
Sanas telah menjemput teman - temanya satu persatu, karena Gita memutuskan untuk naik motor sendiri, seperti yang dikatakan sebelumnya mereka telah berjanjian di Dendy's Caffe. Setelah tiba di Caffe Sanas memarkirkan mobilnya.
"Kayanya Gita udah di dalem deh, Masuk aja yuk." ajak Sanas, mereka pun mengiyakan saja apa kata Sanas. Benar saja Gita sudah sampai terlebih dahulu, Gita melambaikan tangan kearah Sanas. Mereka pun menghampiri Gita.
"Sorry.. Lama ya?" tanya Sanas.
"Engga Queen, Apasi santai aja kali." jawab Gita.
"Mbak.." panggil Sanas ke pelayan.
"Silahkan.." kata pelayan menyerahkan buku menu. Mereka pun memesan makan ringan dan minuman, tak menunggu lama pesanan mereka pun datang.
"Makasih Mbak.." kata Sanas, pelayan itu pun menunduk dan tersenyum ramah.
"Ehh San, tumben lu boleh keluar sama Mamah lu?" Tanya Gita.
"Tau tuh Mamah giliran Sanas yang pamit aku dibolehin keluar, yang penting ngga pulang larut malam katanya." kata Santi.
"haha lain kali minta Sanas buat minta ijin mamah lu lagi aja San." tambah Gea.
"Enak aja.." kata Sanas memonyongkan bibirnya, sontak membuat semua orang tertawa.
"Btw.. mau kemana nih nanti kita?" tanya Sanas.
"Kemana aja deh yang penting pulangin akunya jangan kemaleman."kata Santi
" Nonton aja, hari ini ada film baru deh kayanya." kata Cindy.
__ADS_1
"Jangan nonton nanti mau ngga mau pasti pulangnya larut." sanggah Gea.
"Iya juga sih." kata Cindy.
"Gimana kita ke pasar malem deket alun - alun sana pasti seru." kata Sanas.
"Nah.. boleh tu, kita bebas mau pulang kapan aja yakan." kata Santi.
Tak lama kemudian datanglah seseorang yang menjadi sorotan para pengunjung, karena saat itu mayoritas pengunjung adalah ciwi - ciwi tak dipungkiri menimbulkan bisik - bisik karena terpesona dengan ketampanannya, Siapa lagi kalau bukan Eliyas dan Kelvin. Kali ini mereka tidak mengenakan pakaian Formal, hanya memakai Kaos dan celana Jeans dilengkapi dengan kacamata hitam. Mereka berjalan dengan santainya tanpa menghiraukan para pengunjung yang memperhatikan mereka.
"Ada apaan sih?" tanya Gea.
"Tau.. ada artis kali." kata Gita cuek.
"OMG... calon suamiku." kata Gea dengan muka syok.
"Apasih? Siapa?" Tanya Sanas Bingung, ia pun ikut menyaksikan siapa yang jadi pusat perhatian. Sanas ikut tak berkedip melihat makhluk tuhan yang di suguhkan.
Eliyas berjalan kembali melewati meja dimana Sanas duduk dengan teman - temannya, Namun pandangan Eliyas masih tetap tertuju pada Sanas yang kini posisinya tengah menunduk. Ia menuju ruang VVIP di lantai dua sambil memakai kembali kacamata hitamnya.
Jantung Sanas hampir mau copot tatkala Eliyas Melewati dirinya namun tatapannya tak lepas kearah dirinya, ingin rasanya ia melempar roti bakar yang di hadapannya kearah Eliyas. Namun mengingat siapa Eliyas, ia tak mempunyai keberanian yang cukup untuk melakuhkannya.
Sanas menoleh kebelakang memastikan, Hufh... ia bernafas lega melihat Eliyas yang berlalu.
"Ngerasa kaya dideketin malaikan pencabut nyawa tau ngga." ketus Sanas
"Hahaha... oiya loe kan pernah di marah - marahin sama dia kan waktu itu." kekeh Gita.
__ADS_1
"Iya.. ya, waktu itu Queen cuma nunduk ga berani natap tuan Eliyas sama sekali." tambah Gea.
"Seneng ya kalo liat temennya menderita.. Kalian juga bisanya diem bukannya belain ehh.. malah Gue ditinggal." ketus Sanas sambil memonyongkan bibirnya.
"Sorry.. Nas, waktu itu kita juga gatau harus apa.. Apalagi waktu beliau bentak, waduh.. rasanya jantungku berhenti berdetak." sambung Santi mengelus dada.
"Ehh.. ceritain dong, gimana kelanjutan kejadian waktu itu? penasaran tau." kata Cindy.
"Ya ngga gimana - gimana orang gue terluka ya dibawa ke UKS lah." jawab Sanas sambil makan kentang goreng.
"Terus? bukanya cuma kesleo kok bisa luka?" tanya Gita penasaran.
"Jadi pas Tuan Eliyas mau bantuin aku, aku tolak. ehh.. waktu mau jalan sendiri aku jatuh lagi jadi luka deh." jawab Sanas dengan santainya.
"Terus loe di gendong dong?" tanya Gea, Sanas hanya mengangguk.
"Wah.. curang aku calon istrinya aja belum di sentuh, jangankan disentuh dilirik aja engga." kata Gea kecewa, namun bukan direspon baik oleh teman - temannya justru mendapat pelototan.
"Terus pas di UKS gimana kan gada PMR disana." tanya Gita masih kepo.
"Ya.. Tuan Eliyas juga yang ngobatin." ujar Sanas lagi.
"Hah?" kata Cindy, Gea, Santi, Gita bersamaan.
"Iya.. karena kalo gue nolak dia buat ngobatin kaki gue, dia mau patahin sekalian.. Ya takutlah aku, jadi yaudah nurut aja." jelas Sanas.
"Terus habis itu?" tanya Cindy ngga kalah kepo.
__ADS_1
"Abis itu karena udah malem gue dianter sampe rumah, karena gue ketiduran dimobilnya Tuan Eliyas jadi Tuan Eliyas gendong gue lagi sampe kamar. Sebagai ucapan terima kasih karena nganterin Gue, paman sama bibi gue nawarin tuh Tuan Eliyas sama asistennya makan malem. udah selesai makan malem beliau pulang atau ke hotel ga tau lah gue." ujar Sanas secara detile.
"Whatt... satu mobil.. ketiduran.. makan malem.. Astaga, tau gitu gue aja kemarin yang nabrak dia." kata Gea.