
Sesampainya di apartemen Eliyas segera masuk ke kamar, namun kali ini Eliyas memasuki kamar lain. Padahal biasanya ia sekamar dengan Sanas. Sanas pun di buat bingung dengan sikap Eliyas.
"Mungkin benar perusahaanya sedang ada masalah, dan tidak mau di ganggu." batin Sanas.
Namun pikiran itu seketika terhempas begitu saja, di karenakan sikap Eliyas yang acuh itu berlanjut hingga pagi.
"Kau berangkat ke kantor dengan kelvin saja." ujar Eliyas.
"Lho.. La kak El?" tanya Sanas bingung.
"Aku bawa mobil sendiri." ujar Eliyas pergi begitu saja. Sanas pun hanya mengiyakan saja, tak selang beberapa lama Kelvin telah tiba.
"Selamat Pagi Nona Kreyasa.." sapa Kelvin.
"Pagi Asisten Kelvin." balas Sanas sambil membuka pintu mobil.
"Dimana Tuan Eliyas Nona?" tanya Kelvin.
"Dia sudah berangkat duluan, mungkin ada urusan penting.' kata Sanas, mendengar pernyataan Sanas, Kelvin mengerutkan dahinya. Tak biasanya Eliyas bersikap demikian.
" Oh ya Asisten kelvin apa perusahaan sedang ada masalah?" tanya Sanas.
"Tidak Nona, keadaan perusahaan saat ini sedang stabil Nona, bahkan pemasukan naik drastis bulan ini." jelas Kelvin.
__ADS_1
"Aneh..." ujar Sanas heran.
"Memangnya ada apa Nona?" tanya Kelvin.
"Sikap Eliyas berubah sejak semalam.' ujar Sanas.
"Berubah?" tanya Kelvin heran.
"Iya, sejak sepulang dari Alun - alun kemarin dia langsung masuk kamar yang dulu ia tempati waktu aku masih baru tinggal di apartemenya. Biasanya dia tidur sekamar denganku, Dan Pagi ini malah menyuruhku berangkat bersamamu dia malah berangkat sendiri tanpa mengajakku. Kan aneh!!" ujar Sanas.
"Ku kira perusahaan sedang ada masalah, soalnya sebelumnya dia menerima telepon dari seseorang." imbuh Sanas.
"Apa anda melakuhkan kesalahan Nona?" tanya Sanas.
"Kesalahan apa?" kata Sanas balik tanya.
"Apa kau mengejekku Asisten kelvin? kau tahu sendiri kan selain Eliyas hanya kau pria yang dekat denganku. lagi pula bagaimana bisa seorang pria mendekatiku setelah awak media memberitakan seorang Eliyas Anggara melamarku beberapa minggu yang lalu." cerca Sanas.
"Coba anda ingat - ingat lagi Nona, tidak mungkin Tuan Eliyas berubah tanpa alasan." ujar Kelvin.
"Astaga... aku baru ingat." ujar Sanas.
"Sebelumnya aku bertemu dengan Daniel mantan kekasihku. apa dia cemburu?" tanya Sanas.
__ADS_1
"Mungkin!!!" jawab Kelvin singkat.
"Tapi tidak mungkin Asisten Kelvin, masak iya Tuan Eliyas marah karena aku bertemu mantan kekasihku, lagi pula itukan tidak sengaja." ujar Sanas.
"Coba tanya ke Tuan Eliyas langsung untuk memastikan Nona." ujar Kelvin.
"Benar juga ya.." ujar Sanas.
Tak selang beberapa lama Keduanya telah tiba di kantor, Sanas bergegas menuju ruangannya. Ia segera menyelesaikan tugasnya dengan tujuan agar segera bertemu Eliyas.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk.." ujar Eliyas dengan nada dingin.
"Permisi Pak.. Ini berkas yang harus anda tanda tangani." ujar Sanas lembut.
"Letakan saja di situ." ujar Eliyas tanpa mempedulikan keberadaan Sanas.
"Kakak.. aku mau bicara.' ujar Sanas.
" Bukannya kau sedari tadi sudah bicara?" tanya Eliyas dingin.
"Kakak kenapa mendiamkanku?" tanya Sanas.
__ADS_1
"Jangan bicarakan hal di luar pekerjaan ini masih jam kerja lebih baik kau lanjutkan kerjaanmu. Aku tidak menggaji karyawan hanya untuk bersantai - santai ria. di luar kau memang calon istriku, tapi di kantor kau tetap bawahanku. Jangan kau pikir kau calon istriku jadi seenaknya di perusahaanku." tegas Eliyas dengan tatapan mematikan yang membuat Sanas bungkam. Karena memang yang di katakan Eliyas benar adanya. Dengan sekuat tenaga Sanas menahan bendungan air matanya, Perkataan Eliyas cukup membuatnya sadar diri dengan posisinya sekarang.
"Permisi!!!" ujar Sanas beranjak dari hadapan Sanas, sesampainya di ruangan Sanas, ia segera menumpahkan air matanya. Entah kenapa hatinya terasa ngilu saat Eliyas berbicara dengan nada yang jauh dari kata halus. Padahal dulu Sanas sudah sering mendapat makian dari Eliyas, namun kali ini rasanya berbeda.