
Tak selang beberapa waktu Tama keluar dari lift. Ia menghampiri meja kerja Melita, Melita yang menyadari itu pun segera bangkit dari duduknya.
"Apa Sanas sudah masuk kerja?" tanya Tama.
"Sudah pak.." jawab Melita sambil membungkuk. Mendengar itu pun Tama langsung masuk ke ruangannya.
"Sanas apa kau baik - baik saja?" tanya Tama membuyarkan lamunan Sanas.
"Emm.. Eh.. Saya baik - baik saja pak." ujar Sanas salah tingkah.
"Syukurlah, saya takut terjadi sesuatu padamu. Karena malam itu aku tak melihatmu lagi." ujar Tama antusias.
Lagi - lagi bayang - bayang kejadian malam itu kembali terngiang di ingatan Sanas. Tanpa ia sadari kini air mata meluncur di pipi mulusnya.
"Sanas kau menangis?" tanya Tama memastikan.
"Ah.. Tidak Pak, Saya tadi pake Soflens terus kelilipan mangkanya mata saya berair." bohong Sanas dengan memasang senyum palsu, Ia menyeka air matanya.
"Sayangnya kau tak pandai berbohong." batin Tama.
"Lupakan Dia, Kau berhak bahagia." ujar Tama meninggalkan meja kerja Sanas. Sanas hanya terdiam, Ia menghela nafas panjang. lagi - lagi yang di katakan orang di sekitarnya itu benar, menangis pun tak ada gunanya.
"Keep strong.. Kreyasa Anastasya!!!! ini awal bukan akhir." batinnya menyemangati dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Sebulan telah berlalu setelah kejadian menyakitkan itu, kini Sanas terlihat lebih baik lagi, Semalam adalah pesta pernikahan Daniel dan Nathaline yang di gelar sangat meriah. Meskipun sudah Melupakan kenangan bersama Daniel, Sanas sengaja tak menghadiri pesta itu, Karena ia masih was - was jika membuka kembali luka lamanya. Kini ia hanya terfokus Kuliah, bekerja! bekerja! dan bekerja! apalagi sekarang ia sudah kembali bekerja di divisi keuangan, ada Caca dan Delon yang selalu menghibur Sanas.
Sebenarnya tak cukup sulit untuk Sanas mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari Daniel, karena tak sedikit teman kerja atau klien dari Tama sendiri yang berusaha mendekatinya. Tapi entahlah, gadis berparas cantik itu tidak memiliki rasa ketertarikan sama sekali, Trauma? jelas, setelah apa yang ia alami, ia takut hanya menjaga jodoh orang saja.
Waktu menunjukan jam makan siang, Sanas, Caca, dan Delon memutuskan untuk makan siang di sebuah Caffe & Resto yang baru buka di seberang kantor. Seperti biasa bukan Caca dan Delon jika tak membuat Sanas tertawa terbahak - bahak karena pertengkaran - pertengkaran yang tidak ada alasannya.
Bukan tanpa alasan sebenarnya, Kedua temannya ini sangat memahami keadaan Sanas. Hingga mereka tak kehabisan akal untuk membuat Sanas melupakan masalah percintaannya.
"Bentar lagi jam makan siang habis, Balik yuk.." ajak Sanas di tengah - tengah perdebatan antara Caca dan Delon, Mereka pun keluar dari Caffe. Tiba - tiba di lobby caffe ada seseorang yabg tanpa sengaja menabrak tubub Sanas.
"Maaf.. Maaf.." ujar Sanas dan pria itu bersamaan.
"Kau? Akhirnya aku menemukanmu." ujar Pria itu.
"Ya.. kita pernah perfom bareng di Hotel Alexis saat itu acara pertunangan... ahh.. aku lupa.." jawab Pria yang diketahui namanya adalah Aditya.
"Oh.. yaa.. aku ingat!!" jawab Sanas.
"Syukurlah, Oh ya perkenalkan aku Aditya.. Pemilik Caffe ini." ujar Aditya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Sanas.." ujar Sanan membalas uluran tangan Aditya begitu juga Caca dan Delon.
"oh ya Sanas, selama ini aku mencari dirimu." ujar Aditya jujur.
"Untuk?" tanya Sanas heran.
__ADS_1
"Jadi begini, aku memiliki penawaran untukmu siapa tau kamu tertarik." ujar Aditya.
"Penawaran apa?" tanya Sanas semakin bingung.
"Bekerjalah di Caffe ku Sanas, Tugasmu hanya mengisi acara Live music saja" tawar Aditya.
"Maaf kalau untuk itu aku tidak bisa.." jawab Sanas menggantung
"Why?" tanya Aditya.
"Aku sudah bekerja, kebetulan kantor tempatku kerja tepat di seberang caffe milikmu." jelas Sanas.
"Oh.. Sayang sekali.. Padahal aku sangat suka tipe suaramu, Dan aku yakin orang - orang juga menyukainya." ujar Aditya.
"Maaf aku tidak bisa.." ujar Sanas. Terlihat ekspresi kecewa di raut wajah Aditya saat itu.
"Ah.. Begini saja, kau bekerja denganku saat weekand saja. Aku akan menggajimu full, Bagaimana?" bujuk Aditya. Tampak Sanas sedang berpikir.
"jangan kelamaan, udah terima aja. lagian lumayan gaji full tapi kerja cuma weekand doang, lu kan jomblo dari pada gajelas mending kerja dapet duit kan?" celetuk Caca.
"Kalau di pikir - pikir iya juga." batin Sanas.
"Emh.. Baiklah.." putus Sanas, Aditya mendengar itu pun langsung tersenyum senang.
"Baiklah, terima kasih kamu sudah berkenan bekerja denganku." ujar Adit menjabat tangan Sanas.
__ADS_1