CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 14


__ADS_3

"Kau ini masih kecil pikiranmu terlalu banyak pasirnya." Ketus Eliyas.


"Haa.. Maksut Tuan?" Tanya Sanas dengan polosnya


"Ngeres!!!" Ujar Eliyas.


"Hih.. Menyebalkan." Umpat Sanas.


"Kau mengumpatku." Selidik Eliyas


"Ti.. Tidak Tuan." Kata Sanas menunduk.


"Jangan sekali - kali kau mengumpatku, hati - hati kau bisa jatuh cinta." Goda Eliyas, sontak membuat rona merah di pipi Sanas.


"Hai.. Tuan jaga bicaramu, umur kita terpaut sangat jauh. Lagi pula ya kali saya mau sama om - om, kecuali Tuan yang jatuh cinta kepada saya." ujar Sanas, Eliyas pun terheran dengan ungkapan Sanas entah mendapat keberanian dari mana Sanas bisa berbicara seperti itu kepadanya.


"Apa? Aku Jatuh cinta sama bocah ingusan kaya kamu? demi Tuhan dan semesta alam itu tidak akan terjadi." Kata Eliyas


"Benarkah? padahal aku berharap sekali tuan menjadi Sugar Daddyku karena telah merampas ciuman pertamaku" ketus Sanas yang membuat Eliyas salah tingkah.


"Harapanmu terlalu besar bocah ingusan." Ungkap Eliyas sambil menekan keras lutut Sanas.


"Auuuww... Sakit!!! Tuan ini jangan terlalu baperan aku kan hanya bercanda." Ringis Sanas.


"Makanya jaga bicaramu, apa kau mau ku patahkan sekalian kakimu hari ini?" Ancam Eliyas.


"Hih.. Ngeri kali lo Tuan ini."


"Susah memang kalau bicara sama bocah ingusan." Ketus Eliyas, Sanas hanya bisa terdiam karena sudah terlalu lancang mengajak Eliyas bercanda.


Setelah selesai mengobati luka Sanas, Eliyas memijat - mijat kaki Sanas agar tidak menimbulkan bengkak karena efek luka tersebut. Sebenarnya Sanas merasa tak enak hati mendapati perlakuan seperti itu, ia merasa bahwa ia tidaklah pantas mendapat perlakuan sedemikian rupa dari seorang CEO seperti Eliyas. Namun ia juga bingung bagaimana cara menolak, karena ia sudah tau bagaimana Eliyas jika mendapat penolakan.

__ADS_1


"sekarang coba kau bawa jalan apakah masih kaku." suruh Eliyas, Sanas pun mengangguk tanda setuju. Ia mulai turun dari ranjang dan mulai berjalan, meskipun sedikit pincang dan linu tapi lebih baik dari pada sebelumnya.


"Sudah mendingan Tuan, terima kasih telah membantu mengobati luka saya." ujar Sanas berterima kasih kepada Eliyas dengan menyunggingkan senyum manis andalannya. Eliyas meleleh seolah terhipnotis dengan paras cantik Sanas ketika tersenyum, ingin rasanya ia menarik kembali kata - kata bahwa ia tidak akan jatuh cinta pada Sanas. Karena faktanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, Namun bukan Eliyas namanya jika tidak lebih mementingkan Egonya, apalagi umur mereka terpaut 8 tahun terbilang jauh bukan.


"Tuan.. Tuan.." Panggil Sanas yang membuat Eliyas terkejut.


"*Hmmm.."


"Apa tuan baik - baik saja*?" Tanya Sanas.


"Ya.. aku baik - baik saja." Ujar Eliyas dengan singkat.


"Syukurlah, kalau begitu saya mau mengambil Tas saya di kelas dulu Tuan." Kata Sanas.


"Apa sudah waktunya pulang?" Tanya Eliyas.


"Seperti yang anda lihat tuan, sedari tadi sekolah ini sudah sepi. Mungkin hanya tinggal kita dan pak satpam saja di sekolah ini" Jelas Sanas.


"Shit!!! jam 16.30, apakah kita selama itu di UKS tadi?" Tanya Eliyas.


"Argghhhh!!! aku sampai melupakan tujuanku demi mengobati gadis bodoh sepertimu." Ketus Eliyas.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud merepotkan Tuan." Kata Sanas.


"Bodoh!!!" Hardik Eliyas, Sanas hanya bisa terdiam karena ia juga merasa tidak enak kepada Eliyas.


"Apa kau mau disini sampai kakimu berakar?" Tanya Eliyas sewot.


"Maaf Tuan saya permisi." Kata Sanas namun tak di gubrisnya.


