
Entah dapat bisikan dari mana, Eliyas mulai meraba punggung Sanas. Tidak ada penolakan dari sang empunya. Kini tangan nakal Eliyas mulai begerilya ketempat lain, Sanas hanya mampu melenguh dan memejamkan matanya karena mendapat perlakuan tersebut.
"Diamlah.. aku akan menggosok tubuhmu dengan sabun." ujar Eliyas. Sanas pun hanya diam tanda setuju.
"Shhh.. Aww.." ringis Sanas saat Eliyas menyentuh area sensitifnya.
"Masih sakit ya?" tanya Eliyas. Sanas hanya mengangguk malu - malu.
"Aku akan pelan - pelan." ujar Eliyas, Sanas hanya mengangguk. Eliyas menggosok seluruh tubuh Sanas dengan hati - hati, ia tahu betul jika seluruh badan Sanas sudah pasti sakit semua, mengingat permainan keduanya tadi malam yang sangat menggairahkan. Ditambah lagi Sanas yang baru pertama kali melakuhkannya, hingga membuat Eliyas ingin melakuhkannya lagi dan lagi. Entah apa yang ada di pikiran Sanas yang jelas kini dirinya tak mampu mengucapkan kata untuk menolak perlakuan Eliyas.
Eliyas beranjak dari bathup, ia meraih handuk dan bathdrop dan memberikannya kepada Sanas.
"Terima kasih." ujar Sanas.
"Ya, keluarlah aku akan mandi, apa kau mau melihatku mandi?" goda Eliyas.
"Ti.. Tidak.." ujar Sanas tertunduk malu - malu, lalu keluar dari kamar mandi. Eliyas tersenyum puas karena berhasil menggoda Sanas.
Tak selang beberapa lama Eliyas juga keluar dari kamar mandi, ia hanya memakai celana pendek sebatas lutut dan bertelanjang dada. Di lihatnya Sanas yang tengah mengeringkan rambutnya di depan meja rias. Eliyas tersenyum mengingat kejadian tak terduga semalam. Saat hendak berdiri ingin berganti pakaian, diraihnya pinggang Sanas dari belakang, Ia menghirup dalam - dalam aroma tubuh Sanas yang seolah menjadi candu baginya.
"Kakak, aku mau ganti baju." ujar Sanas.
"Tunggu sebentar.. biarkan seperti ini dulu." ujar Eliyas.
"Kakak, aku juga lapar, biarkan aku ganti baju terlebih dahulu." ujar Sanas.
"Menikahlah dengan saya Kreyasa Anastasya." ujar Eliyas tiba - tiba. Mendengar itu pun membuat Sanas spontan melepaskan pelukan Eliyas.
"Aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang menikahiku hanya karena merasa bersalah dan kasihan." ujar Sanas menunduk.
"Dengar, aku mencintaimu.." ujar Eliyas membuat Sanas terkejut.
"Apa kau yakin?" tanya Sanas.
"Aku sang-"
Ting.. Tung... Bell Apartemen berbunyi membuat Eliyas tak melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Siapa kira - kira?" tanya Sanas.
"Mungkin Kelvin, aku cek dulu ya." ujar Eliyas, Sanas pun mengangguk.
Di bukannya lah pintu apartemen, dan...
"Ada perlu apa anda datang kemari?" tanya Eliyas.
"Saya sedang mencari tunangan saya." jawab Tama.
"Siapa?" tanya Eliyas pura - pura tidak tahu.
"Anda jangan pura - pura bodoh Tuan, saya yakin anda tahu saya sedang mencari siapa." ujar Tama dengan nada tinggi.
"Siapa kak El?" tanya Sanas yang kini berada di belakang Eliyas.
"Tuan ini mencari Tunangannya, apa kau mengenalnya?" tanya Eliyas, Sanas pun terkejut bukan main saat mengetahui jika yang datang adalah Tama.
"Mau Apa kau?" tanya Sanas.
"Sanas kita perlu bicara." ujar Tama.
"Ku mohon, beri aku waktu untuk bicara." ujar Tama.
"Ajak dia masuk." perintah Eliyas.
