
Seketika pandangan Sanas tertujuh kepada seseorang yang baru saja tiba di kasir. Ia terfokus kepada seorang wanita yang tengah bergelanyut manja kepada seorang pria yang tak asing itu.
"Tuan Eliyas Anggara." sapa Tama tiba - tiba. seketika Eliyas terkejut saat menyadari siapa yang memanggil namanya.
"Oh.. Tuan Tama dan CALON ISTRINYA, Senang bertemu anda disini." ujar Eliyas sambil menekan kata - katanya. Hati Sanas bak di tusuk belati saat mendengar ungkapan dari Eliyas, entah kenapa ia seolah menolak kenyataan yang ada.
Pandangan keduanya bertemu, Eliyas seolah mengibarkan bendera peperangan sedangkan Sanas, ia sendiri pun tak tahu ekspresi apa yang ia tunjukan saat ini.
"Hallo Tuan Eliyas, pacar baru lagi?" sindir Sanas, Eliyas tampak gelagapan mendengarnya.
"Hus.. Sayang jaga bicaramu." ingat Tama.
"Maafkan kelancangan saya Tuan, saya harap kata - kata saya barusan tidak anda masukan ke hati." ujar Sanas sambil menunjukan senyum terpaksanya.
"Sayang, ayo kita pulang.. aku lelah." ujar Sanas dengan manja. Sontak membuat Tama terkejut karena baru pertama kalinya Sanas bersikap demikian.
"Baiklah kita bayar belanjaan kita dulu setelah itu kita pulang okey." kata Tama sambil mengelus pipi Sanas dan di balas anggukan oleh Sanas. Eliyas yang menyaksikan itu pun terbakar api cemburu, ia mengepalkan tangannya. Hampir saja ia kelepasan, namun akhirnya ia di sadarkan oleh ponsel yang berbunyi.
Saking fokusnya menerima telepon, Eliyas sampai tidak menyadari kemana perginya sepasang kekasih yang sedari tadi ia ikuti.
"Shit!!!!" umpatnya. Dengan perasaan kecewa ia melajukan mobilnya menuju salah satu club di kota M.
*****
"Sayang, 6 bulan lagi kau sidang skripsi bukan?" tanya Tama.
__ADS_1
"Ehm.." jawab Sanas yang sedang tiduran di pangkuan Tama.
"Itu artinya 7 bulan lagi hari pernikahan kita." ujar Tama.
"Ya.. kalau aku lulus skripsi." jawab Sanas enteng.
"Ya harus lulus lah, kau mau lama - lama menunda pernikahan kita?" tanya Tama.
"Bukan begitu sayang, kan kamu tau sendiri itu ngga gampang." ujar Sanas.
"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus berhenti bekerja dan fokus untuk skripsi." ujar Tama.
"Tidak.. Tidak.. Tidak.. lagi pula aku bekerja untuk kepentingan skripsi juga kok, kenapa harus berhenti?" tolak Sanas.
"Apa kau meragukan kemampuanku?" sungut Sanas.
"Ish.. bukan begitu.." kata Tama serba salah.
"Sayang, kamu tenang saja ya.. kita akan menikah tepat waktu oke." ujar Sanas. Tama pun hanya bisa mengiyakan perkataan Sanas.
Sanas beranjak dari posisinya kini ia menuju balkon kamar yang berada di ruangan Tama. Ia menyaksikan pemandangab gedung - gedung pencakar langit yang berjejer. Tama menyusul Sanas, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Sanas.
"Sayang, Apa kita sudah boleh mencobanya?" bisik Tama tiba - tiba.
"Mencoba apa?" tanya Sanas tak mengerti.
__ADS_1
"kita sudah berhubungan sekian lama tapi tak pernah mencobanya, aku penasaran." ujar Tama lagi.
"Mencoba apa maksutmu?" tanya Sanas masih tak mengerti.
"Ish.. masak iya kamu ngga ngerti." dengus Tama.
"Iya emang aku ngga ngerti. apaan sih? yang jelas dong kalo ngomong biar aku paham." ujar Sanas.
"Apakah kita sudah boleh mencoba untuk ML?" tanya Tama mengeratkan pelukannya.
"Sayang, ini ngga lucu." ujar Sanas sembari melepaskan tautan dari tubuh Tama. Ia tahu jika saat ini Tama sedang bernafsu.
"Sekali saja." ujar Tama mendekatkan wajahnya.
"Tidak!!" seru Sanas mendorong tubuh Tama, namun ia kalah cepat, Tama sudah membopong tubuhnya untuk di pindahkan ke ranjang. kini Posisi Sanas sedang berada dalam kukungan Tama.
"Kakak.. lepaskan!! ini tidak lucu.." seru Sanas.
"Ku mohon obati rasa penasaranku." ujar Tama mendekatkan bibirnya ke arah bibir Sanas, Sanas berusaha untuk menghindar. Namun hal itu justru membuat Tama semakin leluasa bermain di leher jenjang miliknya, Sanas mengeliat.
"Kakak.. lepaskan!! ku mohon jangan begini." seru Sanas namun tak di hiraukan Tama. Tama semakin menjadi ia mencoba menyibak pakaian bagian atas Sanas hingga menampakan perut rata dan kedua bukit kembar yang menantang. Keinginan serta rasa penasaran yang selama ini ia pendam seakan meledak begitu saja.
Kini Sanas benar - benar pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Seketika cairan bening dari pelupuk mata mengalir dengan derasnya. Beruntung, Tama segera menyadari jika apa yang di lakuhkannya salah, Ia segera menghentikan aksinya.
"Ma.. Maafkan aku!!" kata Tama segera pergi menuju kamar mandi.
__ADS_1