
"Hai.. Tuan Eliyas Anggara, senang bertemu denganmu disini." sapa Tama saat keduanya melewati meja tempat ia duduk.
"Senang bertemu denganmu juga." balas Eliyas.
"Kelihatannya anda sedang dekat dengan orang yang sebentar lagi menjadi mantan tunangan saya." ujar Tama dengan nada mengejek.
"Oh.. benarkah? bagus kalau begitu, lebih cepat lebih baik agar saya lebih leluasa lagi." ujar Eliyas tak mau kalah.
"Pastikan dulu ia benar - benar ori atau tidak, agar anda tidak menyesal." kata Tama.
"Oh begitukah? namun yang harus anda tahu, Saya bukanlah anda yang menjudge seseorang berdasarkan masalalunya, dan saya rasa anda yang akan menyesal, tunggu saja. Ayo kita pergi.." ujar Eliyas menarik tangan Sanas.
"Udah romantis - romantisannya?" ketus Gea.
"Sorry.. Sorry.. kebawa suasana jadi lupa kalo lagi sama loe." ujar Sanas cengengesan.
"Emang gaada akhlak lu jadi temen." ujar Gea.
"Balik yuk.." ajak Sanas.
"Yuk.." ujar Gea.
"Bentar aku minta bill ke mbaknnya dulu ya.." kata Sanas.
"Udah ayo pulang." ajak Eliyas.
"Aku belum bayar kak El.." ujar Sanas.
"Kata mbaknya kita dapat gratisan." ujar Eliyas menarik tangan Sanas dan keluar dari resto, Gea kesal di buatnya, pasalnya semenjak ada Eliyas ia tak banyak bercakap dengan sahabatnya.
"Mana?" tanya Eliyas.
"Apa?" kata Sanas balik tanya.
"Kunci mobil lah." ujar Eliyas kesal.
__ADS_1
"Lah.. emang tadi kak El kesini naik apa?" tanya Sanas.
"Ya mobil, masak naik jet." ujar Eliyas.
"Kenapa minta kunci mobil yang ku bawa?" tanya Sanas bingung.
"Kita pulang bareng." ujar Eliyas.
"Terus mobil Tuan.." tanya Gea tak kalah bingung.
"Gampang, nanti juga ada yang bawa balik ke rumah, sudah mana sini kuncinya." ujar Eliyas yang membuat Sanas dan Gea bingung, saking bingungnya merka masih diam mematuk saat Eliyas menyalakan mobilnya.
"Mau pulang atau tidur di sini?" tanya Eliyas.
"Eh.. iya.. iya.. tunggu." ujar Sanas lalu naik ke mobil. Mereka pun mengantarkan Gea terlebih dahulu lalu pulang ke apartemen.
****
"Kelihatannya anda sedang dekat dengan orang yang sebentar lagi menjadi mantan tunangan saya." ucapan Tama yang mengatakan jika dirinya akan menjadi mantan tunangannya tetap terngiang di kepala Sanas.
"Emh.. iya.." jawab Sanas melepas seatbeltnya.
"Kau melamun?"
"Eh.. tidak.." jawab Sanas salah tingkah.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Eliyas.
"Tidak ada, aku tidak memikirkan apa - apa." jawab Sanas bohong.
"apa kau sedang memikirkan tunanganmu itu?" tanya Eliyas, Sanas hanya diam mendapati pertanyaan dari Eliyas. Melihat ekspresi dari Sanas, Eliyas paham betul jika yang di katakannya barusan adalah benar.
"Kalau kau masih belum rela melepaskan dia, lebih baik kau bicarakan lagi baik - baik. Memang sayang kalau hubungan sudah melibatkan orang tua. Kalau begitu aku pamit pulang dulu." kata Eliyas ingin beranjak namun di tahan oleh Sanas.
"Kakak.. jangan begitu, beri aku solusi yang lain. Jujur aku memang cinta padanya, tapi hatiku juga sakit saat melihat dengan mata kepalaku sendiri ia tengah bermain ranjang dengan wanita lain." ujar Sanas.
__ADS_1
"Kalau begitu tinggalkan dia." ujar Eliyas.
"aku sudah meninggalkan dia, aku sudah resign dari kantornya, aku sudah pindah dari kost - kostan yang lama, itu semata - mata untuk menghindarinya, karena jika aku terus - terusan bertemu dengannya, bertatap muka langsung dengannya semakin membuat aku tak karuhan. Aku jadi tidak bisa membedakan mana cinta mana benci." jelas Sanas.
"Lalu apa lagi yang membuatmu bingung? bukankah kau sekarang sudah terbebas darinya." tanya Eliyas.
"Orang Tua, aku bingung bagaimana menjelaskan kepada mereka." kata Sanas.
"Katakan sejujurnya." ujar Eliyas.
"Itu tidak mungkin, jika aku mengatakan sejujurnya, itu artinya aku harus menceritakan juga kejadian yang menimpaku di masa lampau." ujar Sanas.
"Sudah, sekarang terserah apa katamu.." ujar Eliyas ingin beranjak lagi namun Sanas tetap menahannya.
"Kakak.. tolong jangan begini." ujar Sanas mulai menitikan air mata.
"Apa lagi? bukankah kau tetap keukeh dengan pendapatmu sendiri, ya sudah.. aku tidak akan ikut campur." ujar Eliyas balik badan, ia terkejut mendapati Sanas yang sudah berderai air mata.
"Hei.. kau menangis? apa kata - kataku terlalu kasar?" tanya Eliyas menghapus air mata Sanas dan merengkuhnya dalam pelukan.
"Tidak.. hanya saja aku bingung jika tidak ada kau." ujar Sanas jujur.
"Hei.. apa pun yang terjadi aku tetap mengawasimu dari belakang, sudah jangan menangis lagi ya." ujar Eliyas.
"Aku harus bagaimana kak El.." lirih Sanas dalam pelukan Eliyas.
"Ssttt.. besok kita ke kota XX ya, kita bicarakan semuanya. Aku yakin keluargamu juga bisa mengerti. setelah nanti kita bicara pada keluargamu baru kita datang ke rumah orang tua Tama." ujar Eliyas.
"Sungguh, kau akan menemaniku? tapi bagaimana jika orang punya pandangan lain jika kau mengantarkanku?." tanya Sanas.
"Aku tidak peduli apa kata orang." ujar Eliyas.
"Terima Kasih selalu ada." ujar Sanas mengeratkan pelukannya.
"Tidak perlu berterima kasih begitu." ujar Eliyas
__ADS_1