
Suara deru mobil berhenti di halaman mansion, sudah di pastikan itu adalah Eliyas. Sanas begitu antusias ingin menyambut sang suami.
"El.. kau pulang, aku merindukanmu!!" ujar Sanas memeluk Eliyas, namun belum sampai terbayar rasa rindunya. Ia sudah di buat murka ketika ada seorang wanita berjalan di belakang Eliyas.
"Kenapa kau bawa wanita ini kesini El?" tanya Sanas.
"Mulai hari ini dia juga akan tinggal di sini." jawab Eliyas enteng. belum sempat Sanas menanyakan perihal kamar utama, justru sekarang ia harus tinggal serumah dengan madunya.
"Tidak!!!" tegas Sanas tidak terima.
"Kenapa? ini Mansionku jadi aku yang bisa memutuskan siapa yang boleh tinggal di sini." ujar Eliyas sinis.
" sebagai istri.. Terima saja keputusan Eliyas.." kata Riyana.
"ini kan yang kamu mau?" sindir Sanas.
"Bersikaplah sopan Ayashaa.. aku sedang hamil, moodku sangat sensitif. jadi jangan membuatku berbuat yang tidak - tidak." ujar Riyana.
"Memang kamu mau apa?" tantang Sanas. tanpa aba - aba Riyana menarik rambut Sanas, tak tinggal diam Sanas juga menarik balik rambut Riyana. Terjadilah jambak menjambak dorong mendorong di antara keduanya, hingga pada akhirnya Riyana terjatuh.
"Ayashaa.. apa yang kau lakuhkan pada istriku?" teriak Eliyas.
"Aku.. Aku.."
"Kenapa? kau iri karena dia bisa hamil secepat itu sedangkan kau tidak!!!!!" ujar Eliyas sukses menggores luka di hati Sanas, lima tahun menikah baru kali ini ia mendengar ucapan itu dari suaminya.
"Kau tau kan kenapa aku sulit untuk hamil?" tanya Sanas. Eliyas murka, ia mencekeram pergelangan tangan Sanas dan mendorongnya.
Prangg!!!!! bingkai mahar yang terpajang pecah berhamburan ke lantai karena terkena hantaman tubuh Sanas. Runtuh sudah pertahanan Sanas, ia tak mampu lagi membendung air matanya.
"El.. perutku sakit." rintih Riyana.
"jika terjadi sesuatu dengan anak dan istriku, kau akan tau akibatnya." kata Eliyas. Dengan tanpa rasa bersalah Eliyas membopong tubuh Riyana meninggalkan Sanas.
__ADS_1
Rumah Sakit Angkasa
"Bagaimana kondisi anak dan istri saya dok?" tanya Eliyas.
"Kandungan nona Riyana masih sangat lemah Tuan, jadi di harapkan tidak banyak adanya tekanan batin." ujar Dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan."
"baik dok, terima kasih." kata Eliyas. Ia pun menghampiri Riyana yang tengah terbaring.
"Anak kita baik - baik saja kan El?" tanya Riyana.
"Kamu tenang ya.."
"Ini semua gara - gara istri pertamamu,anak kita hampir celaka El.." kata Riyana.
"Iya.. kamu tenang ya, kamu ngga boleh banyak pikiran, Oke!!" kata Eliyas.
"Baiklah.." ujar Riyana sedikit tenang.
Kediaman Anggara
Sanas begitu gelisah, ia masih menunggu kabar akan keadaan Riyana. Meskipun batinnya terluka, namun ia juga mempunyai hati nurani perihal keselamatan Riyana dan bayinya.
Brakk...
"El.. bagaimana keadaan Riyana?" tanya Sanas panik.
Plakk... Plakk... Tamparan keras mengenai kedua pipi Sanas.
"Siapa yang mengajarimu menjadi wanita liar hah?" bentak Eliyas.
"Aku tidak sengaja melakuhkan itu El.." bela Sanas.
__ADS_1
"Tidak sengaja kamu bilang? tidak sengaja atau kamu mau Riyana bernasip mandul sepertimu" hardiknya.
"AKU TIDAK MANDUL!!!!!!!" teriak Sanas memenuhi seisi ruangan.
"Perlu kau ingat.. AKU PERNAH HAMIL!!! dan Anak ku mati karena KAU!!" tunjuk Sanas menekan semua perkataanya.
"dasar wanita tidak tahu diri!!! masih mending aku sudi menerima mu sebagai istri." cibir Eliyas.
"Sudah cukup hampir lima tahun aku berpura - pura mencintaimu."
"Harus ku beri pelajaran agar kau tau rasa sakit yang di rasakan istri dan calon anakku." kata Eliyas menyeret Sanas menuju kamarnya
"El.. Sakit!!!"
"Ini belum seberapa!!!" kata Eliyas menghempaskan tubuh Sanas ke atas ranjang. Eliyas kalap ia melepas ikat pinggangnya.
"Ini hukuman untuk istri yang tidak tau diri seperti mu!!!" ujar Eliyas mulai memukul tubuh Sanas.
"El... jangan!!!" kata Sanas. namun Eliyas tak menghiraukannya.
"Arghhh..." rintih Sanas saat pukulan mendarat di perutnya, dengan susah payah ia melindungi perutnya dari amukan Eliyas.
"Tolong jangan siksa aku!!! jika memang kau tidak pernah mencintaiku, bunuh saja aku El.." lirih Sanas, mendengar kata itu Eliyas semakin kesetanan dengan spontan Eliyas mencekik leher Sanas hingga Sanas kesulitan bernafas.
"Uhukk.. Uhukkk... Aku percaya jika kau tidak mencintaiku El.."
"Ku pastikan setelah ini kau menyesal." ujar Sanas.
"Masih percaya diri rupanya? kau merasa cantik? baik akan ku hancurkan kepercayaan dirimu." kata Eliyas melepas cekikannya.
Kini Eliyas kembali menyeret Sanas kedalam kamar mandi, lagi - lagi ia menghempaskan tubuh Sanas.
"Arghh...." teriak Sanas saat air panas mengguyur tubuhnya.
__ADS_1
"Ini hukuman, renungkan apa kesalahanmu." ujar Eliyas berlalu dan mengunci Sanas dari luar.
"El.. lepaskan aku!!! keluarkan aku dari sini!!!" mohon Sanas dari dalam kamar mandi, namun tak di gubrisnya.