
Eliyas duduk di teras sambil mengamati gerimis hujan yang membasahi kota XX malam itu. Sanas duduk tepat di samping Eliyas, ada keraguan di benak Sanas. Ia merasa canggung, bingung harus mulai bicara dari mana.
"Kenapa kau tampak begitu tegang?" Tanya Eliyas membuka suara.
"Hmmm... e.. e.. Anu.." jawab Sanas terbata - bata.
"Apa karena ketampananku hingga membuat kau terpesona?" Celetuk Eliyas.
"Hish.. Tuan ini, PeDenya luar biasa." Ketus Sanas.
"Hahaha..." Eliyas tertawa terbahak - bahak melihat raut muka Sanas yang memerah dan nampak begitu tegang. Sanas semakin kebingungan mendapati orang yang di sampingnya saat ini. Ya, Eliyas yang selalu tampil Jaim dengan mengatasnamakan Jabatannya irit senyum dan kejam saat berbicara, hari ini di hadapannya tertawa dengan begitu lepasnya.
"Kan kalau begitu enak di pandang." Celetuk Sanas spontan. Sontak membuat Eliyas kembali ke ekspresi muka datar dan dingin bak balok Es.
"Aduh!! Mati!! salah ngomong." Batin Sanas sambil memainkan jari jemarinya sendiri.
"Oh ya.. Tuan, Terima kasih anda sudah berkenan mengantarkan saya sampai ke rumah." Ujar Sanas dengan hati - hati.
"It's Ok!! ngga masalah." Jawab Eliyas singkat.
"Hish. menyebalkan! Sama - sama gitu kek." Batinnya kesal.
"Jangan sekali - kali mengumpatku, bisa - bisa kau jatuh cinta." ujar Eliyas dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Ishh.. apalah Tuan ini, Saya merasa tidak enak saja telah merepotkan Tuan." ujar Sanas.
"Hari ini aku sedang berbaik hati. jika saja lain hari terjadi lagi hal seperti tadi, aku tidak bisa memastikan jika akan mau membantumu." cibir Eliyas
"Kan... muncul lagi jiwa psikopatnya." Batin Sanas.
"Kembali ku ingatkan kau jangan mengumpatku." tegas Eliyas.
"Aihh..." Sanas kebingungan, bagaimana dia bisa tau jika dirinya tengah mengumpatnya dalam hati.
"Jangan - jangan dia indigo yang bisa membaca pikiran orang lain." Batinnya.
"Iyaa.. bahkan aku tau isi kepalamu yang mesum itu." tambah Eliyas. Sanas kembali salah tingkah mendengar ucapan Eliyas, ya baru saja ia memikiran jikalau dia di cabuli oleh Eliyas.
"Matii..." Batinnya.
"Wah.. Wah.. gak bener nih! memanfaatkan keadaan." Ujar Sanas.
"Hahaha..." Eliyas kembali tertawa terbahak - bahak. Sanas tambah dibuat bingung olehnya.
"Kau ini cantik, berbakat. tapi otak dangkal." Ejek Eliyas sambil mengacak - acak rambut Sanas.
"Hiihh.. Tuan!! Rambutku jadi berantakan." Katanya sambil menepis tangan Eliyas dan merapikan kembali rambutnya yang berantakan.
__ADS_1
"Huuuuuh..." Eliyas membuang kasar nafasnya.
"Ehh... btw, makasih lo Tuan sudah memuji saya cantik." ujar Sanas cekikikan. Eliyas hanya melirik sinis melihat tingkah konyol Sanas.
"Tuan, hujannya mulai deras. Ayo kita masuk!!" Ujar Sanas sambil menarik tangan Eliyas dan masuk ke rumah.
"Ehh.. Bibi." ujar Sanas dengan raut muka merah padam, pasalnya ia kepergok berdua - duaan dan bergandenga dengan Eliyas.
"Baru aja Bibi mau tutup pintunya, lagian kamu udah malem juga ngapain diluar udah tau lagi hujan." Ujar Bi Rose.
"Hehehe.. Anu Bi, tadi lagi cari angin." Kata Sanas salah tingkah.
"Terus itu tangannya Tuan Eliyas kamu tarik - tarik? Gak Sopan." Tegur Bi Rose.
"Eh... Maaf!" Sanas melepaskan tangan Eliyas.
"Maafkan atas ketidak sopanan keponakan saya ini Tuan, dia kadang - kadang memang tidak tau diri." Kata Bi Rose
"Tidak apa nyonya." Jawab Eliyas singkat
"Sya, kamu masuk kamar sudah malam besok kamu sekolah!" Perintah Bi Rose.
"Baik Bi, Permisi." Sanas pun menuju kamar tidurnya, untuk kesekian kalinya ia merasa dipermalukan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Eliyas dan Asisiten Kelvin berpamitan karena hari sudah malam dan Ia sudah memesan Hotel di dekat rumah Sanas.
...Guys kasih Masukan Buat Cerita Aku Dong, Aku Ngga Tau Sebenernya Kalian Itu Suka Ngga Sih Sama Cerita Yang Aku Buat Ini!!!...