CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 54


__ADS_3

"Maaf pak, kita mau meeting dimana ya kalau saya boleh tau?" tanya Sanas.


"Udah.. ngga usah banyak tanya, nanti kamu juga tau sendiri kalo udah nyampe. Mending kamu inget tuh materi - materi buat Meeting nanti." ujar Tama.


Drtt.. Drtt.. Drtt.. tampak ponsel milik tmTama berbunyi.


"Ya... Rey, aku udah hampir sampai."


"....."


"Begitu kah? oke.. oke.. nanti gue tunggu di dalem aja ya?"


"......"


"Klien kita nanti telat dateng jadi kamu ngga usah khawatir." ujar Tama.


"Baik pak." ujar Sanas, sebenarnya ia berharap kalau meetingnya gagal saja.


"Lo.. Heh.. kok aku kaya ngga asing sama jalan ini." batin Sanas.


Tama membelokan mobilnya ke sebuah Caffe, Deghh!!


"Siscadam's Caffe & Resto, jangan bilang kalo hari ini meetingnya di sini." batin Sanas.


"Pak.. Jangan bilang kita meetingnya di sini?" tanya Sanas memastikan.


"Nggak!!" jawab Tama.


"Selamat.." ujar Sanas sambil menghembuskan nafas kasar.


"Ngga disini, tapi di dalam." imbuh Tama.


"Apa?" teriak Sanas Syok.

__ADS_1


"Kau ini jangan teriak - teriak, kaya orang ga waras tau ngga." ketus Tama.


"Pak.. kita cari tempat lain ya buat meetingnya, janji deh aku bakal cari tempat yang enak interiornya juga uwu." bujuk Sanas.


"Kau ini gila apa kenapa? mana ada bawahan ngatur atasan. he.. kita ini sedang berdua jadi jangan panggil aku Pak, aku belum setua itu. Panggil Aku Kak Oke? Kak Tama" cerocos Tama.


"Ishh.. Ba.. Ehh.. Kak Tama ini kalo ngomel mulutnya kek mrecon aja, plis.. kita cari tempat lain ya.." ujar Sanas berusaha membujuk.


"Kasih saya satu alasan kenapa saya harus mengikuti maumu." ujar Tama menatap manik mata Sanas dengan lekat.


"Duh.. gimana ini.." batin Sanas.


"Ayo.. cepat katakan." ujar Tama semakin mendekatkan wajahnya berhadapan dengan Sanas.


"Emh... E.. Anu..." ujar Sanas gugup.


"Caffe ini dulu tempat aku bekerja." lirih Sanas, Tama yang mendengar pun hanya mengernyitkan dahinya.


"Lalu kenapa kamu menghindar, kamu ngga habis nyuri lalu kabur kan?" duga Tama.


"Bearti kau membuat kesalahan, dan apa kau mau di pecat untuk yang kedua kalinya karena tidak mematuhi perintah Bosmu yang tampan dan baik hari ini?" tanya Tama namun dengan seringai liciknya.


"Ish.. si bos ini selalu begitu, itu cuma salah paham." ujar Sanas.


"I Don't Care, sekarang kau bekerja denganku jadi ikuti apa mauku. Turun sekarang atau aku gendong." titah Tama, Sanas pun tak berkutik jika sudah mendapat ancaman seperti itu, karena ia tau kalau bos yang satu ini sangat sulit di tebak jalan pikirnya. Dengan mengumpulkan sisa keberaniannya ia mengikuti kemana arah langkah Tama. Tama menuju ruang VIP, Sanas pun mengikutinya namun ia sama sekali tak mendongakan wajahnya sedikit pun.


"Silahkan Tuan.. Nona ini buku menunya." ujar Pelayan, sebenarnya Sanas sangat mengenali suara pelayan tersebut tapi ia enggan untuk mendongakkan kepalanya.


"Kau mau pesan apa?" tanya Tama.


"Aduh.. ngapain pake tanya sih, kenapa ngga di pesenin aja gitu." batin Sanas.


"Hey.." gertak Tama.

__ADS_1


"Kreyasa Anastasya!!!" teriaknya tepat di telinga Sanas.


"Spaghetti with sauce special sama Chocochinno." ujar Sanas spontan karena terkejut.


"Sanas.. kau kah itu?" tanya Via.


"Eh.. Si Via, iya ini gue." ujar Sanas cengengesan.


"Aigo... sekarang loe beda ya, makin cantik makin sexy aja." ujar Via memandang Sanas dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Duh.. Via gila bisa - bisanya ngomong gitu di depan bos, kan gue malu." batin Sanas.


"Hey.. cepat ambilkan pesananku, malah ngobrol." ketus Tama.


"Eh.. iya Maaf Tuan, saya permisi." kata Via lalu pergi menuju Dapur.


-Di Dapur-


"Guys.. Sanas dateng kesini." seru Via.


"Hah? serius? mana ngga ada." kata Bryan mendongak melihat situasi di luar.


"Ish.. dia di Ruang VIP." ujar Via.


"Ha? Serius?" Tanya Risa.


"Serius, Gila Dandananya udah beda banget Anjir. makin cakep makin sexy tau ngga." kata Via.


"Sama siapa dia?" tanya Bryan.


"Ga tau deh, kalo di lihat dari tampang sama penampilannya sih kayaknya bos besar deh." jelas Via.


"Wuihhh... edun oy!!! Sanas bisa dapetin Bos besar." ujar Risa.

__ADS_1


"Hus... ngawur, siapa tau itu bosnya, lu mah kalo ngomong suka asal." ujar Ahmat.


"iya ih.. kamu itu suka ngawur, Udah Vi nih anterin pesanannya." kata Bryan.


__ADS_2