
"Mas, bilangin pacarnya ya kalau diet jangan terlalu ketat." mendengar perkataan Dokter itu pun membuat Sanas dan Adam membulatkan mata.
"Lagian mbak ini badan udah bagus kaya gitar spanyol kok diet - diet." cetus sang dokter sambil menuliskan resep.
"Emm.. gimana keadaanya dok?" tanya Adam.
"Tidak mengkhawatirkan, karena terkena benturan dan perutnya yang tipis + kelihatannya jarang makan atau diet ketat itulah kenapa menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan." jelas dokter.
"Mbaknya belum ada tanda - tanda kehamilan kok, jadi masnya tenang aja." canda bu Dokter sambil menyodorkan resep, sontak membuat Sanas dan Adam bak udang rebus.
"Terima kasih dok." ujar Adam.
Mereka pun keluar dari rumah sakit dengan ekspresi masih menahan malu.
"Bisa - bisanya dokter bilang kaya gitu, gimana mau ada tanda - tanda hamil orang buat aja belum." ketus Adam, yang membuat Sanas semakin malu.
"Aduh.. ga dokter, ga si bos. sama - sama gesrek." batin Sanas.
"Nas.. kok diem, kamu ngga kesel apa?" tanya Adam dengan ketus.
"Emm.. aku sih B aja Mas." ujar Sanas yang membuat Adam semakin kesal.
"kita makan dulu ya Nas, laper nih." kata Adam.
"Tapi mas.. ini kan udah hampir maghrib, aku ngga enak sama ibuk kalo pulang malem." kata Sanas jujur.
"Udah masalah Mamah biar aku nanti yang cari alesan, lagian kamu tega apa lihat bosmu yang ganteng ini kelaparan? mau aku makan kamu?" ujar Adam yang membuat Sanas salah tingkah.
"Eh.. Emm.. ya udah deh aku ikut mas Adam aja." kata Sanas pasrah. Adam menyunggingkan senyumanya.
Tak membutuhkan waktu lama, Adam membelokan mobilnya ke salah satu Caffe & Resto terkenal di kota M.
__ADS_1
"Gadis aneh, sok polos tapi raut mukanya tak menandakan bahwa dia polos. Aku yakin kalau dia bukan dari kalangan orang kecil, buktinya ia tampak biasa saja saat memasuki Restoran mewah sekalipun. Hmm.. menarik." batin Adam.
"Mas Adam hallo!!! mau pesen apa?" tanya Sanas membuyarkan lamunan Adam.
"Ehmm... eee... Anu.." ucap Adam terbata - bata.
"Mas Adam kenapa? sakit?" tanya Sanas antusias.
"Eh.. engga kok Nas, Emm.. Aku pesen Steak sama orange juice aja." kata Adam.
"Yaudah, mbak.. Samain aja." ujar Sanas kepada pelayan.
"Kamu terbiasa ke tempat seperti ini ya?" tanya Adam tiba - tiba.
Sanas pun hanya mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan bosnya.
"Pertanyaan macam apa ini." batin Sanas.
"Emh.. ngga terbiasa juga sih, cuma ya pernah." jawab Sanas santai. Adam hanya ber oh ria.
"Oh ya, kapan kamu mulai masuk kuliah?" tanya Adam.
"Emhh... minggu ini aku sudah mulai masuk Mas, tapi aku ambil hari Senin dan Kamis aja." jawab Sanas.
"Kenapa?" tanya Adam lagi.
"Yaa.. aku pengen nyantay aja sih mas." jawab Sanas jujur.
"Kamu itu aneh, semua orang pengen cepet - cepet jadi sarjana, la ini malah mau nyantay. Kalo kelamaan cuma buang - buang duit." ujar Adam.
"Kan aku dapat Beasiswa." ujar Sanas.
__ADS_1
"Apa?" kata Adam terkejut.
"Kenapa? ada yang salah?" tanya Sanaa heran dengan ekspresi bosnya.
"Kamu serius? jangan bercanda" tanya Adam memastikan.
"Ya serius lah mas Adam, lagian buat apa aku jauh - jauh dari kota XX kesini kalau bukan demi beasiswa itu." Jelas Sanas.
"Ya.. meskipun ada alasan yang lain." batin Sanas.
"Good Job!! ternyata selain cantik dan berbakat, kamu berprestasi juga." puji Adam.
"Apa sih mas Adam jangan berlebihan, anggap saja itu keberuntunganku." ujar Sanas.
"Aduh.. apa - apaan kamu ini Adam, bisa - bisanya keceplosan bilang dia cantik. kamu harus ingat dam dia bawahanmu, dia karyawanmu." batin Adam.
"Mas.. pulang yuk, udah malem. Ngga enak sama ibuk sama anak - anak yang lain." ajak Sanas.
"Ya sudah kamu tunggu di parkiran aku mau bayar dulu." kata Adam.
Sanas pun mengiyakan perkataan Adam, tak berapa lama kemudian Adam muncul.
"yuk pulang." ajak Adam.
"loh kok di belakang?" tanya Adam.
"Lo mas, mau dimana lagi?" kata Sanas balik tanya.
"Kamu ngga liat di belakang banyak belanjaan kaya gitu." ujar Adam, Sanas bingung harus bagaimana.
"Emh.. ya udah aku naik ojol aja ya Mas." kata Sanas.
__ADS_1
"Duh.. Berat!! kok naik ojol, ya sini pindah ke depan. orang kamu tadi dari super market juga duduk di depan kok." kata Adam.
"Arghh... bodoh Asa, bisa - bisanya kamu lupa." batinnya. lalu pindah duduk di samping Adam.