
Di lobby tampak ada Zen dan seorang wanita entah siapa wanita itu Sanas tidak peduli, ia tetap melanjutkan jalannya menuju parkiran.
"Hey... Sanas." Seseorang memanggil, Sanas membalikan badanya.
"Kak Rere.." Ujar Sanas sambil menghentikan langkahnya, ia sedikit heran ketika mengetahui ternyata wanita yang bersama Zen adalah Rere.
"Kau ini seperti di kejar anj*ng saja jalanmu." Ketus Rere menghampiri Sanas bersama Zen.
"Hehe.. maaf kak, aku tidak tau kalau kau disana." Ujar Sanas.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Sanas spontan.
"Dulu kita teman waktu SD Nas, ngga nyangka ketemu lagi di SMA." Ujar Rere.
"Ohh.. begitu."
"Re.. kita satu arah bukan?" Ujar Zen.
"Iya Zen, Ada apa?" tanya Rere.
"Bagaimana kalau kita pulang bareng aku bawa motor sekalian nanti kita mampir ke warung mang dadang langganan kita dulu." Ajak Zen.
"Sanas Apa kau mau ikut?" ajak Rere.
"Oh.. tidak perlu kak, aku harus buru - buru pulang." Ujar Sanas.
"Oh gitu, yaudah aku pulang dulu ya Sanas. Byee.." ujar Rere melambaikan tangan dan meninggalkan Sanas.
"Bye.."
Sedikit ada rasa sesak di dada Sanas melihat moment ketika Zen tak menghiraukan kehadirannya saat itu. Sanas menghela nafas dan membuangnya dengan kasar ia juga sadar diri akan posisinya yang bukan siapa - siapa, jadi dia tak perlu ambil pusing. Ia bergegas menuju mobilnya dan menacap gas dengan kecepatan tinggi. Ya, meskipun ia sadar diri tidak menutup kemungkinan bahwa ia merasakan api cemburu saat itu. Terlebih akhir - akhir ini mereka terlihat amat sangat dekat, di tambah lagi Zen adalah pria yang terlebih dulu merasakan tubunya.
"Arghhh... " Umpat Sanas sambil menggedor pintu mobilnya.
"Hey.. nona apa mobilmu sudah waktunya di rongsokan?" Tanya bi Rose yang kala itu terkejut melihat tingkah keponakanya yang aneh.
"Bibi aku kesal sekali." Ketus Sanas.
"Kau ini kenapa, dateng - dateng kek gitu?" Tanya Bi Rose.
"Bibi apa kau tau, di sekolah aku ngga dapat tempat parkir gara - gara aku satu - satunya siswa yang membawa mobil. Terpaksa ku parkirkan di luar sekolah." Ucap Sanas, sebenarnya bukan itu yang membuat ia kesal. Hanya karena kepergok bibinya ia memanfaatkan situasi dengan beralasan agar dibelikan motor.
"Itu karena kau berangkatnya siang nona manis, coba kalau berangkat agak pagian. Pasti dapat tempat parkir." Ujar Bi Rose.
__ADS_1
"Arghh.. Bibi ini sama saja dengan paman." Ketus Sanas.
"Hei.. ada apa ini?" Tanya Paman Bobi.
"Ini lo keponakanmu pulang - pulang ngomel gara - gara di sekolah ngga dapet tempat parkir." Jawab Bi Rose
"Paman sih ngga mau beliin aku motor." Ketus Sanas dengan ekspresi manjanya.
"Apa kau mau kulitmu yang putih bersih ini menjadi hitam karena naik motor?" Tanya Paman Boby sambil mengejek Sanas.
"Paman..." Rengek Sanas.
"Sudah - sudah nanti paman belikan motor kalau sudah ada uang ya." Kata pamannya.
"Sungguh paman? terima kasih ya." Ujar Sanas kegirangan, lalu pergi meninggalkan paman dan bibinya.
*****
Malam pun tiba, sudah jam 12 malam namun Sanas belum bisa memejamkan matanya. Kedekatan Rere dan Zen yang tak terduga masih terbayang - bayang di ingatannya. "Ada hubungan apa sebenarnya mereka, sampai - sampai Zen acuh kepadaku" Umpat Sanas sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal. "Arghhh... Sanas kau bodoh, kau terlalu berharap, bodoh.. bodoh.. bodoh.." Kata Sanas yang mengutuki dirinya sendiri.
"Huft... Oke, Sekarang bodoamat." Ujar Sanas menghela nafas lalu tertidur.
