
“ papa kok lama banget sih?” Alice menarik tangan Cessy mendekatinya, menatap ayahnya kesal.
Bram mentap anaknya kikuk dan tersenyum.” Tadi papa ngancem kamu yah?” Tanya Alice kepada Cessy memajukan bibirnya kesal. Ia terlihat lebih imut dan menggemaskan.
Cessy terkekeh pelan.” enggak kok. Tadi kita ngobrol sedikit dan papa kamu nyuruh jagain kamu biar kamu tidak nakal.” Jelas Cessy pelan.
Alice melirik Bram tajam.” beneran? Kamu tidak usah sembunyikan dari aku. Aku bisa pukul papa kalo dia macem macem.” Jelas nya tegas kepada Cessy,. Cessy terkekeh pelan melirik Bram yang agak kesal mendengarnya anaknya malah melindungi Cessy ketimbang ayahnya sendiri.
“ yausdah sbenetar lagi kita akan masuk, sudah jam 7: 20 sekarang. “ jelas Cessy menatap Bram dan Alea ramah.” Kami masuk dulu yah ibu, pak. Permisi.” Jelasnya Cessy sopan.
Alice melambaikan tangan sembar merangkul tangan Cessy.” Dada papa mama..?” alice segera mengikuti langkah Cessy.,
Bram dan Allea tersenyum lebar melihat anaknya yang terlihat hidup.” Kata Morgan anak kita sukanya sama kakaknya bukan sama dia. Tapi kenapa kelihatannya anak kita sudah suka Morgannya yah? dan sejak kapan Morgan punya kakak laki-laki? Morgan menipu kita agar anak kita tidak menyukainya, bagaimana ini anak kita ditolak ?” Tanya Bram pada alea.
Alea mengangkat bahu pelan.” yah paksa saja. “ jelas Alea. Bram tersenyum miring benar juga. Jika bisa dipaksa kenapa mau susah susah berfikir kan???
...----------------...
Willy diam mendekati mejanya, menatap tajam Alice yang duduk d sebela Cessy.” Woy. Ini kursi gue, lagian loe ngapain sekolah dan sekelas sama kita?” Tanya Willy mendelik menatap Alice yang duduk anteng dengan Cessy yang membaca buku di sebelahnya.
Alice menatap Willy dan tercengir.” Alice akan sekolah sama kalian, kan kita teman.” Jelas Alice lucu.
Willy menatapnya kesal, bukannya lucu dia malah terlihat mengesalkan dimatanya. “ ini kursi gue, sana loe duduk dibelakang.” Ia menujuk kursi belakang.
Alice menatapnya tak suka.” alice mau sama Morgan.” Jelasnya tegas.
“ mana boleh,. Gue sama morgan, loe anak baru duduk di belakang kursi kosong.” Jelas willy melotot menjadi tatapan anak kelasnya.
Alice melirik Cessy memelas.” Momo, lihat temen Momo tidak mau mengalah sama Alice.” Jelasnya dengan memelas.
Cessy menghela nafas pelan melirik Willy yang berdiri menatap Cessy kesal dan melotot.” Ini kursi dia jadi aku nggak bisa ngatur dia,.” Jelas Cessy mendapat cibiran willy. Dan tatapan Cessy menfarah pada alice.” Dan Will, kali ini ngalah yah. loe duduk di belakang aja .” tegas Cessy.
Willy hendak menolak, tatapan Alice menatap willy mencibir. Dengan lidah yang ia julurkan mengejek. Willy mengepalkan tangan merasa kesal Cessy memilih Alice ketimbang dirinya. Cessy menahan tangan willy yang terkepal. “ Sorry Wil. Jangan marah lah.” Jelas Cessy,
“ au akh kesel gue sama loe.” Jelas Willy mengambil kursi di belakang Cessy.
Cessy menghela nafas pelan melihat Willy yang terlihat marah padanya. “ Gue masakin deh buat loe dua hari berturut turut mau?” Tanya Cessy membujuk. Jiwa wanita cessy tidak bisa hilang. Tidak bisa ia dijauhi dan di diami begitu. Willy nelirik Cessy dengan lirikan minat. Cessy berdehem pelan.” lima hari deh gue buatin sarapan.” Jelas Cessy lagi.
__ADS_1
“ seminggu.” Jelas Willy pelan.
“ diel yah seminggu.” Ujar Cessy kepadanya.
Willy tersenyum lebar.” Diel.” Keduanya terkekeh pelan
. Alice melirik Cessy dengan tatapan memelas.” Lia juga mau dong dimasakin sama Momo.” Ujarnya.
