
Setiap pagi Sanas di sambut dengan berbagai macam buket bunga serta coklat yang di letakan di meja kerja Sanas, perbuatan siapa lagi kalau bukan Tama. Pria itu telah berhasil memporak porandakan perasaan wanita cantik yang di gemari banyak pria itu kurang dari batas waktu yang di tentukan. Siapa yang tak jatuh cinta jika setiap saat di beri perlakuan manis? terkadang Sanas di buat risih dengan sikap manis Tama yang terang - terangan di lakuhkan di hadapan Karyawan yang lain.
Banyak yang mendukung hubungan antara Bos dan Karyawan kali ini, namun juga tak sedikit yang Iri. Cacian, kecaman, ejekan seolah sudah terbiasa terdengar di telinga Sanas ketika melewati Karyawan di bidan Divisi lain, bukan Sanas namanya jika peduli dengan mereka.
"Kau lihat gadis itu Klis, dialah yang nantinya menggeser posisimu menjadi sekertaris presdir." ujar Agnes saat berpapasan dengan Sanas di mesin pembuat kopi.
"Kau benar, belum apa - apa udah caper sama presdir." kata Vivi ikut menjadi kompor.
"Kalo caper udah dari dulu awal - awal masuk kali, loe ngga inget gue di omelin abis - abisan gara - gara tu bocah tengik ambil cuti." ketus Agnes.
"Iya ih, bisa - bisanya anak baru udah mau di angkat aja jadi sekertaris. gue rasa emang tu bocah ingusan punya skandal sama presdir." ujar Vivi.
"Loe tau kan prinsip seorang Aklis gimana? sesuatu yang udah gue dapet ngga bakal gue lepas. Termasuk jabatan, dan sebentar lagi gue bakal dapetin presdir." ujar Aklis dengan senyum liciknya. Sanas yang samar - samar mendengar pembicaraan mereka bertiga pun hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Sabar - sabar.. jangan kepancing!!" ujar Sanas dalam hati. Ia tak ambil pusing mengenai ucapan Aklis yang ingin mendapatkan hati Tama, karena menurut Sanas sudah jadi konsumsi publik jika pria tampan pasti banyak penggemarnya.
__ADS_1
Setelah selesai membuat kopi Sanas kembali ke ruang kerjanya, meskipun ia sedang menggantikan Leo sebagai asisten Presdir sekaligus masa Training untuk menjadi sekertaris, ia sengaja meminta agar tetap di tempatkan di divisi keuangan. Sebenarnya Tama agak keberatan karena ruangan Divisi keuangan ada di lantai 2 sedangkan Ruangannya di lantai 15, jadi jika butuh sewaktu - waktu akan memakan waktu yang lumayan. Tapi apalah daya, Tama hanya bisa menuruti kemauan Sanas demi kenyamanannya.
"Kenapa cemberut buk?" tanya Delon.
"Lagi kesel." ujar Sanas dengan nada ketus. Caca dan Delon pun saling pandang ketika mendengar jawaban Sanas.
"Kenapa lagi?" tanya Caca.
"Masa iya si Aklis sekertaris sementara presdir bilang kalo mau dapetin Presdir, mana ngomongnya terang - terangan di depan gue lagi, kan Gue kesel." ketus Sanas.
"Santai dong Buk, gue cuma bercada." kata Caca sambil mengangkat kedua tangannya bak pencuri yang tertangkap.
"Lagian loe aneh deh Nas, kan emang dari dulu Presdir itu jadi inceran ciwi - ciwi di sini. jangankan ciwi - ciwi,Nenek loe di kampung pun kalo tau Presdir juga bakal klepek - klepek." ujar Caca.
"Udah, sabar aja kali Nas.. Lagi pula udah jadi resiko loe berhubungan sama orang Tampan, coba loe deket sama gue pasti saingan loe cuma Caca." kata Delon sambil tertawa.
__ADS_1
"Nenek Lampir mau loe kemanain?" tanya Caca sambil menoyor kepala Delon.
"Hih Najis!!!" kata Delon bergidik ngeri.
"Emang sarap loe berdua, bukanya nyemangatin malah makin buat gue insecure." ketus Sanas.
"Lah, kita mah ngomong sesuai kenyataan buk." ujar Caca.
"Serah lu.." ketus Sanas.
Drrtt.. Drrttt.. Drrtt.. bunyi ponsel milik Sanas.
"Siapa? Bebeb Presdir ya?" goda Caca.
"Diem lu, gue tampol ya Ca." gertak Sanas.
__ADS_1