CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 114


__ADS_3

"Mau cari mati hah? apa mau nipu biar dapat uang." hardik sang empunya mobil.


"Apa aku sudah di surga?" tanya Sanas yang masih terduduk dan menangis.


"Kreyasa Anastasya, kau kah itu?" tanyanya. Merasa namanya terpanggil, Sanas pun mendongakan wajahnya demi memastikan siapa orang yang mengenali dirinya itu.


"Tuan Eliyas.." ujar Sanas seketika beranjak dan memeluk tubuh Eliyas.


"Kau kenapa bisa hujan - hujanan begini? ayo masuk mobilku nanti kau sakit." ujar Eliyas menggiring Sanas menuju mobilnya.


"Pakai ini agar sedikit merasa hangat." kata Eliyas sambil memberikan jas yang semulanya ia lepas.


"Terima kasih.." ujar Sanas yang masih terisak.


"Apa kau mau ku antar pulang?" tanya Eliyas, Sanas hanya menggelengkan kepalanya.


"Ini sudah malam, kau mau kemana dalam keadaan basah kuyup seperti ini?" tanya Eliyas.


" Terserah.. Aku butuh ketenangan." jawab Sanas. Eliyas mendengar itu pun hanya bisa mengehela nafas panjang. kini ia melajukan mobilnya tak tentu arah, ia sendiri bingung harus membawa Sanas pergi kemana. Terlihat Sanas mulai menggigil.


"Hei, apa kau baik - baik saja?" tanya Eliyas.


"Apa boleh kecilkan ac nya sedikit saja, aku kedinginan." kata Sanas dengan bibir yang menggigil.


"Astaga, kau bisa demam.. akan ku antar kau pulang." ujar Eliyas.


"Tidak, aku tidak mau pulang. antarkan saja aku ke salah satu penginapan dekat sini, aku tidak mau merepotkanmu." kata Sanas.


"Ke apartemenku saja, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini." kata Eliyas. Tanpa menunggu persetujuan dari Sanas ia melajukan mobilnya menuju apartemen.


Sesampainya di apartemen terlihat Sanas sudsh tertidur pulas, tanpa aba - aba Eliyas menggendong Sanas menuju kamarnya.


"Sekarang yang jadi pertanyaan siapa yang akan menggantikan pakaianmu bocah nakal." ujar Eliyas menyentil hidung Sanas, seketika Sanas pun terkejut dan terbangun.


Sanas terdiam dan hanya mengedip - edipkan matanya.


"Malah bengong." ujar Eliyas kembali menyentil hidung Sanas.

__ADS_1


"Astaga Dragon, aku kira aku sudah di surga bersama sang pangeran, ehh.. taunya..." ujar Sanas tak melanjutkan perkataannya.


"Apa? mau ngejek?" tanya Eliyas.


"Tidak.. Tidak.." jawab Sanas.


"Cepat ganti pakaianmu." ujar Eliyas.


"Siap bapak negara." ujar Sanas.


Selesai berganti pakaian Sanas menyusul Eliyas yang sedang berduduk satai di depan TV.


"Aku kira baju - baju milikku sudah kau buang." ujar Sanas tiba - tiba.


"Saya juga tau etika, lebih baik saya biarkan saja lagi pula itu bukan milik saya jadi saya tidak berhak untuk membuangnya." jelas Eliyas.


"Baiklah.. Baiklah.." ujar Sanas.


"Sekarang saya tanya, untuk apa kamu malam - malam hujan - hujanan sambil nangis - nangis nggak jelas seperti itu?" selidik Eliyas, seketika raut muka Sanas yang semula sedikit ceria kembali bersedih.


Adegan Tama yang tengah memepersatukan tubuh dengan wanita lain kembali terngiang di ingatan Sanas. Seketika air matanya tak mampu ia bendung. Eliyas yang melihat itu pun segera menghapus air mata Sanas.


"Tuan.. jika Tuan melihat kekasih Tuan sedang melakuhkan hubungan intim dengan orang lain apa yang akan Tuan lakuhkan?" tanya Sanas, entah mendapat keberanian dari mana ia dengan santainya menanyakan hal sepribadi itu kepada Eliyas.


"Akan aku tinggalkan, karena jika dia bersyukur memiliki kita dia tidak akan mungkin melakuhkan hal itu." ujar Eliyas.


"Tapi kalau sebentar lagi Tuan akan melangsungkan pernikahan, apakah tuan masih akan tetap meninggalkannya?" tanya Sanas.


"Apa pun keadaannya jika tentang pengkhianatan, akan saya tinggalkan." ujar Eliyas. mendengar perkataan Eliyas, Sanas hanya terdiam.


"Memangnya kenapa? apa calon suamimu berhubungan intim dengan wanita lain" tanya Eliyas asal nyeplos.


"Ya.. baru saja aku menyaksikannya sendiri" jawab Sanas tersenyum getir.


"Maaf.. bukan maksutku-"


"Tidak apa - apa, aku baik - baik saja. kau benar Tuan, orang yang bersyukur pasti tidak akan melakuhkan hal itu." ujar Sanas mengusap air matanya yang seakan tak mau berhenti menetes.

__ADS_1


"Coba bicarakan lagi, hubungan kalian sudah terlalu jauh, bahkan akan menikah." ujar Eliyas.


"Apa menurutmu aku sanggup menerima itu semua?" tanya Sanas.


"Tanyakan itu semua pada dirimu sendiri, saranku.. sebelum kau mengambil keputusan aku harap kau sudah memikirkannya matang - matang." ujar Eliyas.


Sanas tersenyum mendengar penuturan Eliyas, entah kenapa kini hatinya jauh lebih tenang.


"Tidurlah.. ini sudah malam." kata Eliyas.


"Tuan tidak tidur?" tanya Sanas.


"Tentu saja tidur." ujar Eliyas.


"Lalu kenapa masih di sini? kenapa tidak ke kamar?" tanya Sanas.


"Kau sendiri kenapa masih di sini, kenapa tidak ke kamar? aku akan tidur di kamar lain jadi kau tidurlah di kamarku." ujar Eliyas.


"Tidak.. Tidak.. aku tidur di sofa saja, tidak etis rasanya jika seorang tamu tidur di kamar utama sedangkan pemiliknya malah tidur di kamar lain."kata Sanas.


" Jadi kau mau kita tidur satu kamar begitu?" tanya Eliyas.


"Ish.. Tuan ini mesum sekali." ketus Sanas.


"Apanya yang mesum, saya kan hanya bertanya." sergah Eliyas.


"Tapi-"


"Kreyasa Anastasya tidur!!!" perintah Eliyas.


"Baik Bapak." ujar Sanas.


"Apa katamu?" tanya Eliyas.


"Bapak, karena kata - kata anda semacam bapak menyuruh anaknya untuk tidur." jelas Sanas.


"Coba katakan sekali lagi." kata Eliyas semakin mendekat Sanas.

__ADS_1


"Ampun Tuan.." teriak Sanas saat Eliyas mulai menggelitiki dirinya.


__ADS_2