
"Selamat.." kata itu yang mampu terucap dari mulut Eliyas dengan tatapan Sendu.
"Terima Kasih Tuan Eliyas sudah berkenan menghadiri acara pertunangan saya." kata Tama sumringah.
"Yaa.." jawab Eliyas singkat, namun tatap matanya tak luput dari wanita di samping Tama.
"Sayang, aku menemui rekan kerjaku terlebih dahulu ya. kau ajak Tuan Eliyas dan Tuan Kelvin dulu." ujar Tama sembari meninggalkan ketiganya.
"Baiklah.." ujar Sanas.
"Mari Tuan.. Silahkan duduk." tawar Sanas, mereka pun duduk di salah satu meja.
"Bahagia selalu untukmu." ujar Eliyas sembari tertunduk.
"Pasti." jawab Sanas singkat, bukannya senang justru dadanya terasa sakit saat mendengar ucapan Eliyas.
"Aku senang mendengarnya." ujar Eliyas.
"Kemana saja kau?" tanya Sanas memberanikan diri.
"Kelvin, biarkan aku bicara berdua dengannya." ujar Eliyas.
"Baik Tuan! Nona, saya permisi." kata Kelvin yang di balas anggukan oleh Sanas.
"Aku ada urusan." jawab Eliyas.
"Selama itu?" tanya Sanas.
"Apa kau rindu?" tanya Eliyas.
"Bahkan lebih dari kata itu." ujar Sanas, Eliyas tersenyum miris mendengarnya.
__ADS_1
"Aku pergi menyelesaikan S2 ku di LA." kata Eliyas.
"Apa sekarang sudah selesai?" tanya Sanas.
"Belum." jawab Eliyas.
"Lalu?" tanya Sanas.
"Aku pulang setelah mendengar kabar jika wanita yang ku inginkan akan bertunangan." jawab Eliyas jujur.
"Selama ini aku menunggumu seperti apa yang kau minta satu tahun yang lalu El.." entah keberanian dari mana ia mampu mengatakan hal itu.
"Lalu apa maksud dari malam ini?" tanya Eliyas tersenyum sinis.
"Aku-" Sanas tercekat.
"Kapan hari pernikahannya?" potong Eliyas.
"Setelah aku lulus S1." jawab Sanas.
"Maaf.." kata itu yang mampu terucap dari mulut Sanas saat ini.
"Sudah lupakan, anggap saja tidak terjadi apa - apa." kata Eliyas, seketika air mata Sanas lolos begitu saja.
"Kalung itu sangat cantik kau kenakan, permisi." kata Eliyas beranjak lalu pergi.
Terdengar suara ribut - ribut di luar, terlihat ada beberapa security mencegah seseorang yang akan menerobos masuk. Tama mengetahui hal itu segera turun tangan.
"Ada apa ini?" tanya Tama, tak selang beberapa lama Sanas menyusul.
"Ada apa?" tanya Sanas.
__ADS_1
"Tama Apa yang kamu lakuhkan, aku kekasihmu. Kenapa kamu malah bertunangan dengan wanita lain." ujar Yussy.
"Nona ini datang tidak menunjukan undangan Tuan, lalu ia memaksa untuk masuk kami mencegahnya." ucap salah satu petugas keamanan.
"Lepaskan dia." perintah Tama, mereka pun melepaskan Yussy.
"Kalian dengar itu, ingat!!! kalian akan menyesal telah berbuat buruk terhadapku." ujar Yussy.
"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Tama.
"Tentu saja menemuimu Baby.." kata Yussy sambil bergelanyut manja, sontak membuat Sanas naik darah. Ia menepis tangan Yussy dan mendorongnya hingga hampir terjatuh.
"Jangan sentuh tunanganku dengan tanganmu yang menjijikan itu." ujar Sanas.
"Hahaha.. kau memang tunangannya, tapi apa kau lupa? aku ini masih resmi menjadi kekasihnya." ujar Yussy dengan bangganya.
"Oh.. Jadi ini kekasih dari Arthama Ardiwinata yang Bernama Yussy Anjasmara seorang model terkenal di khalayak umum, namun merangkap sebagai jalang simpanan gadun." ujar Sanas dengan lantang.
"Jaga mulutmu Jalang." ketus Yussy sambil menunjuk ke arah Sanas.
"Hahaha.. kau bilang aku jalang, hei.. Nona lihatlah 1 jarimu sedang menunjukku, tapi tanpa kau sadari bahwa 4 jari lainnya menunjuk dirimu sendiri, jadi itu artinya kau mengatai dirimu sendiri sebagai jalang bukan?" ujar Sanas dengan senyum licik.
"Sial.." umpat Yussy.
"Tama.. Lihat dia mengataiku jalang." rengek Yussy, namun tak di hiraukan..
"Pergi dari sini sebelum kau ku buat malu." seru Sanas.
"Cepat, lakuhkan.. aku tidak takut." ujar Yussy.
"Kalau aku upload ini di berita bagaimana?" tanya Sanas sambil menunjukan sebuah video di ponselnya.
__ADS_1
"Kau.. itu tidak benar, Tama.. dia bohong!! dia hanya ingin mempermalukanku." kata Yussy kelabakan.
"Pergi dari sini, atau besok karirmu akan hancur." ujar Tama, Yussy pun tak berkutik. ia pergi dengan emosi di atas kepala.