
Eliyas masuk ke lobby sekolah XX disusul Kelvin dibelakangnya. Tanpa basa basi Eliyas langsung menuju ruang Kepala Sekolah, bukan Eliyas namanya jika tidak membuat kehebohan atas ketampanannya. Semua guru dan murid yang tengah belajar pun tak terfokus dengan pelajaran karena melihat pemandangan langka. Tanpa permisi Guru yang kala itu mengajar dikelas Sanas keluar begitu saja dengan tergopoh - gopoh.
"Ssstt..."
"Apa?" Sanas dikejutkan oleh Gea.
"Itu.." Gea menunjuk keluar kelas, seketika Sanas memandang kearah yang ditujuh Gea. Namun ia kembali terfokus ke buku sejarah yang ada di depannya.
"Ishh.. kau ini ada vitamin lewat malah disia - siakan." ujar Gea.
"Kau diamlah aku tidak tertarik dengan pria arogan seperti itu." kata Sanas.
"Kira - kira dia mau ngga ya kalo jadi sugar daddyku?" tanya Gea.
"Kau sudah siap di unboxing hah?" Tanya Sanas.
"Ihh.. kok ngeri kali pakek di unboxing, takutlah aku." ujar Gea bergidik ngeri.
"Makanya jangan mikir punya sugar daddy kalo gamau di unboxing." kata Sanas lagi.
"Ya sekedar teman makan + ngabisin duit dia aja bukan teman tidur." kata Gea ngotot.
"Ya sudah kau coba saja dekati dia dan katakan apa tujuanmu, pasti dia mau." ujar Sanas.
__ADS_1
"Mau jadi Sugar Daddyku?" tanyanya girang.
"Bukan.." kata Sanas
"Lalu?" tanya Gea lagi.
"Mau memenggal kepalamu itu biar kau tau diri." ketus Sanas.
"Ishh.. menyebalkan sekali." ujar Gea menajukan bibirnya.
"Ehh.. btw, besok kan ada rapat pleno antara guru - guru dan para donatur, kita libur ngga ya?" tanya Sanas.
"Ha.. iya ya, masak kita tetap masuk." ujar Gea tanya balik.
"Hehehe.. kan aku ngga tau." kata Gea sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sampai jam istirahat tiba, pak Herman guru sejarah yang mengajar kelas Sanas belum juga kembali, akhirnya semua siswa memutuskan untuk bubar dan menuju kantin, termasuk Sanas and the geng.
Saat tengah menikmati makanan yang ia pesan di kantin tiba - tiba ada seorang siswa yang menghampiri gerombolan Sanas.
"Apakah disini ada yang namanya Kreyasa Anastasya?" tanya anak itu dengan tiba - tiba, sontak membuat semuanya kaget dan menghentikan aktivitas makannya.
"Iya ada ini dia orangnya." sahut Gea sambil menunjuk Sanas.
__ADS_1
"Hmmm?" Sanas hanya berdehem dengan ekspresu masih kebingungan ada seseorang mencarinya dan ia tidak mengenal siapa itu.
"Ohh ada ya, hmm jadi besok kau di utus untuk mengisi acara saat rapat pleno. Maaf mungkin ini sangat mendadak karena memang semuanya serba mendadak." kata anak itu lagi.
"Jangan lupa ya besok acara mulai jam 8 pagi kau jangan sampai terlambat, ya sudah aku permisi." tambahnya, lalu pergi. Sanas masih bengong mencerna perkataan anak barusan.
"dia siapa?" Tanya Sanas.
"Dia Daniel, anak kelas sebelah. dia calon ketua Osis." jelas Santi, Sanas hanya ber'oh ria mendengarnya sambil melanjutkan makannya.
"Tunggu.." kata Sanas tiba - tiba menghentikan makannya.
"Kenapa Queen?" Tanya Gita.
"Kalian paham tidak apa yang dikatakan anak itu tadi?" Tanya Sanas.
"Besok kau mengisi acara di rapat pleno Queenku." kata Gita.
"kenapa harus aku?" tanya Sanas kaget.
"Kenapa tadi kau ngga tanya Daniel?" kata Gea balik tanya.
"Ohh astaga." kata Sanas sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Sudahlah, kau kan berbakat jadi percaya diri saja." usul Santi. Mereka pun melanjutkan makannya lalu kembali kekelas.