
Selesai menyegarkan tubuhnya, Sanas keluar dari kamar mandi namun tak di temukannya seorang Eliyas disana.
"Dimana tas dan ponselku ya." lirih Sanas coba mencari ke setiap sudut kamar.
"Apa kau mau di kamar terus sampai berakar." ketus Eliyas. Sontak membuat Sanas terkejut.
"Tuan ini selalu mengagetkanku." ujar Sanas.
"Siapa suruh kau lama sekali di dalam kamar, Cacing - cacing di perutku ini meronta - ronta karena menunggumu terlalu lama." ketus Eliyas. Sanas mendengar itu pun mengernyitkan dahi.
"Kenapa masih di situ? ayo keluar aku sudah pesab makanan." ujar Eliyas langsung pergi di susul oleh Sanas.
"Tuan ini ngga ada manis - manisnya." gerutu Sanas.
"Bersikap manis ke kamu sama saja buang - buang waktu." ujar Eliyas. Sanas mendengat itu pun mengerucutkan bibirnya.
"Sudah cepat makan, habiskan agar tubuhmu yang hanya tulang itu sedikit berisi." perintah Eliyas.
"Apa dia buta? orang sexy kaya gini di bilang tulang. Dasar ngga waras!!!" umpat Sanas.
"Sebentar lagi Kelvin akan datang untuk mengantarmu pulang." ujar Eliyas di tengah - tengah mengunyah makanan.
"Aku bisa pulang sendiri Tuan.." Tolak Sanas.
__ADS_1
"Kelvin bela - belain meninggalkan pekerjaanya demi bisa mengantarmu pulang, kamu dengan seenak jidatmu menolak? Tidak bisa!!!" sergah Eliyas.
"Ai.. yang minta di antar juga siapa?" batin Sanas.
"Astaga Tuan, dimana ponselku? Aku belum meminta ijin tak bekerja hari ini." tanya Sanas.
"Apa kau buta, lalu apa yang ada di hadapanmu itu?" ketus Eliyas.
"Oh.. Shitt!!! bagaimana aku tidak melihatnya." batin Sanas meraih ponsel di dalam sling bag-Nya. Ia beranjak dari duduknya lalu melakuhkan sambungan telepon di tempat yang agak menjauh dari Eliyas. Tak selanfmg beberapa lama Sanas sudah kembali dan melanjutkan sarapan.
"Sudah? Sekarang habiskan makananmu, aku tidak mau uangku terbuang sia - sia jika kau tak menghabiskannya." ujar Eliyas. Sanas pun tak menggubrisnya.
Tak selang berapa lama Kelvin pun datang.
"Lah.. biasanya juga ngga permisi dulu." jawab Kelvin. Eliyas tampak kesal mendengar jawaban dari Kelvin.
"Hai Tuan Kelvin, Apa kau sudah sarapan?" tanya Sanas.
"Saya tidsk terbiasa sarapan Nona." jawab Kelvin ramah.
"Hey.. Ayo lah bantu aku menghabiskan makanan ini." bujuk Sanas.
"Tidak usah Nona.." tolak Kelvin.
__ADS_1
"Kalau begitu aku tidak mau di antar pulang olehmu." ujar Sanas merajuk. Kelvin tampak kebingungan, ia melirik ke arah atasannya, setelah mendapat kode persetujuhan Kelvin duduk di samping Sanas lalu makan.
"Dasar Bocil.." batin Eliyas.
"Vin kau antarkan bocah tengil ini pulang, aku mau ke kantor." ujar Eliyas meraih kunci mobil yang di hadapannya.
"Oke!!" jawab Kelvin singkat.
Sanas sedikit terheran saat mendengar jawaban singkat dari Kelvin. Kelvin yang seolah tau isi kepala Sanas hanya tersenyum.
"Kalau di kantor dia bosku, tapi kalau di luar dia adalah temanku." kata Kelvin. Sanas yang mendengarnya pun hanya ber-oh-ria.
"Apa nona mau pulang sekarang?" tanya Kelvin.
"Ya kau benar Tuan Kelvin, aku ngga mau terlalu lama berada di sini.. Horor!!!" ujar Sanas sambil bergidik.
"Baiklah, mari saya antar." ujar Kelvin. Sanas pun mengikuti Kelvin dari belakang.
Kini Sanas dan Kelvin sudah berada di perjalanan menuju kost tempat tinggal Sanas. Butuh waktu sekitar 25 menit mereka pun sampai.
"Terima kasih Tuan Kelvin telah mengantarkan Saya, Salam untuk Tuan Eliyas.. Terima Kasih selama ini tanpa sengaja selalu membantu saya." ujar Sanas sebelum keluar dari mobil, hal itu pun di sambut dengan senyuman oleh Kelvin.
"ku harap Eliyas berjodoh dengannya." batin Kelvin lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1