
"Baik.. itu yang dapat saya sampaikan dan untuk para donatur kita beri waktu untuk berdiskusi mengenai hal ini." kata Ketua Komite, para donatur diberi waktu 30 menit untuk berdiskusi. Sedangkan Sanas kembali menjalankan tugasnya untuk menghibur para hadirin selama diskusi berlangsung.
Jangan sembunyi
Kumohon padamu, jangan sembunyi
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Bertanya
Cobalah bertanya pada semua
Di sini kucoba untuk bertahan
Ungkapkan semua yang kurasakan
Kau acuhkan aku
Kau diamkan aku
Kau tinggalkan aku
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Kuingin kulupakannya
Jangan sembunyi
Kumohon padamu, jangan sembunyi
__ADS_1
Sembunyi dari apa yang terjadi
Tak seharusnya hatimu kau kunci
Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya
Hilangkanlah ingatanku
Jika itu tentang dia
Kuingin kulupakannya
Lagi - lagi Sanas membuat semua orang takjub dengan suara merdunya. Entah mengapa setiap orang yang mendengar ia bernyanyi akan merasa teduh dan tenang, ditambah lagi dengan pesona dari wajahnya akan membuat terpanah siapapun itu.
"Baik.." Eliyas mulai buka suara.
"Setelah saya dan rekan saya baca semua rangkaian rencana pembangunan yang terdaftar untuk proses pembangunan kelas tambahan dan beberapa laboratorium. Saya menyimpulkan bahwa sekolah ini masih kekurangan dana 80%."
"...." Semua hening.
"Betul begitu Pak Gresa?" Tanya Eliyas dengan tatapan mengintimidasi.
"Be.. Betul Tuan!!" jawab pak Gresa Gugup.
"...." kembali hening.
"Jadi.. Saya menyatakan setuju akan pembangunan tersebut. Sisa kekurangan dana saya yang tanggung, Terima kasih." ujarnya tanpa mengurangi sikap arogannya.
"Hufh..." semua bernafas lega. Sanas yang sedari tadi menyimak pun terbelalak mendengar perkataan Eliyas.
__ADS_1
"Hish.. tak manusiawi." lirihnya
"Maksutmu apa?" tanya Dion yang mendengar ucapan Sanas.
"Apa kau tidak dengar pria arogan itu bilang apa?" Sanas balik tanya.
"Dia mau donasi kekurangan dana pembangunan." Jawab Dion dengan muka polosnya.
"gila!!"
"Nora lu Nas!! biasa aja kali, Ayah dari Tuan Eliyas menang Donatur tetap disekolah ini. Bahkan lantai yang kau pijak saat ini juga berasal dari uang beliau." Jelas Dion.
"Gimana ngga gila, dana 80% dia yang akan menyumbang. hah.. orang kaya mah bebas" Batin Sanas.
Rapat pun telah selesai, Sanas dan anak - anak band lainya juga ikut beranjak dari ruang AULA dan menuju kelas masing - masing. Tak sengaja Sanas berpapasan dengan Eliyas yang kala itu juga akan keluar dari AULA, refleks Sanas menunduk hormat kepada Eliyas.
"Terima Kasih." Kata Eliyas. Sanas hanya mengernyitkan dahi karena bingung.
"Aih.. Tampan tapi sayang Arogan." Batinnya, ia pun mengekor di belakang Eliyas dan Asistennya.
Kelvin tampak memperhatikan Sanas menggunakan ekor matanya tanpa ekspresi. Sanas yang mengetahui hal itu tidak menggubris sikap asisten dari pria arogan yang ada di depannya.
"Bos dengan Asisten sama saja. Sama - sama dingin dan datar." Batin Sanas.
"Jangan mengumpatku!!" Seru Eliyas.
Dukkh!!
"Auww.." Sanas meringis kesakitan, karena fokus berjalan ia tidak memperhatikan seorang yang di depannya tengah berhenti, alhasil ia menabrak Pria Arogan didepannya.
"Pfttt.." Kelvin menahan tawanya karena melihat ada cap bibir tipis di kemeja tuannya.
"Mampus!!" Batin Sanas.
__ADS_1