CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 9


__ADS_3

 


6 Bulan Berlalu, Ujian Kenaikan Kelas pun telah di lewati Sanas dengan santai. Seperti biasa SMA XX mengadakan Classmeeting untuk mengisi hari sebelum nilai raport di bagikan. Sanas Mengikuti salah satu Ekskul OSIS jadi ia ikut serta dalam persiapan demi persiapan acara tersebut. Satu minggu berlalu, tinggalah puncak acara pembagian hadiah dan pensi kecil - kecilan saja. Semua kegiatan terlaksana tanpa hambatan satu apa pun.


"Yahh.. habis ini kita ngga ketemu 2 minggu guys." Ucap Santi.


"Iya nih bakalan kangen." sambung gea.


"Kalian ini lebay ah.. kita kan bisa jalan atau nongkrong bareng, lagian rumah kita ngga terlalu jauh - jauh amat kan." Kata Sanas.


"Ohh iya, Lupa hehe." Ujar Santi cengengesan.


"Ehh.. hari ini beresin sampe selesai aja dari pada besok kita kesekolah kan mending kita bobo." Celetuk Gita.


"Sarap loe, Sanas itu rumahnya lumayan jauh loe ngga liat ini aja udah hampir maghrib ngga kasihan kalo dia pulang kemaleman." Ketus Santi.


"Ssssttt... udah - udah, kapan mau selesai kalo kalian berantem kek gitu. Udah Santi ngga papa kok dulu waktu masih di KL aku juga sering pulang malem, jadi udah biasa okey." Ujar Sanas melerai dan meyakinkan.


 


Jam menujukan pukul 20.00 WIB, Sanas dan kawan - kawan baru saja menyelesaikan beberes ruang aula bekas acara tadi siang, mereka pulang kerumah masing - masing. Saat itu gerimis tipis - tipis menghiasi malam yang hening jalan pun terlihat sepi, mungkin banyak orang yang enggan untuk keluar rumah.


"Padahal belum terlalu malam." Ujar Sanas, tiba - tiba mobil Sanas di hadang oleh Mobil Sport. Cekriiitttt!!!! bunyi rem mobil sanas.


"Hoee... Keluar!!!" Ujar Salah satu di antara mereka. Mobil Sanas terkepung, ia mengambil ponselnya untuk mengabari keluarganya. Namun ternyata Ponselnya kehabisan baterai


"Siall..." Umpatnya


"Keluar atau gue pecah pintu mobil loe." Ancamnya Lagi. Sanas ketakutan dan memutuskan untuk keluar, ia berada di tengah - tengah gerombolan orang berperawakan besar tinggi dan berbau alkohol.


"Mati Aku." Batinya, Sanas sangat ketakutan. Ia di paksa masuk kedalam mobil oleh 2 orang pria.


"Akhh.. tolong lepaskan." Ujar Sanas berusaha meronta, namun sayang tak ada hasil karena tenaganya kalah jauh dari mereka yang berperawakan besar.


"Heii.. nona manis kita akan bersenang - senang bukan, kau temani kami minum setelah itu kita akan melepaskanmu." Ujar seseorang yang duduk di samping mengemudi mobil.


"Tolong lepaskan aku." Ujar Sanas mulai menangis, namun tak ada yang mempedulikannya.


"Kita bawa dia ke Apartemanmu saja Zen." Ujar salah satu di antara mereka. Sanas terkejut mendengar kata Zen dari mulut mereka. ya, benar dia Zen.


"Jangan di Apartemanku, aku sudah memesan hotel VIP. Tapi kita ambil minuman di rumahmu dulu." Ujar Zen melirik Sanas yang menatapnya benci melalui kaca mobil.


"Beri dia minum sedikit." Titah Zen, Sanas pun di paksa meminum minuman beralkohol.


1 gelas... 2 gelas.. 3 Gelas... 4 Gelas.. Karena Sanas tidak pernah minum minuman beralkohol, alhasil diapun ambruk.


"Joe, kau ambil minuman sebanyak - banyaknya, Kris bantu Joe." Perintah Zen.

__ADS_1


"Oke Bos!!" ucap mereka serentak. Joe dan kris masuk ke rumah, tinggalan Sanas dan Zen di dalam mobil.


