CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 128


__ADS_3

Eliyas membuka pintu kamar mandi, di lihatnya Sanas yang pucat pasi. Sebenarnya ia merasa iba melihat keadaan Sanas saat ini, di satu sisi Eliyas tidak mungkin melakuhkan tanpa ada rasa suka sama suka.


"K..k..ak.. E..l.. Tolong..." pinta Sanas terbata - bata.


"Maaf aku tidak bisa membantumu." ujar Eliyas.


"K..kak.." ujar Sanas mulai beranjak dari bathup dan mendekat ke arah Eliyas. Eliyas menelan ludahnya sendiri saat melihat tubuh Sanas yang setengah telanjang, bagaimana pun Eliyas adalah laki - laki normal.


"Maafkan aku.." ujar Eliyas sambil menggendong Sanas. Di lemparnya Sanas ke atas ranjang. Tiada pilihan lain, Eliyas harus melakuhkannya. Demi kebaikannya dan juga demi kebaikan Sanas sendiri.


Eliyas mulai melucuti pakaiannya sendiri hingga hanya tersisa celana boxer saja. Ia juga melepaskan pakaian Sanas yang sudah tak berbentuk lagi, Eliyas menganga melihat keindahan tubuh Sanas yang tanpa sehelai benang pun. Kulit putih bersih, dan tubuh yang berisi membuat Eliyas terpanah. Ia mulai menjelajahi setiap inci pada tubuh Sanas, Erangan dan ******* manja keluar dari mulut Sanas. Kini saatnya Eliyas bermain dengan bagian inti Sanas, Melihat Sanas mengelinjang membuat nafsunya semakin meronta - ronta.


Eliyas mulai menempelkan benda pusakanya kearah lubang kenikmatan Sanas. Ia tampak ragu - ragu untuk melanjutkan aksinya.


"Maafkan aku.." ujar Eliyas menghentakan benda pusakanya.


"Apa ini, sulit sekali." batin Eliyas, ia mengulanginya sekali lagi. Terlihat Sanas meringis kesakitan.


"Kenapa sempit sekali? dan apa ini? darah?" lirih Eliyas, ia semakin di buat serba salah atas tindakannya.

__ADS_1


"Dia masih perawan." sesal Eliyas. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah kepalang tanggung.


Pergulatan panas antara Sanas dan Eliyas terjadi hingga menjelang pagi, Entah sudah berapa kali Eliyas memuntahkan lahar panasnya. Yang jelas ia merasa milik Sanas adalah candu baginya. Kini keduanya terkulai lemas dengan posisi Eliyas menindih Sanas.


"Maaf.." hanya kata itu yang mampu Eliyas katakan kepada Sanas.


***


-Arthamara Group-


Terlihat seorang pria berjas datang ke meja resepsionis, Dia adalah Zen, ia ingin bertemu sahabat karibnya.


"Tuan, anda di tunggu oleh pak Tama di ruangannya." ujar Resepsionis.


"Hallo Sob, lama kita tak jumpa." ujar Zen saat sampai di ruangan Tama. Tama hanya membalas dengan senyum tipis.


"Mana calon istrimu?" tanya Zen tiba - tiba, mendengar Zen menyebut calon istri membuat Tama naik pitam.


"Kau kesini ingin bertemu denganku atau dengan calon istriku yang sudah kau cicipi?" tanya Tama sinis.

__ADS_1


"Apa maksutmu?" tanya Zen bingung.


"Jangan pura - pura bodoh Zidan, aku tahu kau telah meniduri calon istriku bukan?" tanya Tama.


"Jaga mulutmu Tama, tahu dari mana kau?" tanya Zen.


"Waktu itu aku tak sengaja mendengarkan percakapan kalian berdua." ujar Tama.


"apa kau mendengarnya dari awal?" tanya Zen.


"Tidak, hanya saja itu cukup membuat aku tahu yang sebenarnya." ujar Tama.


"Kau bodoh, itu tak seperti yang kau pikirkan." ujar Zen, ia pun mulai menceritakan awal mula kejadian beberapa tahun yang lalu bisa terjadi dengan detile. Tama yang mendengar itu pun terkejut bukan main, selama ini ia sudah salah paham.


"Hubungan kalian baik - baik saja kan?" tanya Zen. Tama hanya menggeleng.


"Lalu?" tanya Zen. Tama pun menceritakan semuanya.


"Brengsek..." teriak Zen sambil menonjok muka Tama.

__ADS_1


"Pria brengsek.. ingat Tama kau akan menyesal." ujar Zen pergi begitu saja.


"Kau benar Zidan.. aku menyesal." ujar Tama sambil melihat cincin tunangan yang ia lepas beberapa hari terakhir.


__ADS_2