja nggak cukup sama iblis ini.β jelas Disya terkekeh.
β Disya udah Disya. Lepas..!!β teriak Alam menarik tangan Disya. Disya menjauh menghempaskan tangan Alam. Reflek Disya melecut tangan Alam kuat menggunakan besi panjang di tangannya.
__ADS_1
β kan saya udah bilang. Jangan sentuh saya,,!!" tekan Disya dengan dingin. Alam meringis merasa perih di tangannya. Disya menatap Amor dan seluruh disana dingin.
Anak yang mereka bawa tadi sudah menangis dan bersembunyi dibelakang kursi. Disya menghela nafas pelan sebab darah sudah mencuar dibaju depannya. Disya mengusap darah yang menetes di area matanya. β Kalian angkat semua pakaian kalian dari sini. Soalnya saya tidak mau melihat ada kotoran di rumah ibu saja.β Jelas Disya sebelum mundur. Ia memberi pukulan talak lagi menggunakan besi ditangannya di Amor yang sudah berdarah dan tak berdaya di bawah.
Tak berperasaan Disya menendang kepalanya Amor kuat sampai kaca terselip di pelipisnya pecah. Baru disya pergi meninggalkan mereka disana kacau. Jef menatap adiknya menjauh nanar dan juga sedih. β Disya..β gumamnya lirih.
sedangkan Amor sudah tak sadarkan diri dan Alam ikut jatuh pingsan melihat keadaan Amore dan kenyataan.
...----------------...
Disya melangkah menuju mobilnya. Dengan kecepatan besar dirinya mengemudi mobil. Brak. Suara keras menghantam pagar karena ia tabrak paksa saat beberapa scurity telat membuka pintu gerbang. Disya menghela nafas pelan masih fokus di jalanan meksipun kepalanya penuh darah.
Disya mengepalkan tanganya dan memejamkan matanya sejenak.
Disya menghentikan laju mobilnya di depan rumah Dwi,
Brak... ia kembali menabrak patung di sana karena matanya yang sudah memburam.
" Apa Itu??" Tanya Fadly kaget, Dari dalam Fardan. Dwi dan Caisar beserta yang lain mendnegar suara tabrakan keras segera keluar. Saat keluar mereka melihat beberapa scurity dan yang lain sedang membantu Disya keluar dari mobil.
Disya membuka matanya pelan menatap Caisar samar samar mendekatinya. Disya tersenyum lebar.β Pangeran Disya pengen peluk.β Ujar Disya meneteskan air mata sebelum dirinya jatuh pingsan.
Caisar segera mengendong Disya kepelukannya. Dengan nanar Caisar menatap orang di sekitar.β Bawa ke dalam saja. Mumpung dokter Farel masih ada. Disana kan lengkap.β Ujar Fardan nanar.β papa takut Disya kehabisan darah kalo ke rumah sakit soalnya rumah sakit dari sini satunjam.β Lanjutnya lagi.
Disya berdehem berlari masuk memeluk Disya. Caisar menarik napas pelan memasuki kamar asal untuk Disya,. Disusul dokter yang dipanggil Fardan untuk menangani Disya.
Dokter buru buru mendekati disya dan memeriksa ke adaan Disya. Karena memang jadwal rutin dirinya setiap malam itu memeriksa Farel. Setiap pagi dan malam.
Caisar menatap Disya nanar, tapi air matanya jatuh, kepala Disya sudah banyak darah. Hampir sebagian kepala disya berdarah dan baju bagian atasnya juga penuh warna merah. β kamu yang sabar yah Kai. Disya pasti baik baik aja.β Ujar Fardan. Tapi seakan tuli Caisar hanya diam saja melihat Disya yang diperiksa dan juga diobati oleh dokter.
β Sepertinya pasien mengalami pukulan cukup kuat menggunakan benda tajam sehingga beberapa masuk ke dalam kepalanya. Bisa kah saya memotong rambutnya pendek untuk membersihkan atau memeriksa lebih detil?, kami harus melakukan oprasi kecil untuk hal ini, Dan bisa panggilkan dua perawat lain di ruang Farel untuk membantu saya?β Tanya dokter. Caisar mengangguk cepat di sana kepada dokter.
Fardan menginstruksikan orang untuk memanggil perawat di dalam kamar Farel untuk ke sini. Dava yang melihat dari balik pintu pun menatap Disya khawatir. β bapak ibu silahkan keluar agar kami menangani. Pasien tidak apa apa. Biar kami yang bekerja.β Jelas dokter tegas.
Fardan menarik tangan Caisar untuk keluar. Caisar segera keluar meski berat. Diam menunggu disya yang di dalam. Caisar seakan tuli mendengar arahan Fardan ataupun Dwi.
__ADS_1
β Papa kak Disya nggak apa apa kan?β Tanya cleo menatap Fardan sendu.
