
Mobil Sport warna hitam milik Tama terparkir di depan salah satu Caffe & Resto terkenal di kota M, jaraknya lumayan jauh dari kantor. Tama dan Sanas masuk bersamaan, mereka menempati salah satu ruang VIP yang telah di pesan Tama. Seperti biasa mereka memesan makanan yang sama, entah kebetulan atau memang jodoh, pada kenyataannya mereka berdua selalu memiliki selera yang sama.
"Jadi bagaimana?" tanya Tama setelah menghabiskan sepiring nasi goreng seafood miliknya. Sanas mendengar pertanyaan yang di lontarkan Tama pun menghentikan aktivitas makannya.
"Maksud Bapak?" tanya Sanas dengan nada formal, karena masih jam kerja pikirnya.
"Ah.. Ayolah Nas, kita hanya berdua di sini masih saja kamu panggil saya bapak. ujar Tama.
" Emh.. E.. Makasud kak Tama apa?" ulang Sanas.
"Mengenai penawaranku agar kita saling mengobati luka satu sama lain." kata Tama to the point.
"Saya.." kata Sanas menggantung.
"Kamu?" tanya Tama.
"Saya masih belum tahu kak." jawab Sanas jujur.
"Apa yang membuatmu ragu?" tanya Tama.
"Emh.. Itu-"
"Apa kau masih mencintai mantan kekasihmu?" tanya Tama memotong pembicaraan Sanas. Sanas hanya terdiam.
"Come on Girl's, ini waktunya kau move on." kata Tama.
"Tapi kak, apa kak Tama yakin kalau hubungan kita akan baik - baik saja jika semuanya bukan di dasari oleh cinta?" tanya Sanas serius.
"Cinta akan datang dengan seiring berjalannya waktu Nas." jawab Tama mantap.
"Aku takut kalau semua itu semakin membuat kita terluka dan saling membenci." kata Sanas
__ADS_1
"Itu tidak akan pernah terjadi." kata Tama meyakinkan.
"Apa yang membuat kau yakin?" tanya Sanas lagi.
"Karena aku percaya jika cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya." kata Tama.
"Kalau yang terjadi justru sebaliknya, apa kita masih bisa bertegur sapa?" tanya Sanas.
"Ya, tapi kau tahu.. aku tak akan membiarkan itu terjadi, ku pastikan kita akan saling jatuh cinta." ujar Tama.
"Aku perlu bukti." kata Sanas.
"Katakan.." seru Tama.
"Datanglah ke orang tuaku untuk meminta restu jika kau benar - benar serius." kata Sanas.
"Mengapa harus melibatkan orang tua? apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Tama kaget.
"Tapi bukankah ini terlalu cepat?" tanya Tama.
"Kenapa? apa kau tidak sanggup?" tanya Sanas.
"Bukan begitu maksudku Nas, Pernikahan itu terjadi atas persetujuan kedua belah pihak baik orang tuaku atau pun orang tuamu.Jadi aku perlu waktu untuk meyakinkan orang tuaku jika aku mantap ingin menikah." jelas Tama.
"Baik, ku beri kau waktu 2 bulan untuk itu. Dan dalam waktu 2 bulan itu juga anggap saja kita sedang tahap perkenalan satu sama lain, jika nanti kau berubah pikiran maka kita akan bicarakan setelah waktu itu telah habis." kata Sanas. Tama terdiam, ia tampak sedang menimang - nimang ucapan Sanas.
"Aku setujuh!!!" kata Tama.
"Bagus." ujar Sanas santai.
"Dan akan ku pastikan dalam waktu 2 bulan kau akan jatuh cinta padaku, aku yakin itu." kata Tama.
__ADS_1
"Baiklah, kita lihat saja nanti." ujar Sanas.
Dibalik kesantaiannya, terdapat kebimbangan di benak Sanas. Entahlah, benar atau salah keputusannya untuk meminta Tama menghadap orang tuanya. Tapi tidak ada salahnya ia menguji keseriusan Tama dengan cara yang menurutnya paling susah, karena jika menyangkut orang tua itu artinya dia tak akan main - main.
"Ayo kita kembali ke kantor." ajak Tama.
"Loh.. katanya mau bahas materi meeting buat besok?" tanya Sanas.
"Tidak jadi, aku hanya ingin makan siang bareng kamu. Nanti materinya aku kirim lewat E-mail." ujar Tama.
"Dasar Bos genit." ketus Sanas.
"Kenapa? genit ke calon istri kan ngga masalah." goda Tama.
"Ye.. Calon istri, buruan gih yakinin orang tua biar bener - bener terwujud tuh mimpi." cibir Sanas.
"Oh.. tentu, tapi sebelum itu aku harus membuatnya jatuh cinta kepadaku terlebih dahulu." kata Tama mencolek hidung Sanas.
"Kakak.." rengek Sanas.
"Apa sih, dedek gemesnya aku." kata Tana sambil mengacak - acak rambut Sanas.
"Ihh.. apa sih kak Tama jangan lebay deh, ini lagi.. rambut aku jadi rusak loh." ujar Sanas sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan akibat ulah Tama.
"Iya.. Iya.. Maaf, yaudah kita balik ke kantor ya dedek emes." kata Tama dengan nada bicara yang di buat - buat.
"Kakak, ngomong kaya gitu lagi, aku tampol ya." ketus Sanas.
"Hahaha.. kau ini lucu sekali, baiklah.. baiklah.. aku tidak akan melakuhkan itu lagi." ujar Tama.
Mereka pun kembali ke kantor, dan menyelesaikan pekerjaan masing - masing.
__ADS_1