
"Ku harap kau juga begitu." ujar Zen.
"Ya.. semoga saja." ujar Sanas.
"Ada yang ingin ku bicarakan." kata Zen.
"Bicaralah." ujar Sanas.
"Ini perihal malam itu-"
"Tidak usah di bahas lagi." ujar Sanas memotong pembicaraan Zen.
"Ini harus di bicarakan Sanas, ini perihal kejadian malam itu tidak seperti yang kau bayangkan." ujar Zen.
"Apa maksutnya?" tanya Sanas bingung.
"Sebenarnya malam itu tidak terjadi apa - apa diantara kita berdua." kata Zen.
"Apa maksutmu tidak terjadi apa - apa, jelas - jelas kau menodaiku masih tidak mau mengaku." ujar Sanas dengan sedikit nada tinggi.
"Tidak.. Tidak.. dengarkan dulu, waktu itu aku taruhan dengan Bagas. Demi memenangkan taruhan itu aku membuat seolah - olah berhasil menidurimu. Tapi sungguh Nas, aku tidak melakuhkan hal itu." jelas Zen.
__ADS_1
"Jadi, kau tidak memerawaniku?" tanya Sanas.
"Tidak, aku hanya membuat seolah - olah itu terjadi. Tapi sungguh tidak terjadi apa - apa diantara kita malam itu."
"Mengapa kau baru mengatakan itu sekarang dan membiarkan aku di rundung kebencian terhadapmu Zen?" tanya Sanas.
"Saat itu aku bingung harus mengatakan seperti apa agar kau percaya, disisi lain kau sudah sangat marah terhadapku." kata Zen. Sanas hanya menunduk dan terdiam mendengar penuturan Zen.
"Aku bingung harus mengatakan apa kepada Tama." ujar Sanas.
"Jadi kamu mengatakannya kepada Tama?" tanya Zen.
"Ya.. bagaimana pun ia akan tau, karena aku pikir-"
"Maaf menunggu lama." kata Tama yang datang tiba - tiba.
"No Problem." kata Zen santai.
"Apakah ada hal penting?" tanya Sanas.
"Ya.. Papa menyuruhku segera pulang, tidak papa kan? atau kalian mau ngobrol dulu?" tanya Tama.
__ADS_1
"No.. Kak, aku ikut pulang." ujar Sanas.
"Ya sudah kalau begitu, Zidan.. aku pulang dulu ya, jangan lupa hadir di hari pernikahanku nanti." ujar Tama kepada Zen.
"Pasti, Brother.. aku akan datang di hari bahagia kalian." ujar Zen.
Tama dan Sanas pun keluar dari caffe, Sepanjang perjalanan menuju kostan Sanas keduanya saling terdiam. Sanas yang kepikiran bagaimana caranya mengungkapkan kebenaran kepada Tama. Sedangkan Tama, entahlah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas setelah mengangkat telepon dari ayahnya, ia menjadi pendiam. Mungkin ada hal yang genting sehingga membuat suasana hatinya berubah.
Sanas yang menyadari Tunangannya berubah drastis itu pun di buat serba salah, ia takut jika mengatakannya sekarang justru membuat suasana hati Tama semakin memburuk. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mengungkap kebenaran tentang kejadian pemerkosaan itu.
Setibanya di depan kost Sanas, Tama tak juga membukakan pintu mobil, Tak ada cipika cipiki diantar keduanya.
"Aku keluar dulu ya." kata Sanas.
"Ya..." jawab Tama tanpa memandang lawan bicara. Sanas menghela nafas, dengan berat hati ia keluar dari mobil Tama.
"Hati-" Belum selesai Sanas berbicara Tama sudah melajukan mobilnya, Sanas pun meras aneh dengan sikap Tama yang tiba - tiba berubah. Namun ia tak ingin ambil pusing.
"Mungkin sedang ada masalah" pikirnya.
-Tama POV-
__ADS_1
"Katakan sejujurnya saja, aku siap menerima resikonya. jelas dia akan marah, sekali lagi maafkan aku yang saat itu dengan lancang menidurimu."
Degh!!! Satu kalimat yang selalu terngiang di kepalaku. Sebelumnya aku tak mempermasalahkan akan hal itu, tapi kali ini berbeda. Calon istriku di tiduri oleh Sahabatku. Sakit sekali rasanya hatiku, Aku jadi ragu akan diriku. Mampukah aku menerima semua ini, Aku rasa berat.