"Masuk!!" ujar Sanas mempersilahkan.
Kini ketiganya duduk di ruang tamu, terlihat kecanggungan antara mereka.
"Bicaralah, aku akan pergi dulu ada hal yang harus ku selesaikan." ujar Eliyas meraih kunci mobilnya.
"Kak.. plis, jangan kemana - mana. Temani aku." ujar Sanas menarik tangan Eliyas agar kembali duduk.
"Aku mau bicara empat mata denganmu Sanas." ujar Tama.
"Bicara sekarang atau tidak sama sekali." ujar Sanas.
__ADS_1
"Baiklah.. Baiklah.. Jadi kedatanganku kemari hanya untuk meluruskan kesalahpahaman di antara kita." ujar Tama.
"Salah paham apa?" tanya Sanas mengerutkan dahinya.
"Antara kau dan Zidan.. aku sudah tau semuanya Sanas, maafkan aku yang saat itu tidak mau mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu. Sungguh aku menyesal Sanas." ujar Tama.
"Apa penyesalan anda juga termasuk ke kategori saat saya memergoki dengan mata kepala saya sendiri anda sedang bermain ranjang dengan sekertaris anda Tuan Arthama Ardiwinata?" tanya Sanas sambil menekan kata - kata terakhirnya.
"Ya.. Aku sangat menyesal, aku tahu aku salah aku minta maaf." ujar Tama memohon.
"Dulu ketika saya ragu akan ajakan anda menikah dengan saya, anda meyakinkan saya jika masalalu saya tidak begitu penting. Dan bodohnya saya, saya percaya begitu saja dan memutuskan untuk jatuh cinta kepada anda. ketika saya benar - benar jatuh cinta kepada anda, anda justru mengkhianatinya. Jadi, menurut anda apa yang anda rasakan jika anda menyaksikan secara langsung hal tersebut?" tanya Sanas dengan mata berkaca - kaca.
"Kecewa, aku tahu kamu kecewa." ujar Tama.
"Kecewa bukan?" tanya Sanas, tampak Tama sedang menunduk.
"Maafkan Saya, Sanas.. Saya tahu saya salah.. beri saya kesempatan lagi." ujar Tama.
"mengapa mencari saya setelah anda tahu jika saya masih perawan?" tanya Sanas yang membuat hati Tama seperti di tikam. Karena memang benar, selama ini Tama tak pernah mencari atau bahkan menanyakan kabar Sanas.
"Maafkan saya.." ujar Tama.
"Kalau anda datang kemari beranggapan jika saya masih perawan, anda sangat salah besar Tuan Arthama Ardiwinata." ujar Sanas yang membuat Tama terkejut dan bertanya - tanya.
"Apa maksutmu?" tanya Tama.
"Lihat ini, ini adalah bekas yang di hasilkan dari percintaan kami semalam." ujar Sanas sambil membuka bathdropnya sebatas lengan. Tak hanya Tama, Eliyas pun di buat terkejut atas tindakan Sanas.
"Tidak.. Tidak.. Ini tidak mungkin, kau bukan wanita seperti itu Sanas, saya tahu itu." kata Tama tak percaya.
"baik kalau anda tidak percaya." ujar Sanas beranjak dari duduknya dan duduk di atas pangkuan Eliyas. Betapa terkejutnya Eliyas saat Sanas mendaratkan bibirnya, tak hanya itu Sanas juga ******* lembut bibir Eliyas. Di arahkannya tangan Eliyas agar melingkar di pinggangnya. Tangan nakal Sanas mulai meraba - raba belakang telinga Eliyas.
Tama yang menyaksikan itu pun hanya bisa terdiam dan pasrah.
"Hentikan!!!" teriak Tama membuat keduanya menghentikan aksinya.
" aku menyesal telah memohon - mohon kepada wanita murahan, tak tau malu, dan tak tau diri sepertimu." hardik Tama.
__ADS_1
"Baguslah, silahkan pergi pintu keluarnya ada di sana.. kami ingin melanjutkan permainan yang sempat tertunda karena kau." ujar Sanas. Tanpa basa basi Tama pun pergi.