
Haii!!! Hai!!! Hai!!! Sorry ya Rek baru bisa update lagi soalnya jiwa malasku sedang meronta - ronta jadi cuma sibuk rebahan aja😋 Sebelumnya makasih buat kalian yang mau mampir😍 Oke Markijut, Mari Kita Lanjut💃
___________________________________________
Seminggu setelah kejadian itu, Sesuatu yang di nanti - nantikan Sanas tiba. "Tuhan berpihak kepadaku." Ujar Sanas kegirangan. Akhirnya yang di takutkannya tidak terjadi, ia sangat senang ia datang bulan saat ini.
"Oke... Kreyasa Anastasya, Kau sudah mengecewakan Ayahmu, Keluargamu Dan Suamimu Kelak. Jadi Jangan kembali hancur diatas kehancuranmu Oke." Batin Sanas. Ia kembali menjalani aktivitas sehari - hari seperti biasa tanpa ada rasa takut jikalau dia hamil. Meski begitu masih terngiang, penyesalan demi penyesalan yang dirasakan Sanas. Tapi apalah daya, nasi telah menjadi bubur Kini ia benar - benar terfokus untuk masadepannya saja.
Satu Minggu Kemudian
Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur semester akhir. Oh iya!! Sanas Naik Ke kelas XI dengan nilai terbaik dan menjadi juara umum, tidak heran meskipun berada di kelas yang terkenal nakal itu tidak mempengaruhi nilai ujiannya, karena Sanas memang siswi yang berprestasi sejak ia duduk di bangku Taman Kanak - Kanak.
Seperti biasa Sesampainya di sekolah Sanas menuju tempat parkir yang ternyata sudah penuh. Tentu ia kesulitan mencari tempat. "Ini nih yang bikin aku ngga suka, Lagian paman kenapa ngga mau beliin aku motor sih. pake alesan biar ngga kehujanan ngga kepanasan segala lagi, kan kalo gini susah." Gerutu Sanas, terpaksa ia memarkirkan mobilnya di luar parkiran. "Di hukum ya di hukum." Ketus Sanas.
Dengan wajah cemberut Sanas menuju kekelasnya, tiba - tiba!! Worr!! Worr!! Worr!!! Seseorang menggeber - geberkan motor CBR. Hal ini sontak membuat Sanas terkejut.
"Allahuakbar!!!" Ujar Sanas sambil menutup telinganya. Seseorang membuka Helmnya
"Zen.. kau hampir membuat jantungku copot." Ketus Sanas yang menyondongkan bibirnya, Zen hanya tergelak ketika mendapati reaksi Sanas seperti itu.
"Apanya yang lucu Zen, apa kau senang jika aku mati jantungan." Ujar Sanas murka.
"Hey.. Kau terlihat sangat lucu dengan ekspresi seperti itu." Goda Zen. Sanas tidak menanggapi ujaran Zen, ketika ia hendak meneruskan langkahnya Zen menahan tangan Sanas.
"Apa lagi Zen?" Tanya Sanas kesal.
"Tunggu dulu, aku parkir motor ku antar ke kelas ya. Tunggu disini." Perintah Zen. Sanas hanya mengiyakan ucapan Zen, Tak lama Zen kembali.
"Ayo.." Ajaknya mendahului Sanas, Sanas Mengekor di belakan Zen. Zen mendadak menghentikan langkahnya, karena Sanas fokus melihat langkah kaki Zen dengan spontan Sanas menabrak Punggung Zen.
"Auuuww... kalo berhenti itu bilang jangan mendadak - mendadak gini." Ketus Sanas sambil menggosok - gosok keningnya yang mengenai punggung Zen.
"Lagian Kamu Ngapain Jalannya di belakang aku sih? kan bisa di samping aku." Ujar Zen sambil memegang tangan Sanas, Sanas hanya terdiam saja. Zen mengajak Sanas melewati Lorong dekat Kantin yang dimana jalan tersebut jarang dilewati oleh siswa - siswi lainya.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Zen tiba - tiba.
"Apanya?" Tanya Sanas Bingung.
"Apa sudah ada tanda - tanda?" Tanya Zen Lagi.
"Apa sih kak? aku ngga paham." Tanya Sanas masih tak mengerti. Zen menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
"Apa kau sudah positif hamil." Ujar Zen to the point. sontak rona wajah Sanas memerah usai mendengar pertanyaan sesensitif itu secara langsung. Sanas hanya menunduk.
"Jadi.." Tanya Zen lagi. Sanas hanya menggeleng, Zen memojokan Sanas ke tembok dan mengunci tubuh Sanas. Sanas berusaha untuk mendorong tubuh Zen namun tidak membuahkan hasil karena tubuhnya terlalu lemah melawan tenaga Zen.
"Apa kau mau melakuhkannya lagi?" Bisik Zen yang membuat bulu kuduk Sanas merinding.
"Kau jangan macam - macam Zen." Ujar Sanas ketakutan. Zen mengecup bibir Sanas lalu melepaskan Sanas dari kunciannya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas Sanas, Tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
Sesampainya di depan kelas Sanas, Sanas ingin segera masuk namun Zen menahannya.
