
"Nah itu Queen dateng." Ujar Gita.
"Sanas Sini." Kata Gea, dengan muka yang ditekuk Sanas menghampiri teman - temanya.
"Ada kabar heboh buat kamu." Ujar Gita.
"Buruan cerita." Suruh Cindy.
"Kemarin ketemu Zen sama si Rere di warung deket gang rumah gw anj*r." Kata Gita.
"Owh.."
"Loe ngga kaget?" Tanya Gea heran.
"Aku udah tau kok, sebelum mereka ke sana aku ketemu di lobby." Ujar Sanas dengan santainya.
"What.." Ujar Mereka serentak.
"Loe ngga cemburu gitu?" Tanya Cindy.
"Cemburu? Why?" Tanya Sanas balik.
"Hello... Secara Queen Sanas selama ini loe deket sama dia gituu." Ujar Gea.
"Kedekatan kita itu cuma sebatas pertemanan jadi buat apa sih cemburu - cemburu ga penting tau ngga." Tegas Sanas, meskipun dadanya sesak dengan gejolak yang membara ya, dia cemburu namun apalah daya memang ia bukan siapa - siapa bagi Zen.
"Wah parah tu Zen, Kalian semua ngerasa ngga sih? Kemarin Sanas yang di deketin sekarang Rere, apa semua siswa baru mau dia deketin?" Ketus Santi.
"Wah iya ya, Ngga bener nih." Sambung Cindy
"Apaan sih kalian ini jangan berlebihan, Zen berhak dong mau deket sama siapa aja." Jelas Sanas.
"Sssttt... Bu Dita tuh." Ujar Gita.
"Pagi anak - anak, Dikarenakan para guru - guru harus menjenguk istri dari Bapak Kepsek yang sakit hari ini kalian free tidak ada pelajaran." Seketika kelas menjadi riuh mendengar pengumuman tersebut.
"Jadi untuk mengisi waktu luang kalian ditugaskan untuk membersihkan AULA untuk kegiatan Rapat Komite Bersama dengan Tuan Eliyas Anggara yang akan dilaksanakan hari kamis besok."
Huuuuu...... Semua siswa bersorak tanda tak setuju dengan pernyataan tersebut.
"Mengingat atas kehadiran tamu terhormat, Ibu mengharap atas kerjasama kalian. Saya rasa itu, Terima Kasih." Tambah Bu Dita, dan meninggalkan ruang kelas.
"Ngeselin kan." Ketus Gita.
"Mending Pelajaran kalau begini mah." Sambung Santi.
"Iya ihh.. Kapan pinternya gua coba, padahal gua kan pengen cepet - cepet lulus terus nikah sama kamu baby honey Eliyas Anggara." Ujar Gea.
"What.. nikah? hello jadi ART baru bener." Ejek Gita
"*Hahahahaha...."
"Heh.. awas aja ya kalau sampai gue di nikahin tu sama sugar daddy dan gue di sulap jadi primadona jangan ngaku loe temen gue ya*." Ujar Gea dengan PeDenya.
"Mimpi loe ketinggian maemunah, awas jatoh sakit." Ejek Gita.
"Bodoamat.. Mimpi aja dulu kenyataannya belakangan." Tambah Gea.
"Dia lagi.. Dia lagi,
Udah.. Ke AULA yuk." Ajak Sanas.
Mereka pun menuju AULA dengan membawa alat kebersihan. Diperjalanan menuju AULA Sanas sedikit melamun sehingga ia tidak fokus, hingga suatu ketika ia tak menyadari bahwa lantai yang ia lewati saat ini baru selesai di pel sehingga mengakibatkan lantai tersebut licin. Hal ini membuat Sanas tergelincir.
"Aaaaa.." Refleks dari arah belakang ada seorang siswa yang menangkapnya.
"Hati - hati." Ujar Siswa itu.
"Hufhh... Terima kasih ya, hampir saja aku terjatuh tadi." Kata Sanas berterima kasih. Siswa itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Sanas dan kawan - kawan.
__ADS_1
"Honey apa kau tidak apa - apa?" Tanya Gita.
"Tidak, aku tidak apa - apa." Jawab Sanas, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju AULA.
"Whaattt... belum ada orang satu pun." Teriak Gea.
"Lagian kenapa kita tadi buru - buru sih?" Tanya Cindy.
"Tau ihh.. pasti nanti ujungnya kita nih yang selesai in." Ketus Gita.
"Udah.. mending kita bagi tugas aja ya biar lebih cepet selesainya." Kata Sanas.
