
"Bagaimana kabar Daniel Sya?" tanya Bi Rose. Sanas tercekat mendapati pertanyaan soal Daniel.
"Oh.. astaga aku bahkan sampai melupakan hal itu." batinya.
"Entahlah Bi, terakhir komunikasi dulu sebelum aku berangkat ke kota M." jawab Sanas jujur.
"Huft.. lupakan saja dia sya, jalani saja hidupmu yang baru." ujar Bi Rose.
"Aku yakin dia akan kembali Bi." jawab Sanas, Rose hanya bisa menggelengkan kepala.
"Bi.. aku keluar sebentar ya." ujar Sanas lalu beranjak dari duduknya, ia menuju bangku taman depan rumahnya.
Sanas menghela nafas dalam - dalam, ada sedikit rasa nyeri di hatinya.
"Daniel, aku yakin suatu saat kau akan datang mewujudkan impian kita dulu. Hanya saja aku sedikit cemas ketika tak mendapat kabar darimu." batin Sanas sambil berusaha menghubungi kekasihnya, bukan suara Daniel yang menjawab melainkan suara Operator tanda nomor tidak dapat di hubungi.
"Kau pasti sibuk dengan kuliahmu agar cepat kembali padaku bukan." cicit Sanas berusaha positif thinking.
"Aku tetap menunggumu disini sampai kau kembali." batinnya.
******
Tak terasa seminggu berlalu masa cuti Sanas sudah habis, ia benar - benar memanfaatkan cutinya untuk refreshing di kampung halamannya. Hanya saja, sangat di sayangkan ia tidak bisa bertemu dengan teman - teman SMAnya karena mereka bekerja di luar kota.
Hari ini Sanas sudah mulai bekerja sepHahiasanya.
__ADS_1
"Akhirnya masuk juga cecunguk satu ini." sungut Caca.
"Yee.. kangen ya? pasti kangen kan?" ujar Sanas percaya diri.
"Kita semua hampir gila tau ngga selama loe ngga ada." ketus Caca.
"Lah.. kenapa?" tanya Sanas mengernyitkan dahi.
"Aduhh... loe tau ngga si bos tiap hari marah mulu, pasti ada aja yang salah. sampe frustasi gue." jelas Caca sambil memelankan suaranya.
"emang dia marahnya ke kamu?" tanya Sanas.
"Ya, engga!! cuma gue sumpek anjir denger orang ngomel." ketus Caca.
"Terus marah ke siapa?" tanya Sanas lagi.
"Agnes!!" bisiknya.
"Dia bikin kesalahan kali." ujar Sanas menduga.
"Ya pasti lah, ngapain si bos marah - marah kalo ngga ada kesalahan. Gimana sih lu." ujar Caca ngegas.
"Hmmm.. Enak nih yang baru 6 bulan kerja langsung minta cuti." ledek Agnes dengan tatapan Sinis.
"Apaan sih, Ngga jelas." batin Sanas, tak mempedulikan ia tetap berkutik dengan layar monitor.
__ADS_1
-Jam Makan Siang-
Sanas, Caca dan Delon memutuskan untuk makan di sebuah Caffe & Resto dekat kantornya, Biasanya mereka memilih menyuruh OB untuk beli makan. Entah dapat dorongan dari mana mereka memilih keluar sendiri.
Saat asik mengunyah makanan dan sesekali berbincang, Tatapan Sanas tertuju pada seseorang yang bergandeng mesra dengan seorang wanita yang bergelanyut manja baru saja keluar dari tempat itu. Namun sangat di sayangkan ia hanya dapat menatap punggungnya saja bukan wajahnya
"Seperti tidak asing, siapa ya? Apa itu Daniel.. ahh mungkin hanya halusinasiku saja, dia kan ada di London. Kalau pun itu Daniel mana mungkin dia gandeng wanita lain" batin Sanas.
"Kenapa Sa?" tanya Delon.
"Eh.. Engga, tadi aku kira melihat orang yang aku kenal tapi ternyata engga kok." ujar Sanas sambil melanjutkan makan.
Karena jam makan siang hampir usai, tak berapa lama kemudian mereka kembali ke kantor.
"Minggu depan kita wajib dateng ya pas ulang tahun perusahaan?" tanya Sanas.
"Ya.. iyalah, kita kan karyawan disini. Gimana sih lu." ujar Caca.
"Iya sih.." kata Sanas.
"kan pasti banyak tuh para pebisnis - pebisnis yang keren - keren, tajir melintir. Lumayan buat cuci mata." kekeh Caca.
"Kepalamu itu selalu di penuhi Tubang kaya." ejek Delon
"Pala bapak kau bah, kau pikir orang tajir cuma tubang doang. Banyak kok pebisnis yang masih muda contohnya pak presdir, umurnya aja masih 23 tahun buktinya dia sukses." sergah Caca tak terima.
__ADS_1
"Hah? si bos umurnya baru 23 tahun.. wah.. wah.. cuma selisih 3 tahun dong sama gue." batin Sanas.