Caisar memalingkan wajahnya, sebab air mata yang terus menetes. Fardan tersenyum kepada Cleo.β Doakan kak Disya baik baik aja yah.β jelasnya pelan.
Cleo mengangguk menatap Caisar yang menangis. Pelan Cleo mendekati kakaknya dan memeluk Caisar. Caisar yang dipeluk pecah tangisnya. Tangis Caisar terdengar lirih dan sakit seakan yang dirinya pendam sejak tadi keluar pecah. Caisar sangat takut kehilangan. Caisar takut mendengar kecelakaan sebagainya.
Apalagi Disya salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Caisra belum pernah mengatakan jika dirinya sudha jatuh cinta pada Disya kan?? padahal sejak lama dirinya sudah jatuh hati bahkan sangat dalam.
Dokter keluar dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Caisar menggendong Cleo mendektai dokter. Dokter tersenyum sendu.β Alhamdulillah. Pasien sudah selesai ditangani, kami harus melakukan oprasi kecil kecilan untuk memastikan di kepala pasien tidak ada tersisa serpihan kaca atau tidak, dan saat pemeriksaan dan pembersihan insyallah tidak ada. Hanya saja lukanya cukup besar. Kami harus menjahit luka tersebut sebanyak sepuluh lapisan dalam dan sepuluh lapisan luar. β jelasnya.
β pasien pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah dikepalanya. Tapi bapak ibu tidak perlu terlalu khawatir sebab mungkin sebentar lagi pasien akan sadar. Syukurlah bapak ibu tidak terlambat dalam penanganan.β Ujar dokter lagi penuh ketenangan.
Caisar mengangguk.β Kami boleh masuk dokter?β Tanya Caisar.
Dokter mengangguk.β Boleh tapi jangan membuat pasien terganggu yah. Dan untuk anak kecil di sarankan untuk diluar saja agar tidak pusing mencium bau obat dan lain lain.β Jelasnya.
Cleo segera turun dari pelukan Caisar dan menentang tangannya pada Dwi. Dwi menyambutnya cepat. Caisar segera masuk meninggalkan mereka.
Fardan menatap dokter yang berdiri di sana.β Baik untuk obat mari ikut saya pak. Bapak dan ibu bisa menebusnya di apotik terdekat.β Jelasnya. Dwi dan fardan mengangguk segera mengikuti dokter untuk meminta resep. Dokter ini adalah dokter yang dukirim langsung oleh Faren. Dokter terbaik di Indonesia jadi jangan khawatir.
Di dalam kamar Caisar menghela nafas pelan menatap Disya yang tertidur nyenyak dalam keadaan kepalanya yang sudah dibotaki semua. Sebab tidak enak melihat jika dibotak hanya sebagian. Caisar menghela nafas pelan. mencium tangan Disya dan memejamkan matanya. air matanya terus ingin jatuh karena rasa cemas dan takut terus mengikutinya.
Sampai tangan yang ia cium bergerak. Caisar menatap Disya yang rupanya sudah bangun. Caisar segera menatap Disya nanar.β disya?? Kamu mau minum?? Sakit?? dimana?β Tanya Caisar bergetar.
Disya membuka matanya menatap Caisar di sebelahnya tersenyum lebar.β Pangeran.β Ujar Disya bergetar. Caisar mengangguk menaruh tangan disya di pipinya. Disya tersenyum sendu.
Caisar melepaskan tangan Disya pelan, segera memngambil minum dan mendekati disya.β Kamu minum dulu yah.β ujar caisar. Disya mengangguk saat caisar membantunya untuk minum.
Caisar menaruh botol mineral di sebelah nakas Disya. Dan duduk di sebelah disya lagi. disya menatap caisar yang menangis disebelahnya.β Kenapa pangeran menangis?? Siapa yang buat pangeran nangis?β Tanya Disya bingung dan polos.
β kamu..β Caisar menangis lagi lebih terisak dihadapan Disya. Disya menatap Caisar polos dan kaget. Caisar mencium tangan Disya β kenapa bisa luka kayak gini? Kamu mau bikin aku jantungan ha?? Datang datang dalam ke adaan yang mengerihkan? Disya kamu jangan gini. Jantung aku rasa mau copot tau.β Jelas caisar mencerca.
Disya mendengarnya terkekeh pelan, tapi matanya sudah berkaca kaca siap menurunkan hujannya.β Jadi karena pangeran khawatir sama Sasa?β Tanya Disya terkekeh menjatuhkan air matanya.
Caisar menatap Disya tidak suka.β kamu ngomong apa sih sah? Pasti khawatir lahh.β Jelas Caisar tegas.
__ADS_1
Disya terdiam sejenak menjatuhkan air matanya.β soalnya Disya pikir pangeran tidak cinta sama Disya.β Gumamnya nanar.