“ loe irian banget sih perasaan, kan ini buat gue bukan buat loe. Apa apa mau.” Jelas willy marah para alice. Emosinya meninggi.
Alice mendengarnya menunduk, meremaskan tangannya nanar. Cessy melihatnya menggelap nanar.
bugh. Semua orang kaget saat kepala willy dipukul oleh Alice kuat secara tiba-tiba. Willy bahkan terkaget menatap alice memukulnya kuat.” Itu buat yang udah bikin Lia marah.” Tegasnya lalu menatap kedepan dingin. Willy shok dengan tangan terkepal. Ingin rasanya dirinya balas, tapi jika ia balas nanti bukankah dirinya yang akan disalahkan? Secara dirinya laki lak. Cessy melirik Willy meringiis pelan. Mengambil plaster di dalam sakunya. Segera ia letakkan di telapak tangan willy. “nih wil.. berdarah.” Ujar Cessy pelan menunjuk sudut bibir Willy.
Willy memainkan sudut bibirnya menggunkan lidahnya.” Sibal. sialan” Gumamnya pelan melirik alice yang sudah anteng menatap kedepan baik mulai sekarang ia akan mengibarkan bendera permusuhan dengan Alice. Tidak akan ia mau baik dengan perempuan satu ini. tatapan willy melirik handiplas di tangannya yang diberi oleh Morgan. Tersenyumlah tipis, dan segera ia menyolet tangan Cessy.
Cessy menatapnya heran.” Pasangin dong. Gue nggak tau caranya.” Jelas Willy memelas.
Melirik Alice yang masih melirik mereka dnegan ekor matanya. “ pakek itu aja nggak bisa. manja.” Cibir alice kedepan tanpa melirik orangnya. Terlihat sangat julit.
Sedangkan Cessy mengambil tysu basah dan membersihkan darah yang keluar.’ Obatin dulu aja.” Ujar Cessy.
Cessy berdehem pelan, membersihkannya darah willy telaten. Willy tidak mengalihkan tatapannya pada Cessy. Tangan nya sangat lembut dan lentik seperti perempuan.
Bisa bisanya Willy merasa jika Morgan yang ia kenal ini seperti perempuan dan ada perasaan menggebu gebu memikirkan Morgan adalah perempuannya.
Tap tap. Ia meringis pelan karena lukanya ditekan oleh Cessy. Cessy gelagapan.” Eh sorry tadi gue neken ini biar nempel gitu.” Ujar Cessy tak enak.,
Willy terkekeh pelan. “ nggak apa apa. Thanks yah.” ujarnya.
Cessy berdehem pelan mengusap pelan luka di bagian Sudut Willy. Willy diam merasa jantungnya berdenyut jauh lebih cepat. “ udah nggak kelihatan.” Cessy menatap kedepan dan willy memegang pelan jantungnya. Willy baik sepertinya nanti pulang sekolah ia harus ke dokter. Entah itu dokter jantung, dokter jiwa atau dokter psikiater. Dirinya sakit parah ini, pasti.,
Cessy melirik Alice yang diam saja menatap kedepan. Cessy menguap kepala Alice pelan membuat Alice menatapnya. Cessy menghela nafas pelan merasa menghadapi Cleo besar jika begini. Kan jadi rindu adik Cessy. “ kamu tidak boleh bersikap begitu sama teman.” Jelas Cessy tegas kepada Alice. Alice salah di matanya karena terlalu kasar.,
Alice menatap Cessy kesal.” Habisnya dia nyebelin, apa apa di sewotin. Kan Lia mintanya sama Morgan bukan sama dia.” Jelas Alice meremas pelan pena yang ia pegang.
Cessy menggeleng.” Tidak harus pukul orang Lia. Liakan perempuan harus bersikap lembut dan santun,. Kecuali jika orang cari masalah atau mukul kamu duluan baru kamu boleh. Kamu nggak kamu nggak boleh. Kan kalian temen. Temen itu bukan saling iri dan saling pukul. Tapi saling sayang dan saling rangkul./l” jelas Cessy tegas.
__ADS_1
Alice berdehem.” Lia nggak tau lah. Kan Lia tidak punya teman kecuali Morgan dan Willy.” Gumamnya memanas.
Cesys mendengarnya mengangguk.” Karena itu, kalo Lia berbuat baik dan murah senyum Lia pasti akan banyak teman. Apalagi Lia cantik dan menggemaskan.” Jelasnya tegas kepada Alice.
