CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 75


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Eliyas langsung mengangkat tubuh Sanas menuju kamarnya. Kelvin yang melihat itu pun keheranan, karena tak sembarang orang yang bisa masuk ruang pribadinya apa lagi seorang wanita.


"Gawat dia demam.." gerutu Eliyas.


"Vin, cepat kau hubungi dokter wanita agar memeriksa keadaanya." ujar Eliyas saat keluar dari kamarnya.


"Vin, kau hubungi designer dari butik langgananku dan suruh mereka membawakan beberapa pakaian wanita." perintah Eliyas.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan ukuran baju nona?" tanya Kelvin.


"Kau tunjukan saja fotonya, jika mereka masih belum mengerti juga, segera tutup butik yang tidak berguna itu." ketus Eliyas. Dari pada berbuntut panjang, Kelvin hanya menurut apa kata bosnya.


Tak selang beberapa lama datanglah seorang dokter wanita yang di minta Eliyas di susul dengan datangnya kurir yang menenteng beberapa paper bag berisikan baju wanita, sebelum memeriksa keadaan Sanas, Eliyas meminta dokter agar menggantikan pakaiannya yang basah terlebih dahulu. dokter itu pun segera memeriksa keadaan Sanas.


"Bagaimana Dok?" tanya Eliyas.


"Tuan tenang saja, nona hanya demam biasa di akibatkan karena terlalu lama kehujanan, saya akan menyuntikan obat agar demamnya cepat turun, Dan satu lagi Nona tidak boleh terlalu capek untuk sementara waktu." jelas Dokter, Eliyas merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan dokter.


"Kapan ia akan sadar dok?" tanya Eliyas.


"obat yang saya berikan ini mengandung obat tidur, jadi besar kemungkinan jika nona akan sadarkan diri besok pagi." jawab dokter.


"Syukurlah, setidaknya malam ini dia tidak merengek minta pulang." batin Eliyas.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan.. Selamat beristirahat!!' ujar sang Dokter.


" Terima Kasih, nanti bayaranmu ku transfer." kata Eliyas.


"Kelvin kau pulanglah, tugasmu sudah selesai.'" titah Eliyas.


"Apa kau baik - baik saja jika ku tinggal sendiri?" tanya Kelvin dengan nada Non-formal.


"Apa maksutmu?" tanya Eliyas dengan nada ketus.

__ADS_1


"Kau sedang bersama seorang wanita, kau paham maksutku jika kau laki - laki normal." jelas Kelvin.


"Mungkin aku butuh seorang profesor ahli bedah agar bisa menghilangkan otak mesummu itu Vin." ketus Eliyas, Kelvin pun tertawa lepas karena berhasil menggoda Eliyas.


"Aku senang melihat kau tertarik dengan lawan jenis, tapi setidaknya kontrol nafsumu. Ia masih belia." ujar Kelvin lalu pergi.


"Apa - apaan Kelvin ini, apa dia pikir aku ini gila sampai - sampai tidak bisa menahan nafsu dengan orang sakit." dengus Eliyas menatap kepergian Kelvin.


Kini tinggalan Eliyas dan Sanas di dalam Apartemen, Eliyas tampak memperhatikan wajah teduh Sanas yang masih terpejam.


"Kenapa melihatmu seperti ini aku ikut merasakan sakit." lirih Eliyas sambil mengelus puncak kepala Sanas.


"Kau tenanglah.. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap melindungimu." ujar Eliyas mantap sambil mencium sekilas punggung tangan Sanas.


"Tidurlah yang nyenyak, aku ada di sini untukmu." imbuhnya.


Eliyas pun beranjak dari ranjang menuju sebuah sofa, ia memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya di sana hingga ia pun tertidur.


Keesokan harinya, sinar matahari yang menyeruak masuk melalui celah gorden membuat Sanas mengerjapkan kedua matanya. Ia membuka kedua matanya dengan malas karena saking nyamannya tidur. Saat baru saja terbangun, matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang amat sangat luas. Ia tersadar jika ini bukan kamarnya, Seketika ia terperanjat kaget ketika manik matanya menangkap sosok yang familiar sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa.


"Astaga.. Jadi aku bermalam di tempat Tuan Eliyas." lirih Sanas menutup mulutnya dengan tangan.


"Kau sudah bangun?" tanya Eliyas mengagetkan Sanas.


"S.. Su.. Sudah Tuan." jawab Sanas gugup.


"Bagaimana keadaanmu? apakah masih pusing?" tanyanya lagi.


"Aku baik - baik saja Tuan." jawab Sanas jujur.


"Syukurlah kalau kau baik - baik saja, lain kali jangan berbuat hal bodoh seperti ini. MEREPOTKAN!!!" ujar Eliyas yang menekan kata - kata terakhirnya.


"Maaf.." ujar Sanas, ya.. karena sedang malas berdebat akhirnya hanya itu yang mampu terucap dari bibir mungilnya.

__ADS_1


"Oh ya, perihal bajumu sekarang masih di laundry." ujar Sanas.


"Ai.. bahkan aku baru sadar jika sudah berganti pakaian, Atau jangan - jangan..." batin Sanas.


"Kau tenang saja, bukan aku atau pun Kelvin yang mengganti pakaianmu. Tapi seorang dokter.." jelas Eliyas, seolah tau isi kepala Sanas.


"Apa dokternya seorang wanita?" tanya Sanas polos.


"Jelas dokter wanita, kalau dokter pria untuk apa aku minta tolong? bahkan aku dengan mudah melakuhkannya sendiri." ujar Eliyas dengan nada ketus.


"Saya hanya memastikan saja." ujar Sanas.


"apa masih kurang jelas?" tanya Eliyas dengan nada datar.


"sudah cukup." jawab Sanas.


"Dasar pria Arogan, di tanya baik - baik malah marah." batin Sanas.


"Sudah, simpan umpatan jelekmu tentangku. Sekarang pergilah mandi, kau pilih sendiri pakaian di paper bag itu, terserah kau mau mana saja yang membuatmu merasa cocok karena aku tidak tahu menahu tentang selera wanita." titah Eliyas.


"dari dulu tak pernah berubah, tetap semaunya sendiri. AROGAN!!!" umpat Sanas sambil meraih paper bag yang di sodorkan Eliyas. Mata Sanas terbelalak melihat beberapa helai baju di dalam paper bag tersebut.


"Astaga, ini gajiku satu tahun" batin Sanas menelan ludahnya.


"Kenapa? apa tidak ada yang kau sukai?" tanya Eliyas.


"Kalau kau tidak suka biar ku suruh Kelvin membawakan beberapa baju lagi untukmu." imbuhnya.


"Tidak Tuan, ini sudah cukup. Jangan merepotkan orang lain pagi - pagi." ujar Sanas.


"Kau siapa melarangku?' ketus Eliyas. Sanas yang mendengar itu pun mendengus kesal, ia sedikit menghentak - hentakan kakinya saat menuju kamar mandi. Eliyas yang hanya bisa menatap punggung Sanas pun hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.


Di dalam kamar mandi Sanas meluapkan emosinya, berbagai umpatan keluar dari mulut Sanas.

__ADS_1


__ADS_2