CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 65


__ADS_3

Rasa khawatir menyelimuti Sanas kala itu, sudah cukup larut malam Jam menunjukan pukul 1 dini hari , namun Tama belum ada tanda - tanda pulang. Sedangkan sudah berulang kali Sanas berusaha menelepon atasannya namun tetap tiada jawaban. Sanas merasakan haus ia memutuskan untuk turun ke dapur untuk minum.


Tak selang berapa lama terdengar mobil berhenti di halaman rumah Sanas.


"Pasti itu Tuan Tama." lirih Sanas meletakan gelas minum di atas meja makan.


Brak.. Brak.. Brakk.. bunyi gedoran pintu, Sanas bergegas membuka kan pintu. Baru saja pintu terbuka dan Bruk!!! tubuh Tama ambruk.


"Tuan kau kenapa?" tanya Sanas khawatir.


"Bantu aku ke dalam, kepalaku pusing." ujar Tama.

__ADS_1


"Stt... Dia mabuk, untung saja semuanya sudah tidur." lirih Sanas lalu membopong tubuh Tama menuju kamar tamu.


"Maaf..." kata itulah yang keluar dari mulut Tama. Sanas membaringkan tubuh Tama di atas tempat tidur.


"Cepat bersihkan dirimu agar lebih segar." ujar Sanas, Tama pun mengiyakan perkataan Sanas.


Sanas menuju dapur guna membuatkan teh, selang beberapa waktu teh pun jadi. Sanas mengantarkan teh itu ke kamar Tama. Terdengar gemercik air dari kamar mandi bertanda Tama masih ada di dalam. Sanas merapikan baju kotor yang di buang sembarangan oleh Tama.


"Minumlah selagi hangat." ujar Sanas menyodorkan secangkir teh, dan di terima oleh Tama dengan senang hati. Sanas hanya menunduk malu, berbeda dengan Tama ia menatap lekat wanita yang sekarang ada di hadapannya. Seketika pikiran kotor muncul saat memandangi tubuh Sanas dari atas sampai bawah, mengingat Sanas yang hanya memakai dres mini berbahan satin yang tentu dengan nyata mengekspos kulit putih mulus milik Sanas, tak dipungkiri juga beberapa bagian tubuhnya yang padat berisi tak luput dari serangan mata nakal Tama.


"Tidurlah sudah malam." ujar Sanas yang ingin beranjak dari kamar Tama. Namun dengan cepat sigap Tama menahan tangan Sanas.

__ADS_1


"Terima kasih.." ujar Tama yang hanya di balas senyuman oleh Sanas. Saat Sanas hendak melanjutkan langkahnya Tama tetap menahan tangannya. Sanas yang kebingungan pun spontan balik badan, kini mereka berdua tengah berdiri berhadapan. Pandangan mereka bertemu, semakin lama Tama semakin mengikis jarak diantara keduanya. Dan Cup!!! satu kecupan mendarat tepat di bibir pink milik Sanas. Merasa tidak ada penolakan, Tama melancarkan aksinya dengan ******* bibir manis Sanas. Tama berusaha membuka bibir Sanas dengan lidahnya, dan berhasil!! lama kelamaan Sanas ikut terbuai dengan permainan Tama.


Merasa ciumannya terbalaskan, Tama melingkarkan tangan ke pinggang Sanas. Ia menggiring Sanas menuju tempat tidur tanpa melepaskan ciuman, Sanas hanya mengikuti arah permainan Tama, Entah mengapa kala itu tubuhnya benar - benar tak menolak sedikit pun. Kini cumbuan Tama beralih ke telinga dan leher jenjang milik Sanas, Tama tak melewatkan setiap inci dari tubuh Sanas. Kini tubuh Sanas sudah setengah telanjang, dengan sekali tarikan telah terpampang nyata tubuh polos Sanas.


"Apa ini pertama kalinya?" bisik Tama sebelum melanjutkan permainan berikutnya, Sanas yang awalnya terbuai dengan sentuhan Tama kini ia sudah sepenuhnya sadar,


"Ini salah.." ujar Sanas dengan suara bergetar. Tama terkejut ketika Sanas mendorong tubuhnya hingga terjatuh di samping tubuh Sanas.


Sanas menutup tubuhnya menggunakan selimut di sertai dengan air mata yang mengalir.


"Maafkan aku, aku khilaf.." kata Tama merasa bersalah. Bukannya menjawab Sanas justru memunguti pakaiannya yang berserakan lalu beranjak ke kamar mandi. Kini tinggalah Tama yang merutuki kebodohannya, hampir saja ia lepas kendali.

__ADS_1


Dengan masih menangis sesenggukan Sanas langsung keluar dari kamar Tama tanpa permisi, hal ini membuat Tama menjadi semakin merasa bersalah.


__ADS_2