"Ya udah hayuk.." Sambung Santi, Benar saja yang membersihkan Ruangan tersebut hanyalah kelas Sanas.
**Di Kantin
Dengan langkah yang buru - buru Gita menyusul Sanas dan kawan - kawan. Dengan nafas yang terengah - engah ia langsung nyerobot minuman milik Santi.
"Pelan - Pelan lah Git." Tegur Santi.
"Haus.." Ucap Gita.
"Kau ini kenapa sih buru - buru banget, di kejar dedemit?" Tanya Sanas.
"Nahkan.. hampir gue lupa.. huhh.. huuh.. huh.." Ucap Gita ngos - ngosan.
"Istirahat dulu Git, gak usah buru - buru. Mendingan kamu pesen makan, nanti selesai makan baru cerita." sambung Sanas, Gita pun mengangguk dan segera memesan makanan.
Belum selesi Gita memakan makananya, ia sudah tersedak.
"*Uhukk.. uhukk.. uhuk.."
"Gita kan udah di bilangan pelan - pelan*." Kata Sanas sambil menyodorkan air minum, Sambil minum Gita menunjuk - nujuk ke arah belakang Sanas, bertujuan untuk memberi kode agar Sanas menengok ke belakang.
"Ada apa sih?" Tanya Santi ingin tahu dan menengok ke belakang.
"Siapa?" Tanya Sanas.
"*Terus?"
"Gebetan baru dong*." Kata Gita dengan bangganya.
"Jadi loe lari - lari kek orang kesetanan tadi cuma gara - gara itu?" Tanya Cindy.
"Hehehe...."
"Dasar!!!!" hardik Cindy sambil menoyor kepala Gita.
"Auuuww... Sakit Lahek!!! abisnya dia ganteng banget lah we, tatapannya auuuuw." Ujar Gita lagi, Sanas dan Santi hanya bergidik ketika melihat tingkah kawannya yang satu ini.
"Tunggu..." Semua Hening.
"Bukannya itu yang nolongin Sanas tadi ya" kata Santi sambil mengingat - ingat.
"Entahlah.. aku juga tidak terlalu memperhatikan wajahnya." Ujar Sanas.
"Gue rasa sekolah kita ini bakal jadi penampungan orang ganteng sama cantik, iya ngga sih." ujar Cindy
"Bisa jadi. semenjak Queen pindah kesekolah ini, udah sekian banyak juga ada anak baru pindahan dari sekolah favorit bahkan dari luar daerah." Sambung Gea.
"Dan semenjak itu juga, Tuan Eliyas Anggara terjun langsung ke sekolah kita. Padahalkan dia orang yang sibuk, bisa - bisanya menyempatkan diri belusukan demi melihat pembangunan sekolah tempat ia berdonasi." Tambah Cindy.
"Iya juga ya, padahal Perusahaan Tuan Eliyas ini sudah bertahun - tahun menjadi donatur tetap sekolah kita ini bahakan dari sebelum Perusahan di wariskan kepada beliau, perusahaanya sudah menjadi donatur tetap. Dan biasanya yang datang ke sini itu perwakilan saja." Kata Santi.
"Jangan.. Jangan.. Hey, Queen!!! Apa kau selir dari Tuan Eliyas?" Tanya Gita mengintrogasi.
"Huss... Apaan sih Gita, Ohh iya.. Tahu darimana kamu San?" Tanya Sanas.
"Tahu dari guru - guru yang sedang ngerumpi." Jawab Santi.
__ADS_1
"Memang ngga jelas tu guru - guru suka ngerumpi juga ternyata." Ketus Gea.
"Hahaha.." Mereka serentak tertawa.
Karena hari ini tidak ada jam pelajaran Sanas dan teman - temanya memutuskan untuk Refreshing di Taman. Taman yang di penuhi dengan susunan beberapa jenis bunga yang rapi karena di rawat setiap harinya membuat otak yang Stres kembali Fresh. Kini mata Sanas tertuju pada salah satu bunga yang menarik perhatiannya.
"So Beautifull.." Ujar Sanas sambil meraih bunga tersebut.
Ya, Bunga Mawar adalah bunga kesukaan Sanas, Entah pesona apa yang menarik dari Bunga Mawar sehingga Sanas amat sangat menyukainya.
"Tetaplah Hidup Mawarku, Aku Ingin Selalu menikmati Keindahanmu." Kata Sanas.
"Sanas.. Ayo kembali ke kelas, ada pengumuman." Panggil Santi.
"Oh...Oke." Sanas pun berlari kecil menghampiri teman - temanya.
