CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 42


__ADS_3

Tak terasa satu bulan berlalu, Sanas menerima gaji pertamanya. Meskipun gaji itu tak seberapa di bandingkan uang yang di kirim ayahnya, tapi ia bangga mendapatkan uang hasil dari keringatnya sendiri.


"Niel.. Kau tau aku sudah menerima gaji pertamaku, seandainya kau di sini aku pasti akan menraktirmu." Batin Sanas di sela - sela lamunannya.


"Daniel.. Sedang apa kau? hmm baru dua bulan kita berpisah sudahkah kau melupakan aku begitu saja." batinnya tersenyum getir mengingat kekasihnya yang tiada kabar sebulan terakhir.


-Di Ruangan Adam-


"Dam, gimana kalau Caffe ini di adain Live Music gitu buat narik pelanggan? kayanya asik." usul Bu Tria.


"Iya Mah, aku juga kepikiran sih masalah itu. Hmm.. coba deh nanti aku tanyain ke anak - anak punya kenalan anak band apa engga." kata Adam.


"iya ih, dari pada panggungnya itu nganggur ya kan." imbuh bu Tria.


-Ke esokan Harinya-


Seperti biasa Sanas adalah karyawan paling tertib di antara karyawan - karyawan lainnya, ia selalu menjadi karyawan pertama yang memasuki Caffe. Terkadang karyawan lain baru datang semua meja kursi dan lain - lainnya sudah tertata rapi. tak sedikit teman - temannya bekerja keheranan karena Sanas seperti tak punya rasa lelah.


Pagi itu seperti rutinitas biasanya Sanas membersihkan kembali meja - meja dan menatanya. Dengan sekali - kali dia menyalurkan hobby menyanyinya yang mendarah daging itu di sela - sela pekerjaannya.

__ADS_1


"Pumpung sepi." batinya Terkekeh, ia masih masih melanjutkan senandungnya dengan sedikit berlenggak lenggok kecil. Sampai - sampai ia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya.


Adam!! ia berniat kembali ke ruangannya karena lap topnya yang ketinggalan, namun tak di sangka justru ia mendapati satu karyawannya yang dengan tidak tau malunya berlenggak lenggok ria di depannya.


"Ehmm..." Adam berdehem, sontak membuat Sanas terkejut.


"Eh.. Mas Adam." kata Sanas malu - malu, Adam pun hanya menggeleng - gelengkan kepala mendapati tingkah karyawannya itu.


"Suaramu boleh juga." ujar Adam tiba - tiba.


"Ehh.." ujar Sanas mengernyitkan dahi.


"Hehe.. Engga Mas, lagian cuma hobby aja kok." ujar Sanas tersenyum kikuk.


"Ehm.. atau begini, kamu bisa main gitar ngga? ups sorry bukan apa - apa, aku cuma berencana mau ngadain live music aja di Caffe ini buat hiburan. kalau kamu bisa main gitar dan kamu mau, kamu aja yang live music dari pada aku susah - susah cari orang lain." tawar Adam. tampak Sanas menimbang - nimbang tawaran Adam.


"Nanti gaji kamu aku naikin 3x lipat deh, gimana?" tambahnya.


"Serius mas?" tanya Sanas tak percaya.

__ADS_1


"Serius, nanti kamu live music nya dari jam 6 sore sampai caffe ini tutup aja." tawar Adam lagi.


"Wah.. boleh - boleh mas, aku bisa main gitar kok." ujar Sanas girang.


"Bener ya, Deal!!" kata Adam menyodorkan tangan untuk bersalaman.


"Deal." ujar Sanas meraih tangan Adam.


"Ya udah mulai minggu depan kamu ganti pekerjasn ya, oh ya kamu bisa pake baju bebas yang kamu mau untuk perfom kamu." kata Adam dan berlalu ke ruang kerjanya.


"Yes.. Yes.. Yes.. akhirnya sekian lama jari - jariku tak menyentuh gitar." gumam Sanas sambil berlonjak - lonjak kegirangan.


"Sarap lu Nas?" tanya Via yang baru saja datang.


"Gue seneng banget Vi, barusan mas Adam nawarin gue buat live music di caffe ini dan loe tau gaji gue naik 3x lipat." ujar Sanas yang masih kegirangan.


"Serius lo?" tanya Via tak percaya. Sanaspun mengangguk.


"Kok bisa?'" tanya Via heran.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, ntar gue ceritain deh." ujar Sanas, dan Via pun mengiyakan kata temannya. Mereka pun melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2