
Mulai hari ini Sanas pindah ke lantai 15, karena ia sekarang bertugas menggantikan Leo. Sanas hari ini sedikit kesiangan karena ban mobilnya bocor, ia bergegas menuju ruangannya. Pintu lift terbuka, tampak Melita telah duduk manis di kursinya.
"Mbak.. Bos udah dateng?" tanya Sanas.
"Belum, kenapa? tumben kesiangan?" tanya Melita.
"Tadi ban mobil aku bocor mbak, jadi nunggu taxi onlinenya lama, ya udah aku masuk dulu ya." kata Sanas.
"Eits... mau kemana?" tanya Melita saat melihat Sanas ingin masuk ruangan Leo.
"Masuk lah.. katanya saya menggantikan Pak Leo, ruangan saya di sini dong." ujar Sanas.
"Siapa bilang ruangan kamu di situ? tempat kamu itu satu ruangan sama bos." jelas Melita.
"Benarkah? kok bisa? emang ada sistem kerja kek gitu? baru tau aku." kata Sanas heran.
"Udah.. nurut aja kali, itung - itung cuci mata." ujar Melita.
"Kok ngeri sih mbak.." ujar Sanas bergidik ngeri.
"Ngeri gimana?" tanya Melita heran.
"Akhir - akhir ini si Bos galak mbak, saya takut." ujar Sanas jujur.
"Dasar bocah, biasalah namanya juga Bos." kata Melita.
__ADS_1
"Ehmm... apakah saya membayar kalian untuk bergosip." kata seseorang dari arah belakang, sontak membuat Sanas dan Melita tertunduk.
"Malah diem, kamu? ngapain kamu masih di sini? Bukannya masuk malah bergosip." ujarnya dengan ketus, lalu berjalan melewati Sanas dan Melita.
"Tuhkan.. serem!!!'" gidik Sanas.
"Udah sana masuk nanti gaji kamu di potong loh." ujar Melita, Sanas mendengar itu pun lalu bergegas masuk ruangannya.
"Pagi Pak Presdir." sapa Sanas, namun hanya di balas dengan deheman.
"Uhh.. menyebalkan." batin Sanas, ia pun segera melakuhkan pekerjaannya.
"Oh ya, nanti setelah jam makan siang aku minta kamu ambil laporan keuangan ya. Langsung bawa kesini saja, saya mau keluar." ujar Tama.
"Baik pak.." jawab Sanas.
-Saat jam makan siang-
"Hei.. Cu!! gue kangen." ujar Caca sambil memeluk Sanas.
"Sama ih.." kata Sanas.
"Semenjak loe gantiin pak Leo, loe ngga pernah nemuin kita yakan Del." kata Caca.
"Iya Ca, sorry ya.. lu kan tau si bos meeting mulu, jadi ngga ada waktu akunya." jelas Sanas.
__ADS_1
"Iya.. Iya.. yang sekarang merangkap jadi asisten bos." ujar Caca dengan nada ketus.
"Udah lah Ca.. lagian cuma sebulan kan, abis itu dia balik lagi ke ruangan kita kok." kata Delon membela Sanas.
"Nah iya, bener tuh kata Delon. sabar aja ya, nanti gue bantu nyerang nenek lampir." kekeh Sanas.
"Udah gedek banget gua sama tu nenek lampir, dia tu bawaanya caper mulu sama si Delon." ujar Caca.
"Kenapa emangnya kalo dia caper sama si Delon? loe cemburu?" ledek Sanas.
"Bukan masalah cemburunya Nas, masalahnya tu si Delon tiap hari nempel mulu sama gue, sedangkan tu si nenek lampir ngejar - ngejar dia mulu, Gue Risih dong." jelas Sanas.
"Oh.. kirain cemburu." ledek Delon.
"Amit abrik, jabang monyet!!! gua cemburu sama loe? sorry dory stroberi deh." ujar Caca, mereka bertiga pun tertawa.
****
"Ehh.. ada nyonya besar, ngapain disini Nya?" tanya Agnes sinis.
"Mau nyamperin Ayang Delon Lah... mau ngapain lagi." ketus Sanas.
"Apa? dasar jalang!!! belum puas loe jadi jalangnya si Bos, sampe sekarang loe mau deketin Delon." hardik Agnes.
"Wait Dong.. Slow!!! ngapa loe marah? suka - suka gue dong mau deketin siapa aja." ujar Sanas.
__ADS_1
"Dasar Jalang!!!!" hardiknya lagi.
"Misi ya, tuh yayang Delon udah nungguin aku." kata Sanas melewati Agnes dengan mengibaskan rambutnya. Caca pun tersenyum senang saat melihat Sanas membakar emosi Agnes. Sedangkan Delon hanya terdiam sambil menahan tawanya.