CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 173


__ADS_3

Dengan segala pertimbangan Sanas memutuskan untuk kembali ke rumah Eliyas. Ia melawan egonya demi masa depan anak yang di kandungnya.


Setelah sampai di depan mansion, Sanas di suguhi pemandangan yang sangat tidak mengenakan. Eliyas tengah bercanda ria dengan Riyana sembari berlutut menghadap ke perut. Tampak Eliyas sangat bahagia dengan hadirnya malaikat kecil di perut istri keduanya itu. Sanas meremas ujung bajunya, Hatinya begitu sakit melihat kebahagiaan Suaminya yang jelas - jelas bukan karena dirinya.


"Kamu yakin?" tanya Dariel.


"Aku ngga kuat kak.." kata Sanas di sela isakan tangisnya.


"Kita pergi ya.." kata Dariel. Sanas mengangguk, entah kenapa ia begitu tak tega menghancurkan kebahagiaan Eliyas meskipun itu di atas penderitaanya.


"Carikan aku apartemen yang siapapun tidak bebas masuk." kata Sanas.


"Tinggalah di apartemenku." kata Dariel.


"Aku tidak mau merepotkanmu kak." kata Sanas.


"Bukankah aku sudah terlanjur kau repotkan?" tanya Dariel.


"Benar juga." kata Sanas menunduk.


"Kau tenang saja, akan aku pastikan jika kau aman di sana." kata Dariel.


"Aku juga akan menjengukmu seminggu sekali untuk cek keadaanmu." imbuh Dariel, Sanas mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


.


6 Bulan Kemudian


.


.


.


.


tak terasa 6 bulan sudah Sanas tinggal di apartemen Dariel. Dariel benar - benar ngetreat like a queen Sanas, ia tak mengizinkan Sanas keluar Apartemen jika tidak bersamanya. Untuk urusan pekerjaan Dariel memenuhi fasilitas untuk Sanas memantau perusahaannya dari jauh. Dengan siapa Sanas tinggal, tentu dengan Gea sahabatnya. Begitupun sahabatnya yang lain, Dariel sengaja menyiapkan Apartemen bersebelahan dengan Sanas agar saat weekend mereka dapat berkumpul. Bagaimana dengan Eliyas? hampir setiap hari ia mendatangi apartemen Dariel namun masih di lobby ia sudah di usir oleh boddy guard suruhan Dariel. Ia tak bermaksud memisahkan sepasang suami istri itu, tapi ia hanya menuruti kemauan Sanas yang memintanya agar melarang Eliyas menemuinya.


"Hallo Dokter gantengku.." kata Sanas sumringah.


"Sedang apa?" tanya Dariel.


"Hmm... hanya menikmati secangkir cokelat panas sembari melihat keindahan pemandangan kota." jawab Sanas.


"Duduklah.. ada hal yang ingin aku bicarakan." ujar Dariel. Sanas pun menghampiri Dariel yang sedari tadi duduk di ruang tamu.


"Kakak, ingin bicara apa?" tanya Sanas.


"Hmm... jadi begini, Maaf sebelumnya jika ini akan menyinggungmu." kata Dariel.

__ADS_1


"Ada apa kak?" tanya Sanas.


"Apa belum ada titik terang hubunganmu dengan suamimu?" tanya Dariel.


"Kakak kan tahu sendiri dia tetap kekeh tidak mau menceraikanku, bahkan pengadilan menolak mentah - mentah gugatanku. padahal semua bukti tuntutanku sangat kuat." kata Sanas kesal.


"Tapi bukankah jika seorang suami tidak memberi nafkah baik lahir ataupun batin dalam kurun waktu tertentu, itu bisa mempermudah proses gugatanmu?" tanya Dariel.


"Itu dia masalahnya.. selama ini ia masih rajin mentransfer uang ke rekeningku setiap bulannya, aku sendiri bingung." kata Sanas.


"Hmm.. Emmm... Apa tidak sebaiknya kau beri tahu suamimu perihal kehamilanmu." kata Dariel ragu, tentu mendengar itu membuat Sanas terkejut.


"Apa maksud kak Dariel?" tanya Sanas sedikit meninggikan suaranya.


"Begini Ayashaa.. Ada baiknya dia tau perihal ini, ini juga demi kebaikan anakmu nantinya." kata Dariel.


"Aku tidak mau jika ia mengambil anakku nantinya kak, kau tau ayahku butuh penerus. Jika anakku di ambil pria itu bagaimana?" ketus Sanas.


"Itu demi kebaikanmu Ayashaa.." kata Dariel.


"Alah sudah lupakan, sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberi tahu dia perihal kehamilanku." ujar Sanas.


"Baiklah.. aku ikut apa saja katamu.. Apakah kita jadi berbelanja untuk kebutuhan Baby Twins?" tanya Dariel mencairkan suasana.


"Kau memang pandai menjilat rupanya." kata Sanas.


"Bersiaplah.. kita pergi sekarang.." kata Dariel.

__ADS_1


"Siap bos... 15 menit, Oke!!!!" kata Sanas berlalu.


__ADS_2