
Sanas tampak terpaku menyaksikan kekasihnya sedang bertukar cincin dengan Sahabatnya. Sakit? jelas Sakit, bagaimana tidak kekasihnya yang selama ini dia nantikan kabar dan kehadirannya, kini justru kembali bukan untuk dirinya melainkan untuk orang lain dan melupakan semuanya.
"Kau disini?" tanya seseorang yang membuyarkan lamunannya.
"Eh.. Tuan Tama, Ya.. Saya di sini." jawab Sanas gugup.
"Apa kau menggantikan kehadiran Ayahmu?" tanya Tama.
"Ah.. Tidak, kebetulan yang sedang bertunangan itu adalah kawanku." jawab Sanas, Tama yang mendengar itu pun hanya ber oh ria.
Acara tukar cincin pun selesai, Nathaline yang melihat keberadaan Sanas pun mengajak Daniel untuk menjumpainya.
"Ayo kita ke sana, akan ku kenalkan kau dengan sahabatku." kata Nathaline, dan di iyakan oleh Daniel.
"Ayasa.." panggil seseorang yang tidak asing menurutnya. dengan sigap ia berbalik menuju sumber suara.
"Sanas.." seru Daniel. Pandangan mereka pun bertemu.
"Hay.. Niel, selamat atas pertunanganmu dengan Nathaline." sapa Sanas memberikan ucapan selamat.
"K.. Kau.." kata Daniel terbata - bata, namun hanya di balas senyum paksa oleh Sanas.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Nathaline.
"Tentu.." jawab Sanas menggantung, ingin rasanya ia berkata jika Daniel adalah kekasihnya. namun di urungkannya, mengingat ini adalah hari bahagia sahabatnya.
"Kami dulu satu sekolah, benar begitu Daniel?" tanya Sanas dengan senyum terpaksanya. Daniel mendengar itu pun pucat pasi.
"Wah.. ternyata dunia ini sempit ya, oh ya katanya kau ingin mengenalkanku dengan calon tunanganmu, mana? kau datang bersamanya kan?" tanya Nathaline.
"Tidak, Aku tidak jadi bertunangan." jawab Sanas menatap Daniel dengan wajah sendu.
"Astaga, kenapa begitu?" tanya Nathaline.
"Ada yang lebih baik, Maybe!!" jawab Sanas.
"I'm so Sorry, semoga kamu mendapatkan pria yang lebih baik Ayasa.." ujar Nathaline mengelus pundak Sanas.
"Ku harap juga begitu." jawab Sanas yang masih terus menatap Daniel.
"Nathaline, mama mencarimu kemana - mana. Kau di sini rupanya." kata Yola, Mama Nathaline.
"Mama aku menemui Ayasa sahabatku, mama ingatkan?" ujar Nathaline.
"Astaga, Ayasa... Kau kah itu? dari dulu sampai sekarang auramu tetap selalu menarik perhatian, Kau semakin cantik saja." ujar Yola sambil memeluk Sanas.
"Tante jangan berlebihan, Om dan Tante apa kabar?" tanya Sanas.
"seperti yang kamu lihat sayang, kami baik - baik saja. Kau sendiri bagaimana?" kata Yola balik tanya.
"Aku juga baik Tante." jawab Sanas.
"Kau kuliah?" tanya Rio, papa Nathaline.
"Ya, Om.. Kebetulan aku mendapat beasiswa di Universitas Negeri M." jelas Sanas.
"Kau dari dulu memang cerdas kau pantas mendapatkan itu." ujar Rio.
"Terima kasih Om.."
"Oh ya Ayasa, kau kan dulu sangat pandai bernyanyi. Pergilah ke podium untuk menyanyikan sebuah lagu." ujar Nathaline.
"Ah.. Tidak!! aku sudah lama tidak melakuhkan itu." tolak Sanas.
"Ayo lah, ku mohon." bujuk Nathaline.
"Tapi aku sudah lama tak melakuhkannya Nathaline." keukeh Sanas, namun tak di hiraukan oleh Nathaline.
Kini Nathaline menarik tangan Sanas menuju podium. karena sudah terlanjur malu, Mau tidak mau Sanas harus menyumbangkan lagu. Sanas sedikit berbincang dengan para pemain musik disana, tak berapa lama lampu sorot kini tertuju pada Sanas yang duduk di podium.
Menapak jalan yang menjauh
Tentukan arah yang kumau
Tempatkan aku pada satu peristiwa
__ADS_1
Yang membuat hati lara
Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akan kah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita
Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
Aku junjung petuamu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu belayar
Kini telah menepi
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia
Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akan kah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita
Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
Aku junjung petuamu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu belayar
Kini telah menepi
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia
Cinta Biar saja ada
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagai manapun hidup
Memang hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dengan ditinggalkan
Cinta
Nyanyian Sanas sontak membuat riuh para penonton, tak sedikit penonton yang ikut menitikkan air mata karena menghayati isi dari lagu yang di nyanyikan Sanas, begitu juga Daniel, ia merasa tersindir.
__ADS_1
"Lagi.. Lagi.. Lagi.." teriak para penonton. Sanas pun memberi isyarat pada pemain musik.
Kuteringat saat bersamamu
Bercanda mesra, bercumbu rayu
Bercerita kita berdua
Kenangan itu masih terasa
Bertahun sudah telah berlalu
Pamitmu pergi tinggalkan aku
Demi mengejar cita-citamu
Meski berat 'ku melepas kepergianmu
Sayang, aku kangen yang
Suaramu, candamu, ceriamu
Selalu terngiang di telingaku
Sayang, aku kangen yang
Senyummu, tingkahmu, gayamu
Selalu terbayang di mataku
Sayang, cepatlah kembali
Di sini kurindu menanti
Kuteringat saat bersamamu
Bercanda mesra, bercumbu rayu
Bercerita kita berdua
Kenangan itu masih terasa
Bertahun sudah telah berlalu
Pamitmu pergi tinggalkan aku
Demi mengejar cita-citamu
Meski berat 'ku melepas kepergianmu
Sayang, aku kangen yang
Suaramu, candamu, ceriamu
Selalu terngiang di telingaku
Sayang, aku kangen yang
Senyummu, tingkahmu, gayamu
Selalu terbayang di mataku
Sayang, cepatlah kembali
Di sini kurindu menanti
Sayang, cepatlah kembali
Di sini kurindu menanti
Para penonton pun kembali di buat riuh oleh Sanas, Wanita cantik bersuara merdu ini mampu membawakan lagu dengan penuh penghayatan.
"Wah.. Nona ini sangat luar biasa, Selain suara yang merdu ia juga mampu menghayati isi dari lagu ini dengan baik. Apakah nona sedang LDR dengan sang kekasih?" tanya MC saat lagu baru saja selesai.
"Ya, Anda benar!!" jawab Sanas singkat.
__ADS_1
"LDR dari mana kemana kalau saya boleh tau?" tanya MC mulai kepo.
"Kami LDR, Saya di sini dan dia berada... di pelukan orang lain." jawab Sanas sambil menatap kearah Daniel dan Nathaline. Daniel yang mendengar itu pun merasa tertampar. Berbeda dengan Marisa yang sedari tadi memperhatikan Sanas, ia tersenyum senang karena sudah berhasil menggagalkan rencana anaknya untuk bertunangan dengan Sanas.