
Pagi telah tiba, Tama duduk di teras bersama paman Boby dan Paman Zoe sembari menikmati secangkir teh dan kue kering. Di sisi lain, Sanas memperhatikan Tama dari balkon kamarnya. Ia ingin sekali mengurung diri di kamar agar tak bertemu dengan Tama, namun rasanya mustahil bukan?
- Di Dapur -
"Tumben Asa jam segini belum turun ya.." kata bi Rose.
"Semalam dia ngga tidur kali makanya telat bangun." ujar Bi Rosa.
"Ah.. Masa iya? ga biasanya kaya gitu.": kata Bi Rose.
" Kan semalam atasannya pulang malam, siapa tau dia nungguin sampe pulang kan.." kata Bi Rosa lagi.
"Kek istri nunggu suami aja.." ketus bi Rose.
"Bagus dong kalo keponakanmu bisa move on dari Daniel." ujar bi Rosa.
"iya juga ya mbak.. sebenernya aku juga ngga suka kalo Asa sama keluarga kaya itu." ujar bi Rose.
"Menurutku sih ngga seberapa di banding Mas Wara dek, cuma mereka ga tau aja." kata bi Rosa.
"Haha.. iya tuh mbak, pasti mereka nyesel udah ngrendahin Asa." cibir Bi Rose, sambil tetap memotong Sayur.
"Eh mbak.. Asa kok bisa sedeket itu ya sama atasannya, mana bos besar lagi." ujar bi Rose heran.
"Mungkin Asa kerjanya bagus kali." jawab bi Rosa seadanya.
"Wah.. ngga sabar punya mantu milyarder." ujar bi Rose berbunga - bunga.
"Tadi katanya ngga setuju kalo Asa sama orang kaya." ketus bi Rosa.
"Kalo orang kayanya kek tuan Eliyas atau tuan Tama gitu mah ngga papa." ujar bi Rose.
"Tuan Eliyas?" tanya Rosa mengernyitkan dahi.
"Ish.. itu loh yang dulu nganterin Asa waktu masih SMA." jelas Rose.
"Yang mana?" tanya Rosa lagi.
"Pengusaha kaya termuda nomer 1 di Asia tau ngga?" tanya Rose.
__ADS_1
"Pengusaha kaya? termuda? nomer 1?... Aaa, Eliyas Anggara?" tanya Rosa.
"itu tau.." kata Rose.
"gila ya si Asa bisa - bisanya berurusan sama orang - orang penting." kata Rosa.
"Ngga tau deh tuh anak punya ajian apa." kata Rose, mereka pun tertawa.
Tak berapa lama pun tawa mereka terhenti saat suara barinton membuyarkan tawa mereka.
"Pantes ngga siap - siap nih sarapan, orang di tinggal ngerumpi." kata Zoe bertolak pinggang.
"hehe.. Mas, kita tu ngga ngerumpi. kita lagi ngomongin Asa jam segini belum ada turun juga." kata Rose.
Seketika Tama teringat akan kejadian semalam
"Apa dia menghindariku.." batin Tama.
"Astaga anak ini, biar ku coba panggilkan." kata Zoe.
"Sanas semalam menunggu sampai saya pulang Tuan.. Nyonya.. jadi mungkin dia melanjutkan tidurnya yang tertunda." kata Tama.
"Astaga.. kalau benar Sanas masih perawan, itu artinya aku semalam hampir merenggut keperawanannya. Untung enggak jadi." batin Tama.
- Di kamar Sanas -
Sanas baru saja selesai mandi, kini ia sedang duduk di meja rias. Seperti biasa ia memakai perawatan wajahnya terlebih dahulu, tak lupa ia menutupi bekas kissmark pada lehernya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa?" tanya Sanas tanpa membuka pintu.
"Ini paman nak, kau sudah bangun?" tanya Zoe.
"Sudah paman, aku baru selesai mandi." jawab Sanas masih tetap tak membuka pintu.
"Turunlah nak, waktunya sarapan. Semua sudah menunggu, Tidak enak jika membiarkan mereka lama menunggu." kata Zoe.
"Iya paman, sebentar lagi Asa turun." jawab Sanas, Zoe pun meninggalkan kamar Sanas dan menuju meja makan.
__ADS_1
Sebenarnya Sanas enggan untuk keluar kamar hari ini, tapi mengingat kalau hari esok ia harus kembali ke kota M jadi jadi ia putuskan untuk turun.
"nah.. itu dia anaknya.." kata Rosa menunjuk ke arah tangga, Sanas menuruni anak tangga dengan ragu - ragu.
"Cepetan sini, masak mau sarapan aja tamu nungguin tuan rumah." kata Rose.
"I.. Iya Bi.." jawab Sanas dengan langkah gontai.
"Bi.. Pindah dong." kata Sanas.
"Enak aja, udah sana duduk." kata Rosa. Sanas pun terpaksa duduk tepat di kursi samping Tama, Tama sedikit salah tingkah saat melihat Sanas.
Selesai sarapan seperti biasa, semua berkumpul di ruangan keluarga sebelum beraktivitas.
"Sa, besok kamu udah balik ke kota M ya.." kata Rosa.
"Iya bi..": jawab Sanas singkat.
"Hufh.. padahal belum mari kangen." kata Rosa.
"Bibi.. aku kan harus kerja, Lagi pula kan aku harus kuliah." ujar Sanas.
"Ya.. Ya.. Ya.. lagian kamu ni Sa, di sini aja banyak kampus ngapain jauh - jauh kuliah di sana sih?" tanya Rose.
"Aku dapat beasiswa kalau kau lupa." ketus Sanas dengan menekan setiap katanya.
"Bukan karena di tinggal Daniel.." goda Rose.
"Bibi.." rengek Sanas dengan nada kesal. Tama, Zoe dan Boby yang mendengar pun hanya diam tak ikut campur.
"sudahlah lupakan dia, kalian ngga cocok." ujar Rosa.
" ngajak tunangan kok suruh nunggu. Lagian kalo dia serius kenapa coba 2 tahun belakangan ngga pernah kirim kabar." imbuh Rose.
"Bibi.. aku kan sudah bilang dia akan kembali setelah pendidikannya selesai, itu artinya masih 2 tahun lagi." ketus Sanas.
"2 tahun kalo buat kredit mobil udah dapet 2." ujar Rosa dengan sinis.
"Ma.. udah ah, biarin aja kalo Asa nyamannya kayak gitu." bela Boby.
__ADS_1
"Jadi Sanas sudah punya calon tunangan, Apa? Sanas LDR dengan kekasihnya bahkan 2 tahun tanpa kabar dan dia masih setia menunggu? pantas saja selama ini aku tidak pernah mendengar rumor ia dekat dengan siapa selama bekerja di kantorku. Padahal katanya dia selalu di kejar - kejar pria dari divisi lain. Tipe wanita setia, jarang sekali ada wanita seperti ini bukan" batin Tama.