"Sekali lagi Terima kasih telah mengobati luka saya dan saya minta maaf telah membuang - buang waktu Tuan." Kata Sanas namun Eliyas sama sekali tidak menggubrisnya, dengan kaki pincang Sanas pergi meninggalkan Eliyas sendirian di UKS.

__ADS_1


Sampai di kelas sudah tidak ada seorang pun disana, Sanas buru - buru pulang karena sudah hampir malam ia takut jika kejadian waktu itu terulang lagi. Ia memutuskan lewat lorong yang jarang di lewati anak - anak karena jaraknya lebih dekat dengan lokasi parkir mobilnya. Sanas berjalan dengan santainya, karena ia pikir bahwa tinggal dirinya lah yang ada di sekolah hari itu. Sanas terbelalak melihat pemandangan yang terpampang nyata di depanya, ada dua sejoli yang tengah bercumbu mesra di sana. Hampir saja Sanas berteriak namun ia dapat menahannya lalu bersembunyi di balik tembok. Beberapa saat kemudian Sanas melihat situasi dan kondisi ternyata mereka masih berada di sana, kali ini lebih dari bercumbu saja. Sanas kembali bersembunyi.


"Siapa mereka?" Kata Sanas sambil berbisik. Ia kembali memastikan siapa mereka berdua. Deghh!!!!


"Kak Rere dan Kak Zen." Kata Sanas dengan tubuh bergetar, kini hatinya benar - benar sakit, hancur, kecewa beradu menjadi satu ketika menyaksikan hal yang tidak senonoh itu.


"mereka bukan hanya sebatas teman seperjuangan." Bisik Sanas, Air mata yang selama ini ia tahan kini sudah tak mampu terbendung lagi. Dengan langkah hati - hati Sanas meninggalkan tempat tersebut dan memutuskan untuk lewat Lobby saja.


Sanas berusaha menyeka air matanya, namun seakan sumber air yang ada di matanya tak sudi berkompromi dengan keadaan saat itu sehingga ia tetap kekeh keluar dari asalnya. Sanas benar - benar bingung mendapati rasa yang berkecamuk di dadanya. Dengan langkah kaki yang sedikit pincang Sanas berusaha mempercepat jalannya, ia ingin segera sampai di mobilnya lalu pulang. Karena terlalu buru - buru Sanas terjatuh, kakinya terkilir hal ini membuat Sanas kembali meraung lepas.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.."


"Siapa disana?" Tanya seseorang dibalik pagar. Namun tidak ada respon dari Sanas, ia tetap melanjutkan tangisannya. Tampak seseorang menghampiri dirinya namun tetap saja ia tak menggubris ia tetap menangis sambil memegang kakinya yang terkilir.


"Nona apa kau baik - baik saja?" Tanya seseorang itu. Sanas menaikan wajahnya dan menatap seseorang tersebut, ia berpikir jika seseorang itu nampak tidak asing ya dia Asisten Kelvin, Sekertaris sekaligus Asisten pribadi Eliyas.


"Tidak... Aku baik - baik saja." Jawab Sanas di sela - sela isakan tangisnya.


"Apa nona butuh bantuan? saya bersedia menbantu." Tawarnya.


"Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan siapa pun." Tolak Sanas.


"Nona, kakimu terkilir. setidaknya biarkan saya membantu nona berjalan." Tawarnya lagi.


"Terima kasih tuan, tidak usah repot - repot. saya bisa sendiri." Kata Sanas sambil berdiri dan belum sampai ia melangkah ia sudah terhuyung, hal ini di sebabkan lututnya yang semula terluka dan di tambah lagi kini terkilir (sakitnya doble - doble guys😭 eh triple deng, ditambah sakit hatinya😪)


"Mari saya antar ke rumah sakit nona, anda butuh perawatan." Tawar Kelvin


"Tidak perlu, antarkan saja saya menuju mobil saya." Pinta Sanas.


"Baik, mari saya bantu."

__ADS_1


Sanas pun menuju mobilnya dengan di bantu Asisten Kelvin, Kebetuna sekali mobil Sanas dan mobil Eliyas berdampingan kala itu. Tampak Eliyas tengah menunggu Asisten Kelvin dengan terduduk di atas mobil Mercy miliknya.


"Maaf Tuan apa Tuan sudah lama menunggu? Saya..." belum selesai Asisten Kelvin melanjutkan perkataannya, ia sudah terdiam karena mendapati mata elang dari Eliyas yang seolah mencabik - cabiknya saat ini. Dengan tatapan sinis Eliyas mengangkat dagu Sanas, Sanas hanya mampu memejamkan matanya kini ia sudah pasrah apapun yang akan di lakuhkan Eliyas nantinya. Eliyas menghempaskan dagu Sanas dengan kasar, Sanas kembali tertunduk.


__ADS_2