
Keesokan harinya pagi - pagi sekali Tama sudah standby di depan kamar tempat Sanas menginap. Entah mengapa ia paling tidak bisa jika di diamkan terlalu lama, terlanjur sayang atau takut kehilangan mungkin. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu, beruntung Sanas segera membukanya.
"Ya?" tanya Sanas sebelum menyadari siapa yang di hadapanya.
"Kak Tama." ujar Sanas ingin menutup kembali pintunya, namun kalah cepat dengan Tama yang menghalangi dengan kakinya.
"Ada apa?" tanya Sanas, bukannya menjawab Tama justru nyelonong masuk kedalam kamar Sanas.
"Kak Tama, ini masih pagi kumohon jangan membuat kekacauan." ujar Sanas.
"Hey.. aku hanya menghampiri calon istriku apa itu salah?" tanya Tama.
"Tidak salah, hanya saja waktunya yang tidak tepat. Kau lihat aku belum mandi masih acak - acakan, apa kau kira pantas seorang calon suami melihat keadaan calon istrinya yang menjijikan ini?" ujar Sanas panjang lebar dengan nada ketusnya.
"Hey.. kau tetap cantik dalam keadaan apa pun, dan aku tidak peduli mau kau acak - acakan, mau kau bau atau apalah itu tidak akan merubah setatusmu sebagai calon istriku kau mengerti." ujar Tama mendekatkan tubuhnya.
"Stop, jangan mendekat!!!" ujar Sanas.
"Baiklah.. Baiklah.. aku hanya memastikan jika kau sudah tidak marah padaku." ujar Tama.
"Siapa yang marah?" tanya Sanas.
"Kau semalam kan marah." ujar Tama dengan muka polosnya.
"Tidak, aku tidak marah." ujar Sanas.
"Lalu?" tanya Tama.
"Aku hanya acting agar kau segera keluar dari kamarku, pasti kalau tidak begitu kau akan merengek minta tidur disini bersamaku kan?" ujar Sanas jujur.
__ADS_1
"Wah.. curang ih.." dengus Tama, Sanas pun tertawa terbahak - bahak di buatnya.
"Sudah cepat sana mandi, setelah ini kita pergi.." ujar Tama.
"Kemana?" tanya Sanas.
"membeli semua keperluanmu." ujar Tama.
"Tapi aku belum membutuhkan sesuatu saat ini kak.." kata Sanas.
"Tidak ada tapi, aku harus tau apa semua kebutuhanmu mulai sekarang." kata Tama.
"Kakak, ayo lah.. aku belum jadi istrimu, jadi aku belum tanggung jawabmu." kata Sanas.
"Tapi aku ingin menanggungnya." kata Tama kekeuh.
Tak selang berberapa lama Sanas pun keluar dari kamar mandi, ia pun bersiap untuk mengikuti kemauan Tama.
"Sudah?" tanya Tama.
"he'em.." jawab Sanas.
"Ayo kita berangkat." kata Tama sambil menggandeng tangan Sanas.
****
Kini Sanas dan Tama memasuki salah satu mall terbesar di kota M, tanpa basa basi Tama langsung mengajak Sanas memasuki salah satu toko pakaian dengan berbagai macam brand terkenal, ia membebaskan Sanas untuk memilih sesuai keinginanya sendiri. Wanita mana yang tak tergoda jika di suruh belanja sepuasnya, tapi lain halnya dengan Sanas. Ia tak begitu hobby dalam hal berbelanja apa lagi barang - barang bermerk, ia hanya mengambil beberapa T-shirt.
"Aku menyuruhmu belanja, bukan hanya melihat." ujar Tama.
__ADS_1
"Ini.." ujar Sanas sambil menunjukan pakaian yang di bawanya.
"hanya ini?" tanya Tama sambil menenteng T-shirt yang di bawa Sanas.
"hu'um.." jawab Sanas mengangguk.
"Oh.. ayolah tolong!!" dengus Tama mengusap kasar wajahnya, Sanas tampak bingung melihat tingkah Tama yang aneh.
"Kau Kesini.." panggil Tama kepada penjaga Toko.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Ambilkan baju, sepatu dan tas keluaran terbaru di toko ini untuk kekasihku, langsung bawa ke kasir." ujar Tama.
"Kakak itu tidak perlu, aku mau ini saja." sergah Sanas. sang penjaga toko tampak bingung melihat keduanya.
"Tunggu apa lagi? cepat ambilkan.." ujar Tama, sang penjaga toko pun dengan segera mengambilkan barang yang di minta oleh Tama.
"Kakak, ini berlebihan." ujar Sanas.
"Sayang, dengar.. uangku tidak akan habis hanya untuk membelikanmu barang - barang ini oke.." ujar Tama.
"Huft.. harusnya kakak bersyukur karena aku hemat. di luar sana banyak cowok - cowok yang mengeluh karena ceweknya matre minta ini minta itu." ketus Sanas.
"Hallo Sayang, jangan samakan aku dengan pria lain di luar sana okey.. jelas aku berbeda." ujar Tama.
"Baik Tuan Tama Ardiwinata yang kaya raya." ujar Sanas.
"Calon suami Kreyasa Anastasya.." imbuh Tama.
__ADS_1