Bukan Pangeran

Bukan Pangeran
Menyenangkan


__ADS_3

Disya diam menatap dava menyidik. Apa apaan ini, mau marah juga terlanjur. “ ayok kak kita ke satu tujuan.” Ujar Dava kepada Disya. Disya menghela nafas pelan mengangguk segera mengendarai mobil. Ia hanya bisa pasrah.


apa sih yang nggak buat adik ipar?


Memasuki jalanan yang cukup padat sampai ke jalan gang yang agak sempit, hanya muat satu mobil. Disya melirik dava yang menunjuk jalan yang ditujui. “ stop kak.” Ujar Dava di depan rumah sederhana. Disya diam menatap rumah di depannya, ada banyak anak anak yang sedang bermain di depan rumah. Terhitung lebih dari sebelas orang karena memang sedang bermain bola.


Disya menguikuti Dava yang keluar dari mobil. Menatap palang yang tertera jelas. “ Panti tadikamasya.” Panti? Artinya anak anak yang tidak punya bapak dan ibu kan??? Disya melirik Dava yang membuka bagasi tamnpa meminta bantuannya.


Segera Disya mendekatinya.” mau ngapain kamu ngeluarin itu barang?” tanyanya.


Dava disana tersenyum tipis dan membawa plastic plastic yang disana tanpa menjawab. Disya melihatnya segera membantu membawa dua plastic sekaligus, mengikutinya langkah dava dari belakang memasuki panti.” Kak DAVA?” Terik anak anak pada Dava yang datang, Dava tersenyum melambaiklan tangannya menaruh semua barang yang dibawah.


Mereka mengenal Dava artinya Dava sering main ke sini? lihat raut wajah mereka yang sumringah berlari mendekati Dava, meninggalkan bola mereka yang sudah kempes setengah. Apakah Dava sering donasi kesini?


“ wha kak Dava bawa apa?” Tanya salah satu anak kecil datang mendekati dava.


Dava menunjukan tas tas di dalam palstik.” Ini ada tas buat kalian sekolah. Ayo berbaris, ambil satu satu buat kalian.” Ujar nya tenang.


” Wah tas baru. Mau mau, tas Fasha sudah rusak dan tidak lagi bisa dijahit.’'Teriak anak anak. Anak anak mulai berebutan untuk berbaris paling depan sampai Disya sampai membawa plastic plastic tersisa. Disya menatap anak anak yang berebutan berbaris.


Disya menatap ada dua ibu ibu berjilbab keluar panti tersenyum lebar menatap Dava dan Disya,. Disya jadi kikuk sebab senyum itu sangat tulus. “ ini buat kamu.”


“ yey makasih kakak.” ujar anak anak pada Dava berbinar.


Dava melirik Disya yang diam saja tersenyum.” Ini dari kakak yang di sebelah kak Dava ini, namanya kak Disya. bilang terimakasih sama kak Disya, dia yang mau kasih kalian tas gratis dan juga buku pelajaran.” Jelas Dava membuat Disya mengalihkannya tatapan pada Dava dan anak anak.


Anak anak tersenyum menatap Disya. Ia maju dan menyalami tangan Disya yang menganggur,. Disya melebarkan mata kaget.” Terimakasih kakak tasnya. Fasa sangat bahagia.” ujar anak laki laki kurus menatapnya penuh kebahagiaan, terlihat jelas di wajah usang dan kusam.


Disya mendengarnya tergumam agak keluh bicara, pelan pelan ia mengangguk melirik Dava. Dava tersenyum kembali membagikan tas tas yang dibeli. Satu perstau maju dan mencium tangannya Disya. Disya dengan kikuk menerimanya.


Bahkan ada yang memeluk kaki Disya. Disya jadi kikuk tidak bisa bicara apa. Melihat wajah mereka yang begitu bahagia hanya karena tas tas yang sekira Disya harganya biasa saja itu sangat membuat dirinya tenang dan senang.


“ ini ada buku juga. Jadi kalian perorang hanya boleh ambil dua pak untuk masuk baru yah, dan untuk pena bagi bagi. Tadi kakak juga beli bola untuk kalian main. Bilang apa buat kak Disya?” Tanya Dava kepada anak anak.,


“ terimakasih kakak Disya.. kakak Disya baik deh.” Ujar mereka serentak pada disya.