Alice mendengarnya melirik dan Cessy tercenung.” Jika kau kayak gini, kamu nggak akan punya teman. Willy juga tidak mau lagi berteman sama Lia. Willy akan benci Lia. Bahkan Momo juga nggak mau temenan sama Lia kalo begini.” Jelasnya kepada Alice tegas.
Alice melirik Cessy nanar. “ Momo nggak mau ajdi teman Lia lagi?” tanyanya hampir menangis.
Cessy mengangguk.” Tergantung. Kalo Lia tidak seperti itu lagi dan minta maaf sama Willy Momo mau. Tapi kalo enggak yah Momo nggak mau lah.” Jelas Cessy tegas.
Alice melirik Cessy nanar. melirik Willy yang diam menatapnya. Alice hampir menjatuhkan air matanya. Selama ini dirinya tidak punya teman, mana tau diri ya bagaimana memposisikan. teman dihidupnya. Sedangkan Willy tersenyum kemenangan saat tau Cessy lebih mendukung dan melindunginya. ia sangat menyukai situasi begini.
...----------------...
Semalam Disya tidka jadi menghampiri Malvin, sebab Caisar pulang lebih cepat dari dugaan. Mereka harus menunggu waktu tepat untuk melakukan rencana mereka.
“ Disya..!!! loe kemarin nggak apa apa kan?” Fadly dan Gerry mendekati Disya yang baru saja memasuki sekolah.
Disya melirik mereka dan berdehem pelan. “ menurut kalian gue gimana?” Tanya disya dingin.
Keduanya berdehem pelan,, “ BTW Caisar nggak sekolah lagi?” Tanya Gerry melarikan pembicaraan.
Salah besar mereka mengkhawatirkan disya memang. Disya mengangguk.” Yah, dia ada proyek baru yang gue denger di medan, jadi dia berangkat hari ini.” jelas Disya lagi mengangguk.
“ yaampun caisar sibuk banget yah sekarang.” jelas nya Gerry kasihan. disya berdehem lagi saja melirik Fadly yang diam saja.
“ DISYA ANJING..!!!!” Semua mata segera menatap siapa yang meneriaki nama disya. Bahkan Gerry dan Fadly disana menatap siapa yang berani mengatai nama Disya begitu kasar
Tatapan mereka bertemu dengan Hana yang berpakaian yang kusut dan juga tak terawat, mata bengkak dan juga menangis terisak mendekati disya., saat ingin memukul Disya baik Gerry maupun Fadly menahan dirinya.” Lepasn gue. anjing gue mau bunuh ini orang. dia bukan orang iblis sialan. Lepasin gue.” teriak Hana kepada Gery dan Fadly. Ia memberontak hingga tubuhnya tidak terkontrol di pegang oleh Fadly dan Gery.
Disya melihatnya menaiki satu alisnya berdehem pelan. “ ada apa sih Hana??” teriak Fadly kesal.
Fadly bukan orang yang sabar menghadapi orang loh, Hana menatap Disya nanar, Gerry bahkan terlepas kendali dan Hana terkepas menarik kera baju Disya kuat.” loe kan yang buat papa mama gue meninggal?” teriak Hana kuat.
Disya tersenyum miring mendnegarnya. Gerry, Fadly dan semua orang menatap Disya kaget dan melotot. Disya melakukan hal tersebut? Hana mengeratkan tanganya dan menatap disya tajam,.” loe yang buat mereka meninggal kan? loe nggak punya hati, anjing sialan. Loe yang harusnya mati bukan mama papa gue. loe sialan..!!!!” teriak Hana kuat hendak memukul Disya.
Disya disana memegang tangan Hana yang hendak memukulnya. Menghempasnya kuat dan menendang Hana kuat. Hana terpekik tubuhnya terpental. Disya menatap hana dengan sinis.” Datang nuduh orang tanpa bukti??? Loe mau apa lagi dari gue Hana?” Tanya Disya. Jika orang lain mendengar ucapan itu biasa, tapi beberapa orang mungkin merasa ada hal lain arti dari bahasa disya.
__ADS_1
Hana mengepalkan tangan kuat menatap Disya. Memegang perutnya yang terasa perih. Disya mendekatinya dan mengelilinginya. Sama seperti sebelumnya,m tidak ada yang berani mendekat dan membantu Hana, semua membantu, kali ini sama sekali tidak ada camera merekam. “kalo mama papa loe mati, harusnya loe datang dipemakaman mereka dong bukan sama gue. loe pikir gue malaikat nyaut pencabut nyawa?” Tanya disya lagi tenang kepada Hana.