CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 59


__ADS_3

"Terima kasih ayang Delon, nanti kita ketemu lagi ya." kata Sanas sengaja mengeraskan suara dengan menekan setiap kata - katanya. Agnes yang mendengar itu pun geram di buatnya.


"Awas kau jalang.." gerutu Agnes mengepalkan tangan.


"Bye.. ayang Delon.." imbuh Sanas saat di luar ruangan, ia terkekeh geli dengan tingkah lakunya sendiri. Ia pun menekan tombol Lift menuju ruangannya.


"Tadi kata Bos disuruh langsung kasih ke dia, syukur deh aku ngga usah capek - capek baca dari awal sampai akhir kertas setebal ini, aku urutin aja deh" batin Sanas, ia masuk ke ruangannya sekaligus ruangan Presdir.


"Pak Saya mengantarkan berkas yang Bapak minta." kata Sanas dengan masih terfokus meneliti berkas yang di pegangnya. Saat ia mendongakan kepalanya, ia terkejut saat melihat Bosnya tengah bercumbu dengan seorang wanita.


"Ups... Maaf.." kata Sanas lalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Kamu kenapa?" tanya Melita.


"Mbak Meli dari mana?" tanya Sanas dengan nafas ngos - ngosan


"Aku dari toilet." jawab Melita.


Tama yang menyadari kehadiran Sanas segera melepaskan cumbuannya.


"Why.. Baby?" tanya Yussy.


"Ini di kantor, pulanglah... aku banyak pekerjaan." ujar Tama. Yussy keluar dengan raut muka yang kesal. Ia menatap Melita dan Sanas dengan sinis. Melita dan Sanas pun saling pandang.

__ADS_1


"Maaf ya, tadi aku ke toilet saat kamu masuk. kamu jadi ngga tau deh kalo ceweknya si bos dateng." kata Melita.


"Kamu bikin aku spot jantung tau ngga." ketus Sanas.


"Kenapa? Bos marah ya?" tanya Melita.


"Semoga aja engga." ujar Sanas.


"Loh.. kok semoga? kalo bos belum marah kenapa kamu tadi ngos - ngosan?" tanya Melita.


"Iya, Semoga ngga marah karena aku mengganggu mereka berciuman." ketusnya.


"Whatt??" teriak Melita.


"Sssttt... diam, aku mau masuk dulu. Doa kan aku keluar dengan selamat." kata Sanas memelas.


"Sa.. Sanas.." ujar Tama gugup


"Permisi pak.. ini berkas yang bapak minta." kata Sanas


"Oh ya, terima kasih." katanya salah tingkah. Sanas pun duduk di mejanya, ia memandang bosnya dengan intens.


"Hmm... Pantesan akhir - akhir ini kek singa, upanya kangen pujaan hatinya to. Buktinya sekarang sumringah lagi setelah bercumbu. Ah... pria memang suka begitu, giliran kangen aja gelisah galau merana, kalau di kasih jatah luluh lagi." batin Sanas.

__ADS_1


"Ehh.. ngga semua pria seperti itu, buktinya aku dengan Daniel selama pacaran ngga pernah tuh bercumbu. emang sih pertama dia mengungkapkan perasaanya dia memaksaku bercumbu tapi setelahnya ia tau kalau aku tidak menyukainya. Ahh... Daniel, apa kabarmu? aku sangat rindu." batin Sanas.


"Kreyasa Anastasya.." bentak Tama.


"Eh.. iya Daniel." kata Sanas terkejut.


"Daniel.. Daniel.. sejak kapan namaku berubah menjadi Daniel." ujar Tama dengan nada ketus.


"Eh.. bapak, Maaf pak.." kata Sanas salah tingkah.


"Kamu ini kerjaanya kalo ngga gosip ya nglamun, Apa aku membayarmu hanya untuk melakuhkan hal bodoh seperti itu?" hardik Tama. Sanas hanya terdiam mendengarnya.


"Pulanglah.." tambah Tama.


"Pak.. tolong jangan pecat saya, saya ngaku saya salah. Tapi saya mohon jangan pecat saya." bujuk Sanas dengan mencium punggung tangan Tama berulang kali.


"Kau ini kenapa? siapa yang pecat kamu?" tanya Tama heran.


"Tadi bapak minta saya pulang." kata Sanas polos.


"Dasar Bodoh! aku memintamu pulang agar kau istirahat karena besok kita berangkat ke kota XX untuk survei lokasi pembangunan." jelas Tama.


"Oh.. Saya kira saya di pecat." ujar Sanas cengengesan.

__ADS_1


"Ehmm..." Tama berdehem sambil memandang tangannya yang masih di pegang oleh Sanas,


"Maaf.." kata Sanas yang menyadarinya dengan cepat melepas pegangannya.


__ADS_2