Keesokan harinya Sanas bangun pukul 05.00 agak kesiangan dibanding hari biasanya, maklum lah ya mengingat ia yang tidak bisa tidur tadi malam hingga meninggalkan sedikit sembab di matanya karena kurang tidur. Sanas juga tak seperti biasanya, ia hanya berpamitan saja kepada keluarganya tidak sarapan atau pun minum susu.
"Tidak apa - apa nek, aku berangkat dulu ya Assalamu'allaikum."
" Wa'allaikumsallam."
Keluarganya pun tidak heran dengan sikap Sanas yang kadang moodnya baik dan kadang pula memburuk, jadi mereka hanya bisa memakluminya. Ditambah lagi selama ini dia selalu di manjakan oleh ayahnya dan sekarang kehidupanya telah berbalik 180°, jadi kini ia dalam masa penyesuaian diri.
Sanas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap sampai di sekolah ia kebagian tempat parkir.
"Awas saja kalau aku ngga kebagian tempat parkir, akan ku parkirkan mobilku di parkiran guru." Gerutu Sanas.
"Shittt..." Umpatnya.
Kini kesabaran Sanas telah melampaui batas, dengan emosi yang menggebu - gebu Sanas memajukan mobilnya menuju parkiran guru.
*tinn.. tin.. tiiiinnnnn...
"Copot.. Copot.. Ehh Copot*." Bunyi klakson Sanas mengagetkan Pak Asep selaku satpam yang menunggu portal.
"Bukain Pak." Titah Sanas.
__ADS_1
"Loh.. non, kok mau parkir disini? ini kan parkiran guru non." Tanya pak Asep
"Saya ngga kebagian parkiran Pak. buruan bukain." Perintah Sanas lagi.
"Tapi Non, ngga boleh nanti non Di hukum." Jelas Pak Asep.
"Ayolah pak, terus saya mau parkir dimana lagi pak? di parkiran sudah penuh." Bujuk Sanas.
"Makanya non, ngga usah lah bawa - bawa mobil lagi. sekolah kita ini sekolah kecil otomatis parkirannya juga sangat minim, ya ngga muat atuh kalo di kasiin mobil." Ujar Pak Asep.
Dengan terpaksa Sanas memutar balik mobilnya dan lagi - lagi ia harus parkir di luar sekolah.
"Ehh.. liat tuh si queen sok kaya, kasihan banget ya ngga dapet tempat parkir." ejek Soraya.
"Makanya ngga usah sok kaya deh jadi orang, pakek belaga bawa mobil mampus kan ngga dapet tempat parkir." Ejek Anita
"Hahaha.." Mereka serentak tertawa, namun Sanas tak mempedulikannya. Ia terfokus dengan Lolita yang hanya tersenyum sinis dengan tatapan elangnya.
"Kenapa Kak Matanya? belekan?" Ejek Sanas yang membuat Lolita yang kala itu hanya diam menjadi naik darah.
"Ngga usah sok cantik lo jala*g." Hardik Lolita.
"Lah.. Emang Gue Cantik." Ujar Sanas dengan bangganya, lalu pergi meninggalkan Lolita And the geng dan menuju kelasnya. Di sebuah lorong menuju kelasnya Sanas melihat ada laki - laki dan perempuan yang ada di depannya, nampak tidak asing tapi Sanas bersikap tak peduli kala itu. Tiba - Tiba!!
"Akkhhh.." pekik wanita yang ada di depanya, rupanya kakinya terkilir.
"Kau tidak apa - apa kenapa tidak hati - hati." Ujar lelaki yang di dekatnya berusaha memijat pergelangan kakinya.
"Suara itu.." Selidik Sanas.
"Kak Zen.. Kak Rere.." Ujarnya Kaget.
"Sanas.." Kata mereka serentak.
"Ada apa dengan kakimu kak?" Tanya Sanas.
"Tidak apa - apa, hanya terkilir sediki kok Nas." Jawab Rere.
"Apa kau perlu minyak urut? kebetulan aku bawa P3K." Tawar Sanas.
"Tidak usah aku akan gendong ia ke UKS." Jawab Zen. Degh!!! kini hati Sanas serasa di sambar petir. Zen menolak mentah - mentah tawarannya. Zen menggedong tubuh mungil Rere tanpa menghiraukan kehadiran Sanas kala itu.
"Keterlaluan.." Batin Sanas. Ia buru - buru menuju ke kelasnya dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1