"Ayo.. nanti kita ketinggalan pengumuman." Ajak Gita, mereka pun berlari menuju kelasnya. Tiba - Tiba.. Brukkk!!! Sanas menabrak seseorang hingga tubuhnya terhuyung menyebabkan lututnya membentur lantai ( kayaknya Sanas emang ahli dalam tabrak menabrak ya guys😅)
"Auuuww..." ringis Sanas
"Apa kau tidak punya mata bocah ingusan." Hardik seseorang yang di tabrak Sanas.
"suara itu seperti tidak asing." Batin Sanas dan mendongakan wajahnya.
"Tuan Eliyas.." Ujar Sanas kaget.
"Kau Lagi.." Bentak Eliyas. Gita, Santi, Gea Dan Cindy hanya terdiam bahkan tidak berani membantunya untuk bangun karena melihat ekspresi wajah Eliyas yang sedang marah.
"Apa kalian hanya akan terdiam disini? Pergi!! Dan Kau.." Sambil menunjuk Sanas.
"Kau tak akan ku ampuni, Kau harus di hukum." Sambung Eliyas. Sanas hanya bisa menunduk, ia tau apa akibat mencari masalah dengan Eliyas. Dengan berat hati Gita,Santi,Gea, Dan Cindy pergi meninggalakan Sanas bersama Eliyas.
"Bangun!!" Titahnya. Sanas mencoba berdiri.
"Auuw..." Jerit Sanas. belum sempat berdiri dengan kokoh Sanas terhuyung karena benturan yang terlalu keras membuat kakinya terluka. Dengan spontan Eliyas menangkap tubuh Sanas.
"Apa kau baik - baik saja?" Tanya Eliyas, yang membuat Sanas heran adalah nada bicara Eliyas yang semula berapi - api kini berubah menjadi lemah lembut.
"Lututmu terluka, kita ke UKS." Ujar Eliyas.
"Tuan.. Saya bisa jalan sendiri." rengek Sanas, Eliyas menghentikan langkahnya dan menatap Sanas dengan mata elangnya.
"Apa kau buta gadis kecil, lihat lututmu terluka hingga mengeluarkan banyak darah. Apa kau mau merusak repotasiku hanya karena menelantarkan gadis bodoh sepertimu." Ketus Eliyas lalu melanjutkan jalannya.
"Tapi saya bisa jalan sendiri Tuan." Kata Sanas. Eliyas pun kembali menghentikan langkahnya.
"Baik - baik, kalau begitu cepat kau jalan saja sana sendiri." Ujar Eliyas, belum ada satu langkah Sanas berjalan ia sudah terjatuh dan membuat lututnya membentur lantai.
"Arghhh.." rintih Sanas, kali ini Sanas benar - benar merasakan sakit sehingga membuat air matanya tak mampu lagi untuk ia bendung.
"Dasar gadis bodoh!!" Hardik Eliyas, dengab sigap Eliyas menggendong tubuh Sanas. Tidak ada penolakan sedikitpu dari Sanas, Ia hanya bisa menunduk.
Sesampainya di UKS, Mereka tak mendapati petugas kesehatan maupun PMR disana
"Dimana petugas PMR di sekolah ini?" Tanya Eliyas kesal.
"Petugas Kesehatan ikut Ziarah ke rumah Pak Kepala Sekolah, sedangkan PMR mungkin sudah pulang semua Tuan karena hari ini tidak ada pelajaran." Jelas Sanas.
"Tidak ada urusan, petugas kesehatan seharusnya stay di UKS. Apa perlu aku sediakan 1000 petugas hah." Bentak Eliyas, Sanas hanya terdiam mendengar pernyataan Eliyas.
"Angkat rokmu." Perintahnya sontak membuat Sanas terkejut.
"Anda mau apa?" Tanya Sanas.
"Gadis Bodoh!!! aku yang akan mengobati kakimu." Ketus Eliyas sambil mengangkat paksa rok Sanas sampai di atas lutut. Sanas berusah menutup pahanya dengan roknya yang sedikit ikut terbuka. Eliyas yang mendapati itu geram di buatnya.
"Kalau ini menghalangi seperti ini bagaimana aku bisa mengobati lukamu Bodoh?" Hardiknya sambil menyingkap kembali rok Sanas.
"Aauuuuww... Perih Tuan." Ringis Sanas.
__ADS_1
"Tahan dulu sebentar, sakitnya ngga lama kok." Ujar Eliyas menenangkan,(Heh.. otaknya jangan Traveling ya Guys😅) Sanas hanya pasrah sambil menggigit bibir bawahnya menahan perih di lututnya.