
Kini Sanas berada dalam kukungan Eliyas, dengan buas Eliyas ******* bibir manis Sanas tanpa meminta persetujuan dari sang Empunya.
"Argghh..." ringis Eliyas saat Sanas menggigit bibirnya hingga berdarah. Bukannya menghentikan aksinya dia justru mencekal kedua tangan Sanas dan mengadahkan ke atas kepala.
"Kak... Lepaskan.." mohon Sanas sesenggukan.
"Tidak akan pernah." ujar Eliyas menunjukan seringainya.
"Nikmati saja ya sayang." bisik Eliyas lalu memainkan lidahnya pada bagian belakang Telinga Sanas.
"Ahhh..." satu lenguhan yang membuat Eliyas semakin bersemangat untuk menikmati permainan selanjutnya.
Kini tangannya telah begerilya memainkan kedua gunung kembar yang sedari tadi seolah menantang. Ia melahap habis kedua gunung kembar milik Sanas.
Tiba - tiba Sanas merasakan sesuatu yang aneh saat tangan Eliyas menyentuh area sensitifnya.
"Sshhh..." desah Sanas.
"Aww..." ringis Sanas saat satu jari Eliyas berusaha menyeruak masuk ke area sensitifnya.
"Nikmati saja sayang." ujar Eliyas dengan suara beratnya. Benar saja, Eliyas dengan lihai memaju mundurkan jarinya hingga membuat Sanas mengelinjang.
"Kak.. Stop, Ahhh.. aku mau buang air.." ujar Sanas
"Lepasakan saja di sini sayang.." ujar Eliyas.
"Aaahhhhhh...." Sanas mengerang panjang, ia terkulai lemas. Baru saja ia merasakan pelepasan pertamanya yang membuat miliknya terasa sangat becek.
Tanpa membuang - buang waktu Eliyas melepaskan seluruh pakaiannya, Terlihat Sanas yang memejamkan mata. Tanpa pikir panjang, Eliyas mengarahkan senjata pamungkasnya kedalam goa kenikmatan yang di miliki Sanas. Dengan susah payah Eliyas berusaha memasukannya namun berulang kali ia gagal melakuhkannya. Namun kali ini dengan sekali hentakan ia telah membenamkan senjatanya secara keseluruhan.
"Ahhh... Sakit!!!" jerit Sanas.
"Shhh... Ini masih sangat sempit.. aku akan melakuhkannya dengan lembut." ujar Eliyas. Ia menggerakan tubuhnya maju mundur dengan pelan.
Lama kelamaan Sanas mulai terbiasa, sesekali ia ikut menggoyangkan pinggulnya. Sungguh ia merasakan sensasi yang luar biasa saat ini, berbeda dengan saat pertama kali mereka melakuhkan penyatuan tubuh.
"Aghhh...." Lenguh Eliyas dan Sanas bersamaan, Eliyas menghentakkan gerakannya dan menumpahkan cairan hangat di dalam milik Sanas, berharap ada satu benih yang hidup di dalam rahim sang Empunya.
__ADS_1
"Kenapa rasanya berbeda? bahkan hari ini Kau sangat nikmat Riyana.." ujar Eliyas lalu tertidur dalam posisi Sanas yang masih berada di bawahnya.
"Riyana? siapa Riyana?" batin Sanas sambil meneteskan Air mata. Bagaimana tidak, Eliyas menidurinya tapi menyebut nama wanita Lain.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya...
Eliyas mengerjapkan kedua matanya.
"Argghh..." ringisnya, ia merasakan kepalanya yang pusing. Ia ingat betul jika semalam dirinya tengah mabuk, betapa terkejutnya Eliyas saat mendapati dirinya tak memakai sehelai benang pun. Seketika ia menatap sekitar, takut - takut ia meniduri wanita malam di club.
"Ternyata aku di apartemen." ujar Eliyas lega.
"Maafkan saya.." bisik Eliyas menutupi tubuh bugil Sanas dengan selimut. Bukan membuat Sanas tidur semakin nyenyak hal itu justru membuat dirinya Bangun dari tidurnya.
"K.. Ka.. Kak El.." ujar Sanas memegangi selimut, takut - takut tubuh bugilnya terlihat kembali oleh Eliyas.
"Maafkan saya, semalam benar - benar di luar kendali saya." ujar Eliyas.
"Ya.." jawab Sanas singkat.
Hening!
Hening!!
Hening!!!
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Sanas memecah keheningan.
__ADS_1
"Bertanyalah.." ujar Eliyas menatap Sanas dengan serius.
"Apa kau akan jujur jika aku bertanya?" tanya Sanas.
"Tentu.." ujar Eliyas.
"Siapa Riyana?"
Degh!!!!
"Darimana kau tau nama itu?" kata Eliyas panik.
"Dari semalam." ujar Sanas. Eliyas tampak mengernyitkan dahinya. jelas ia bingung dengan jawaban Sanas.
"Apa semalam dia kesini." batin Eliyas.
"Jadi siapa Riyana itu?" tanya Sanas lagi.
"Dia-"
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
"Sebentar aku angkat telepon dulu ya.." ujar Eliyas mengusap puncak kepala Sanas.
"..."
"Ok, aku segera ke kantor." ujar Eliyas kepada orang di seberang telepon.
"Sayang, Aku harus buru - buru ke kantor. Kau juga bersiaplah Kelvin akan menjemputmu, aku mandi dulu." ujar Eliyas.
"Bahkan kau belum menjawab pertanyaanku El!! Dan lagi kita bisa berangkat bersama kenapa aku harus berangkat dengan kelvin?" ujar Sanas.
"Sayang, belum saatnya. Nanti akan ku katakan siapa itu Riyana. Please.. Perusahaan sedang ada masalah." mohon Eliyas.
"Baiklah.." ujar Sanas, terlihat jelas raut wajah kekecewaan Sanas.
...****************...
__ADS_1
Huuaaaaa😭 sebenernya author pengen banget up banyak - banyak tapi mau gimana lagi, kendala kerjaan jadi terbengkalai deh, jadi harus nyempet - nyempetin waktu buat nyicil ceritanya. Sabar ya para readersku tercinta, Author bakal tetep lanjut ceritanya kok, tapi syaratnya harus sabar Ok!!!! jangan lupa like komen & vote ya cintaku. 1 vote sangat berarti bagi author, Salam sayang buat Readers kesayanganku💕 stay safe & healthy💙