"Aku di kenal siswa yang baik di sekolah ini tanpa ada nilai minus di intrakulikuler maupun ekstrakulikuler, jadi kamu jangan mencoba menceritakan apa pun kepada siapapun tentang apa yang aku lakuhkan kepadamu termasuk teman - teman saikomu. dan ingat mereka hanya tau kita dekat bukan berarti mereka bebas tau apa yang kita lakuhkan kau mengerti." Bisik Zen.
"Dan satu lagi, bersikaplah seperti biasa. bersikap seolah tidak terjadi apa - apa." Tambah Zen lalu mendorong Sanas untuk masuk kekelasnya dan pergi begitu saja. Sanas sedikit terhuyung namun ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya.
"Sweety, I Miss You." Ujar Gita yang menghampiri Sanas.
"I Miss You Too." Mereka berdua berpelukan.
"Apa kau sudah jadian dengan kak Zen?" Tanya Santi To the point.
"No.. Aku hanya berteman denganya." Jawab Sanas.
"Seriously? Kalian terlihat lebih dekat dari biasanya." Tambah Gea memastikan.
"Itu hanya perasaanmu saja, kita hanya berteman." Elak Sanas.
__ADS_1
"Kita hanya memastikan saja, siapa tau selama libur dua minggu teman kira yang satu ini melepaskan status jomblonya dan jadian sama babang ganteng itu iya ngga." Ujar Cindy
"Betul.." Ujar Santi
"Hei.. kalian ini keras kepala sekali. Sudah ku bilang kan kami hanya berteman. bahkan selama liburan kami tidak chatingan apa lagi bertemu." Jelas Sanas.
"What? Jadi selama dua minggu kamu ngga kontekan sama kak Zen?" Tanya Gea heran, Sanas hanya mengangguk mengiyakan.
Memang benar semenjak kejadian Zen tidak menghubungi Sanas bahkan sekedar menanyakan kabar. Zen seolah hilang ditelan bumi setelah kejadian itu. Bahkan Sanas berfikir bahwa Zen sengaja melakuhkan itu karena ingin menghindar jika sewaktu - waktu mendapat kabar bahwa Sanas Hamil anaknya.
**Flashback On**
"Jadi aku bukan anak kandung papa dan mama?" Tanya Zen frustasi.
"Iya Zen, maafkan Papa dan Mama yang tidak jujur kepadamu dari dulu." Ujar Nyonya Mita.
"Lalu aku anak siapa?" Tanya Zen
"Lihat foto gadis cantik di samping Papa Zen. Dia Tante Farah adik Papa dia ibu kandungmu, Saat itu ayahmu memilih pergi dengan wanita lain dan meninggalkan ibumu yang tengah mengandung 8 bulan. Farah meninggal setelah kamu lahir usia 1 bulan karena bunuh diri, sebelum ia meninggal Farah menulis pesan di kertas yang isinya agar Papa merawat kamu seperti anak papa sendiri." Jelas Tuan Giant memandang foto yang terpajang di ruangan tersebut. Zen hanya bisa menatap sayu foto yang ditunjukan Papanya.
"Jadi ini alasan kenapa di belakang namaku tidak ada nama Papa seperti kak Lia dan Kak Rasya." Tanya Zen.
"Di belakang namamu ada nama keluarga besar Ayahmu Zen." Jawab Tuan Giant.Zen Beranjak dari tempat duduknya hendak meninggalkan Tuan Giant dan Nyonya Mita.
"Zen kau mau kemana nak?" Tanya Nyonya Mita yang tidak berhenti menangis, jujur saja dia sudah menganggap Zen lebih dari anak kandungnya sendiri. Ia takut jika Zen akan meninggalkan Papa dan Mamanya ketika mengetahui hal yang sebenarnya.
"Aku akan mencari Ayahku." Ketus Zen tak mempedulikan Nyonya Mita.
"Zen, tunggu!!! dengarkan Papa dulu. Bagaimanapun kau tetap anakku, dan aku adalah papamu. Jika kau mau mencari Ayah kandungmu, Papa tidak akan melarang. Setelah kau bertemu dengannya Kembalilah, Kamu masih sekolah. Setidaknya lanjutkan sekolahmu sampai kau Lulus." Ujar Tuan Giant. Zen terdiam sejenak mencerna ucapan Papanya.
"Ada benarnya, Aku tinggal setahun lagi lulus sekolah. lebih baik aku lanjutkan sekolah dulu dari pada nanti aku mengulang dari awal." Batin Zen, "Baik Aku Akan Kembali Setelah Bertemu dengan Ayah Kandungku." Ujar Zen
"Ayahmu Sekarang ada di kota M, ia adalah pemilik Perusahaan PT. Nugraha Group. Pergilah kesana dan tunjukan identitasmu yang sebenarnya." Ujar Tuan Giant, Zen Tersenyum dan mengangguk lalu pergi ke Kota M mengendarai Mobilnya.
__ADS_1
***Flashback Off***