__ADS_1


Baik yah?


Bahkan mereka sreentak memeluk disya. Disya mendapatkan pelukan di kakinya tersenyum tipis, mengangguk kaku. Dava melihat Disya yang terkaku kaku hanya tersenyum tulus.


Disya melihat senyum bahagia anak anak melepaskan pelukan tersenyum tipis. Mereka begitu murni, tidak terlihat sedikitpun cela dalam berucap dan bersyukur.


Disya jadi ikut bahagia melihatnya. “ kakak disya ini cewek yah? tapi kenbapa rambutnya botak?” salah satu anak perempuan berjilbab putih bertanya pada Disya polos.


Disya menggaruk tengkuknya pelan.” kemarin kakak dikepalanya luka jadi harus dibotakin biar kepala kakak cepat sembuh.” Ujar disya pelan.


“ oh pantesan ada bekas luka dibelakangnya. Pasti sakit banget yah kak?” Tanya anak laki laki menggunakan jersey putih kotor di depanya khawatir.


Disya mengangguk.” Tapi sekarang udah nggak kok. Sudah tidak sakit lagi.” jelas disya.


“ mangkanya lain kali hati hati kak. Ibu melin juga suka marah kalo kita lari lari dan mainnya tidka hati hati, katanya kalo luka itu sakit.” jelas anak lain pada disya. Disya terkekeh mendengarnya. Dirinya dinasehati oleh anak anak?? Ini lucu sekali baginya.


Mereka sangat polos.


“ tapi meskipun kepala kakak botak, kakak tetap cantik loh.. lili suka sama kakak, soalnya kakak selain cantik juga baik.” jelasnya polos.


Diangguki oleh yang lain. Disya tertegun mendengarnya.


“ benar. Tas Nano sudah rusak sejak satu tahun lalu jadi Nano harus pakai kresek ke sekolah, tapi karena kak Disya Nano punya tas baru. “ jelas Nano dengan semangat.


“kenapa tidak beli tas baru?” Tanya Disya polos.


Nano melirik Disya dan menggeleng.” Mau beli tas baru, tapi kata ibu panti belum ada donasi yang masuk, ada beberapa pun hanya cukup untuk makan dan bayar kebutuhan rumah panti. “ jelasnya kepadanya polos.


Disya mendengarnya mengangguk pelan saja. Dava mendekati Disya dan berdehem. '' kak disya mau main nggak sama kita??? kita main bola di sana.” ujar anak anak pada Disya,. Disya mendengarnya hendak menolak tapi tangannya sudah ditarik duluan, disya ingin marah rasanya tidak masuk akal marah dengan anak anak ini. disya hanya bisa pasrah.


Dava melihat disya yang pasrah terkekeh pelan melihatnya,.” Nak Dava apa kabar nak? Sudah lama tidak kemari.” Ujar ibu panti mndekati Dava.


Dava nelirik ibu panti dan tersenyum lebar.” Hehe iya bu, soalnya rumah Dava jauh dari sini. Kalo kemaren kan kita Cuma beda gang.,” jelas Dava. Dulu saat rumahnya di arah gang tak jauh dari sini. Ia suka main di sini dengan anak anak panti lain yang memang mau berteman dengan dirinya, tidak seperti anak anak lain yang tidak mau karena ia tidak punya orang tua. Disini dirinya diterima dengan baik.


Ibu panti tersenyum.” Itu siapa Dava? Pacar kamu yah?” tanyanya melirik disya

__ADS_1


Dava jadi salah tingkah dibuatnya.” Itu pacar kak Kai bu bukan Dava hehe., “ ujar dava kikuk. Dua ibu panti menatap Disya dengan tatapan kagum. Dava melirik Disya yang sedang diperingatkan meliriknya memelas hanya terkekeh pelan.


“ terimakasih yah nak sudah mau berbagi dengan kami tas dan juga barang barang sekolah anak anak. Kami memang sudah satu tahun ini kekurangan pendanaan anak anak dikarenakan sedang kurangnya ada donasi dari luar sehingga dari sebagian kami harus bekerja. Terimakasih yah nak Dava. “ jelas ibu panti terharu.


‘'itu yang ngasih kak Disya bukan Dava bu. Dava hanya bantu dia saja.” Ujar Dava kepada ibu panti yakin. ibu panti mendengarnya mengangguk masih tetap berterimakasih.


