CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 101


__ADS_3

"Mama.. Papa.." panggil Tama.


"Lama kami menunggu." kata Larasati.


"Maafkan kami Mom.." ujar Tama. Sanas masih menundukan kepalanya.


"Ma.. Pa.. Kenalin ini Sanas yang pernah aku ceritakan kemarin." kata Tama memperkenalkan Sanas.


"Sanas.. Om.. Tante.." ujar Sanas sambil mengulurkan tangan.


"Masyaallah, cantik sekali.." puji Larasati. Pipi Sanas tampak memerah mendengar pujian dari Mama Tama.


"Kau pintar mencari calon istri." ujar Gala.


"Anak siapa dulu." sambung Larasati.


"Sudah.. Sudah.. Mama sama Papa ini malah berdebat ngga jelas, kami juga lapar ini." Sungut Tama.


"Haha.. Mama sampai lupa, ya sudah cepat pesan makanan." ujar Larasati. mereka pun memesan makanan.


Terlihat kedua orang tua Tama menyukai Sanas, Apalagi Larasati yang tampak sangat antusias membicarakan mengenai rencana lamaran yang akan berlangsung. Terlalu cepat memang, tapi itu lebih baik menurut keduanya.


"Maaf jika malam ini orang tuaku tidak bisa datang di momen yang penting ini Om.. Tante.." ujar Sanas.


"No Baby, tidak masalah. Kami tau orang tuamu sibuk, lagi pula Tante sudah senang bertemu denganmu." ujar Larasati.


"Jangan panggil kami om dan tante, kami akan jadi orang tuamu juga. panggil kami sama seperti Tama." sambung Gala.


"Ya.. itu benar sekali, bagaimana pun cepat atau lambat kau akan menjadi putri kami." imbuh Larasati.


"Baik.. Om, Ehhh Pa.. Ma.." ujar Sanas, Larasati dan Gala saling pandang dan tersenyum kala mendengar ucapan Sanas yang terbata - bata. jujur ia gugup karena belum terbiasa.


"Sayang, kau mau langsung pulang atau ingin ikut ke mansion kami?" tanya Larasati.

__ADS_1


"Ha.. Emh.. Saya langsung pulang saja Ma.." jawab Sanas.


"Sayang sekali, padahal masih banyak lagi yang akan mama bahas denganmu." ujar Larasati lesu.


"Menginaplah di Mansion." Tawar Gala.


"Ti.. Tidak Pa, lain kali saja." jawab Sanas. Gala dan Larasati saling melempar senyum mendengar jawaban Sanas.


"Apa kau takut Tama melakuhkan hal yang macam - macam? kau tenang saja ada beberapa kamar kosong yang bisa kau tempati." ujar Larasati gemas.


"kok Tama?" tanya Tama mengerutkan dahi.


"Bukan begitu ma.. hanya saja saya rasa belum sepantasnya saya menginap di Mansion, apa lagi kami belum ada ikatan yang resmi." jelas Sanas.


"Baiklah.. lakuhkan apa yang menurutmu membuat kau nyaman." ujar Larasati sambil mengelus rambut Sanas.


"Tama.. jaga calon menantuku, jangan sampai ia lecet sedikitpun kau mengerti?" titah Larasati.


"Siap ibu negara.." ujar Tama sambil membukakan pintu untuk Sanas.


"Baiklah Sayang, hati - hati di jalan. sampai ketemu minggu depan." kata Larasati.


"Jaga dirimu baik - baik." kata Gala. Sanas hanya tersenyum mendapati perlakuan manis dari kedua orang tua Tama.


*****


"Bagaimana?" tanya Tama memecah keheningan.


"Emh?" respon Sanas tak mengerti.


"Tidak ada masalah dari kedua orang tuaku kan?" tanya Tama to the point.


"He'em.. Aku di sambut baik oleh mereka." jawab Sanas senang.

__ADS_1


"Syukurlah... apa kau senang?" tanya Tama.


"Senang.. Senang sekali, Akhirnya kejadian tak di sukai calon mertua tak terulang kembali." jawab Sanas jujur.


"Aku senang mendengar kau senang." kata Tama.


"Hah... aku tak sabar menunggu minggu depan.." celetuk Sanas.


"Kenapa?" tanya Tama.


"Ya ngga sabar aja.. Sebentar lagi masa jombloku akan berakhir." ujar Sanas terkikik.


"Kenapa harus sebentar lagi kalau sekarang bisa." ujar Tama. Sanas hanya melirik sinis.


"itu pun kalau kau mau." imbuhnya.


"Patut di pertimbangkan." ujar Sanas.


"Kau ini banyak sekali pertimbangannya." dengus Tama.


"Suka - suka aku lah, kamu ngga boleh protes Wleekkk..." ujar Sanas sambil menjulurkan lidahnya.


"Gadis nakal." ujar Tama.


"Tapi kau suka?" sindir Sanas.


"Ya.." jawabnya singkat.


"Emh.. boleh aku bicara sesuatu?" tanya Sanas tiba - tiba.


"Ya?" tanya Tama.


"jika kita di takdirkan bersama, bisakah aku hanya menjadi satu - satunya?" tanya Sanas serius.

__ADS_1


"Akan aku pastikan, tetap seperti itu." Ujar Tama. mendengar jawaban itu pun Sanas tersenyum senang, tidak ada kebohongan yang terpancar pada raut muka Tama. setidaknya dia tidak akan di madu di kemudian hari. Tapi entahlah siapa yang tau isi hati seseorang.


__ADS_2