
Flashback On -
-Tama POV -
Ku dengar kabar dari mata - mata yang mengikuti Yussy kekasihku pergi ke kota XX dengan seorang pria. Awalnya aku tak percaya tapi untuk memastikannya, ku putuskan pergi ke kota XX yang kebetulan juga ada pekerjaan di sana. Tapi aku bingung, apa mungkin aku pergi kesana sendiri? sedangkan Leo asisten pribadiku ku tugaskan mengurus perusahaanku yang di luar kota. Terpaksa ku ajak Sanas, untung saja dia tak menolak. Sebenarnya tak apa aku pergi sendiri, tapi mengingat perjalanan cukup jauh tak enak rasanya jika tak ada yang di ajak ngobrol, meskipun ia orangnya sedikit cerewet dan menyebalkan tak apa lah. Lagi pula apa salahnya aku mengajaknya? kan betul ada pekerjaan di sana dan kini dia statusnya sebagai pengganti Leo bukan.
Pagi itu kita berangkat ke kota XX, Apa ini? aku mengajaknya untuk teman ngobrol, sekali ngobrol Benarkan dia sangat menyebalkan, Dia mengajakku menginap di rumahnya dan menolak tidur di hotel, apa dia pikir aku tak mampu membayar kamar hotel. Kota ini pun mampu ku beli dengan sekali kedip. dan lagi bisa - bisanya ia menguji kesabaranku dengan menggodaku. bukan menggoda tapi aku tergoda Shit!!! aku kemakan omonganku sendiri. dasar wanita gila.
__ADS_1
"Tapi tak apa, itung - itung refresh otak sebelum ngagap Yussy." Batinku.
Aku merasa lelah, akhirnya ku putuskan untuk mampir ke sebuah Caffe, sekalian mengisi perut yang keroncongan. Wanita ini benar - benar tak bisa di tebak, kadang penurut kadang sesukanya. Ahh.. tau lah, bukan urusanku, dasar menyebalkan.
"Nasi Goreng Seafood dan Lemon Tea.." ujar kami bersamaan, sampai pelayan yang mendengar kami tersenyum. pasti dia mengira kami sepasang kekasih saking kompaknya.
"Selera kita sama Tuan, jangan - jangan kita jodoh." ujarnya sambil terkekeh.
"Baiklah kita lihat saja nanti." ujar Sanas sembari mengerlingkan sebelah matanya.
"Ughh.. disini Panas sekali.." ujar Sanas dengan suara manjanya, aku terbelalak kaget saat Sanas berdiri membuka Blazernya. kini terpampang nyata keindahan lekuk tubuh Sanas yang hanya di baluti kemeja putih Press Boddy dan rok Span di atas lutut.
__ADS_1
Glekk!!! Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri ketika melihat keindahan ciptaan tuhan di hadapanku
"Bodoh kau Tama, bisa - bisanya membangunkan singa tidur." batinku dengan tetap menatap lekat wanita di depanku. Apa dia sedang mengerjaiku, dasar wanita gila.
Kesabaranku kembali teruji ketika tak sengaja seorang waiters menumpahkan minuman tepat di dada Sanas.
"Apa wanita gila ini hanya memakai bra warna hitam tanpa tanktop di balik kemeja putihnya." batinku saat melihat buah dada Sanas yang terlihat jelas karena kemejanya basah, setelah menyadari jika ku perhatikan. Ia segera menutup bagian dadanya dengan blazer.
"Siapa suruh menggodaku, sekarang kau kena batunya." batinku tersenyum penuh kemenangan.
Kami akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Sanas, sesampainya di sana aku di sambut oleh bibi Sanas yang mengira aku calon menantunya, oh astaga bisa gila jika aku punya calon istri seperti dia. Ah.. tapi tak apa minimal pantas di ajak ke pesta, aihhh apa pula yang ku pikirkan ini. Ternyata tak ada ruginya aku menginap di sini, rumah yang ukurannya sedang dengan design yang terbilang mewah di banding dengan perumahan lainya di kelilingi pepohonan dan beberapa tanaman hias yang semakin menambah kesan asri membuatku betah dan tak gampang bosan. Apa lagi keluarga Sanas yang tampak welcome dan tak keberatan atas kehadiran diriku.
__ADS_1