Menawarkan dava masuk. “yaudah ayok masuk ibu buatkan teh yah nak.” ujar ibu panti lembut


Dava menunjuk arah anak anak yang masih mempributkan disya.” Saya mau main sama anak anak aja dulu buk. Kasihan disya.” Ujarnya terkekeh dan ikut ditertawakan oleh ibu panti.


...----------------...


Tawa Disya bersaama rombongannya terdengar sangat lepas dikarenakan menang dan mengalahkan Dava. Bahkan ada beberaa anak menggoyangkan pinggulnya menejek kearah dava dna teman teman yang lain, Disya semakin tertawa terbahak melihat tiungkah Bobi anak bertubuh gumpal itu. bayangkan tubuh gumpalnya bergoyang mengejek teman temannya.


Dava disana dan teman teman rombongannya terlihat kesal dan murung dikarenakan kalah melawan tum Disya, padahal Disya perempuan, apalagi melihat mereka di ejek habis habisan membuat muka mereka terlihat sangat suram dan tertekan akibatnya. Tapi ketika melihat tawa Disya yag sangat lepas dan juga indah membuat Dava ikut tersenyum tipis.,


Setidaknya Disya bisa setulus itu dalam tertawa sangat membuat irinya ikut bahagia. “ ayo ayo kita minum dulu, udah mau sore ini. yang lain ayo sholat dulu anak anak.” Ibu pantyi bertepuk tangan kepada anak anak membuat anak anak berbondong-bondong bondong menurut kepada ibu panti.


Disya menghela nafas pelan dan segera mendekati dava yang mengajaknya mendekat.” Capek banget. Ternyata seneng juga main bareng anak anak panti.” Ujar disya tersenyum lebar.


Dava mengangguk pelan.” itu karena uang sepuluh juta yang kamu punya tadi kak. Dan kakak lihat seberapa banyak anak yang kakak bahagiakan dengan uang segitu? Apa nggak rugi kakak beli tas harga speuluh juta dan hanya kakak yang bisa menikmatinya?” Tanya Dava merangkul disya.


Disya melirik Dava dna terdiam. bakan kadang saat dirinya mendapatkan barang dengan harga puluhan juta dirinya tidak bahagia., berbeda dengan dirinya yang sekarang terasa bahagia, apalagi melihat kebahagiaan anak anak yang saling memamerkan tas tas milik mereka serta karakter lucu yang ada di tas mereka.


Disya tersenyum tipis. Benar kadang ketika kita membuat orang bahagia, kita jauh ebih bahagia yang kita harapkan,.


“ ayo Dava nak disya makan dulu,” disya dan Dava segera mendekati para penjaga panti, disana mereka terlihat sangat antusias dalam minum es yang di sajikan, padahal hanya es teh manis dan itu terlihat sangat lezat dimata disya.


Ibu panti memberikan satu gelas pada Disya, Disya dengan kaku menerimanya, lalu memberikan kepada dava.” Diminum yah nak,. Maaf Cuma bisa kasih es teh, soalnya kami nggak ada apa apa disini.” Jelas ibunya dengan tenang dan raut tak enak pada disya dan dava yang sudah datang memberikan banyak peralatan sekolah pada anak anak,


Disya mendengarnya mengangguk meminum teh yang diberi. Wah wah segar sekali, rasanya memang tidak mewah tapi Disya ketagihan sampai ia menghabisi satu gelas teh miliknya.


Disya bergumam pelan mentap ibu panti.” Mau lagi?” Tanya ibu panti, Disya menunjukan raut cengirnya membuat ibu panti terkekeh kembali menuangkan teh dari tekoh ke kelas disya.


Disya kembali meminumnya dan menghela nafas legah.” Wah kayaknya nak disya kehausan sekali yah hehe. Main dipanas panas sih. padahal nak Disyakan putih, nanti hitam loh.” Ujar ibu panti lain membawa pisang goreng mendekati Disya,.

__ADS_1


Disya mendengarnya hanya diam dan mengangguk saja, tidak tau harus menjawab apa sebab baginya hitam putih sama saja kan? lagi pula sekali main bola memang membuat dirinya hitam?


“ nak disya diam terus. Orangnya pendiam sekali.” Jelas ibu panti kembali mengajak Disya berbicara.


__ADS_2