CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 41


__ADS_3

Keesokan harinya, Sanas bangun pagi - pagi sekali karena akan mengantarkan kekasihnya menuju bandara. Sesampainya di bandara, Sanas melihat kekasihnya yang terlihat tengah menunggu dirinya.


"By.. ku kira kau tidak datang." ujar Daniel lalu memeluk Sanas.


"Aku pasti datang." kata Sanas dengan senyum sumringah.


"30 menit lagi aku Take Off." ujar Daniel tertunduk, tak terasa bulir - bulir bening melesat jatuh dari pelupuk mata Daniel.


"Hey.. kenapa Jagoanku jadi cengeng seperti ini." ejek Sanas sambil menyeka air mata Daniel.


"Aku akan merindukanmu By.." kata Daniel mengeratkan pelukannya.


"Aku juga akan lebih merindukanmu." kata Sanas. di tatapnya manik mata gadis di hadapannya ini, ingin rasanya ia menolak berangkat hari ini dan menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Tapi apa daya, semua ini ia lakuhkan demi tercapainya keinginan ia agar bisa bersama - sama.


"Niel.. cepat masuk pesawat, sebentar lagi pesawat akan take off."


Daniel yang sudah mendapatkan perintah dari ayahnya sudah tidak bisa berkutik lagi, dengan berat hati ia harus meninggalkan Sanas.


"By.. jaga hatimu untukku, aku mencintaimu. Aku akan kembali." ujar Daniel dan mengecup puncak kepala Sanas.


"Baiklah... jaga dirimu baik - baik!!" ujar Sanas tersenyum. Daniel pun menuju pesawatnya.


"Daniel!!" belum sempat ia memasuki pesawat ia berbalik.


"Aku disini menunggumu." teriak Sanas, di sambut senyum dan lambaian tangan dari Daniel.


Setelah pesawat yang di tumpangi Daniel Take Off, baru lah tangisannya pecah. Sekuat apa pun ia menahan tangisnya namun tak dapat di pungkiri jika dirinya berat melepas kepergian Daniel, bagaimana pun rasa was - was selalu terngiang di kepalanya saat ini, di tambah lagi jarak mereka yang terhalang luasnya lautan samudera.


"Huft... aku percaya dia akan kembali." batin Sanas. Ia memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


********


Setelah kepergian Daniel ke London 1 bulan yang lalu, Sanas sama sekali tidak ada kegiatan. Akhirnya ia memutuskan pergi ke kota M untuk mencari pekerjaan sebelum ia masuk Kuliah. Sanas mendapatkan Beasiswa di salah satu Universitas negeri di kota M, tentu ia tidak akan menyia - nyiakan kesempatan ini. Apa lagi itu adalah Universitas impiannya.


Setelah melamar pekerjaan di beberapa tempat, ia di terima bekerja di sebuah Caffe yang jaraknya 10km dari Kampusnya, lumayan jauh tapi ia tidak mempermasalahkan itu. Karena ia di beri fasilitas mess oleh pemilik Caffe yang jarak rumahnya hanya beberapa meter dari Caffe.


"Huft.. lumayan lah, dari pada kost kan uangnya bisa buat dugem xixixi." ujarnya sambil terkekeh dengan perkataannya sendiri.


"Nama Saya Tria, Saya pemilik Caffe ini. Dan ini Pak Tio Suami saya, Ini Rika anak saya dan yang di sebelahnya itu adalah suami dari Rika." ujar Bosnya memperkenalkan.


"Nama saya Kreyasa Anastasya, bisa di panggil Sanas. Terima kasih telah menerima saya bekerja di sini." ujar Sanas sambil membungkuk. tak lama setelah itu tiba - tiba datanglah seorang pria tampan berperawakan tinggi tegap, berkulit putih dengan senyum manis menambah kesan manis sebagai pelengkapnya.


"Oh.. ya, yang baru datang itu namanya Adam dia anak bungsu saya sekaligus orang yang akan menghandel semua isi Caffe ini." tambah Tria, Sanas oun hanya mengangguk dan membungkuk tanda memberi hormat kepada Adam.


"Anak baru Mah?" tanya Adam.


"Iya Dam, dia akan bekerja di sini." jawab Bu Tria, dan hanya di sambut anggukan oleh Adam.


"Lah.. Mana Karyawan yang lain." batin Sanas.


"Kamu mau kuliah di Universitas Negeri M kan?" tanya Mbak Rika.


"I.. Iya Mbak." jawab Sanas gugup.


"Bagus, jadi kamu ngga perlu khawatir. kebetulan Adam juga kuliah di sana jadi kamu bisa berangkat bareng dia." tambah mbak Rika.


"Eh.. ngga papa mbak, saya bawa mobil sendiri kok." jawab Sanas.


"Jadi mobil di depan tadi mobil kamu?" tanya Adam.

__ADS_1


"Iya Mas." jawab Sanas.


"Hah? dia punya mobil dengan harga yang lumayan tapi masih mau kerja di Caffe, bahkan kalau di lihat - lihat dia anak orang berada. lalu kenapa memilih kerja di Caffe." Batin Adam.


"Udah ngga papa, sekalian kan dari pada berangkat sendiri - sendiri. Iya kan Dam?" kata Mbak Rika.


"Aku sih oke aja kak." kata Adam


"Iya Nas, ngga papa kamu kalau kuliah barengan sama Adam aja." imbuh Pak Tio, Sanas pun hanya mengangguk.


"Ya sudah, bawa barang - barangmu ke rumah belakang. karena hari ini adalah hari libur besok mulai kerjanya. Ada karyawan yang lain juga kok di sana." kata Bu Tria.


"Dam bantuin mbaknya bawa barang - barangnya ya." titah Bu Tria dan di iyakan oleh Adam.


"Emmm... Mas." panggil Sanas memecah keheningan dari keduanya.


"Ya.. Ada apa?" Tanya Adam.


"Emm... mobil aku di parkir dimana ya." tanya Sanas ragu - ragu.


"Ohh.. itu, ya nanti aku masukin ke garasi deh. Nanti kamu tinggal kasih kuncinya ke aku." kata Adam.


"Oh.. oke." kata Sanas.


"udah nyampek, itu kamar kamu pintu no.6 ini kuncinya, oh ya nanti kalau kamu bingung tanya karyawan yang lain aja ya." kata Adam.


"Baik mas, eh.. ini kunci mobilnya mas, Maaf ngrepotin ya mas." kata Sanas sambil menunduk.


"Its ok!!" ujar Adam dan berlalu begitu saja.

__ADS_1


Sanas pun masuk ke kamarnya dan menyusun barang - barangnya dengan rapi.


__ADS_2