Zen memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Joe dan Kris, ia menuju apartemannya. Sesampainya di Aparteman ia membopong Sanas menuju Kamarnya, Di tidurkannya Sanas yang terkulai lemas diatas tempat tidur.


**Di rumah Joe**


Ponsel Joe berbunyi, terdapat pesan masuk yang mengirimkan sebuah foto celana dal*m yang ada bercak merahnya.


"Sial.. pasti sekarang Zen sedang menikmati tubuh Sanas." Gerutu Joe.


"Arkhhh.. dia sudah menang taruhan, sekarang mendapatkan keperawanan ngga ajak - ajak kita lagi." Tambah Kris


Sedangkan Zen tersenyum puas di kamar hotel bersama Sanas. Zen menutup tubuh Sanas dengan selimut, Ia memeluk dan mengecup bibir Sanas. Zen Pun tertidur.


Keesokan Harinya


Sanas terbangun dari tidurnya, ia merasa berat untuk membuka matanya, Kepalanya Pusing dan badanya terasa sakit semua. Tiba - tiba ia tersadar ada sesuatu yang menindih perutnya, ia membuka lebar matanya. Kini ia sedang tidur berpelukan dengan seseorang, Sanas terbelalak ternyata ia tidur dengan Zen.


"Aaaaa..." Teriak Sanas, ia juga sadar dirinya tengah telanjang bulat kala itu ia menutupi bagian dadanya menggunakan selimut. Zen pun terbangun karena mendengar teriakan dari Sanas.


"Kau ini mengganggu tidurku gadis kecil." Ujar Zen yang menutup matanya.


"A.. Apa yang kau lakuhkan padaku." Teriak Sanas sambil terisak.


"Apa harus ku mulai dari awal agar kau bisa tau apa yang kita lakuhkan semalam." Ujar Zen dengan seringai liciknya. Zen mengambil Celana dalam dan rok abu - abu milik Sanas yang terdapat noda merah.


"Ti.. tidak, jangan mendekat." Ujar Sanas.


"Aku kotor.. Aku kotor... Maafkan aku ayah maafkan aku." Teriaknya. Sanas tampak frustasi mendapati keadaanya yang menyedihkan sekarang. ia mengisi bathup dengan air untuk berendam, sebelum berendam ia menyiram tubuhnya dengan Shower.


"Kau bodoh.. kau bodoh Sanas.. kau Bodoh!!!" Ujarnya sambil menggese - gesekan tubuhnya dengan tujuan untuk menghilangkan bekas merah yang ada pada tubuhnya, namun usaha itu telah sia - sia karena terlalu banyak Bekas merah yang terdapat pada tubuh Sanas.


Selesai mandi Sanas kebingungan ia tidak bawa baju ganti sedangkan seragamnya banyak bercak darah terpaksa ia memakai bathrobe yang ada di kamar mandi. Sanas keluar namun tak menemukan keberadaan Zen di sana.


"Kemana dia? enak sekali ya selesai mekperk*sa ku pergi begitu saja." Gerutunya. Ceklek!!! suara pintu terbuka.


"Zen.." Ujar Sanas kaget.


"Kamu Pakai baju ini, dan sarapan dulu. Setelah itu kau ku antar pulang." Ucap Zen menyodorkan paper bag berisi baju dan makanan. Tanpa ragu - ragu Sanas menerimanya, karena memang Sanas membutuhkan itu.


Selesai sarapan Zen mengantarkan Sanas Pulang. Di perjalanan Sanas tampak murung dan was - was.


"Kau Tau gadis kecil, kau tampak menggairahkan." Goda Zen.


"Kau tidak tau apa yang aku pikirkan" Ketus Sanas.


"Tentu yang kau pikirkan adalah permainan kita semalam kan manis?" Godanya lagi.

__ADS_1


"Dasar mesum."


"Kau kenapa?" Tanya Zen Serius.


"Aku bingung harus membuat alasan apa kalau sampai di rumah nanti." Jelas Sanas


"Kau tenang saja sayang, aku sudah mengirim pesan kalau kau tidur di kost teman sekelasmu melalui ponselmu." Ujar Zen.


"Sungguh?" Tanya Sanas.


"Yaa.." Tambah Zen, Syukurlah Sanas tampak lega sekarang.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Sanas.


"Tentu saja. Kau mau tanya apa? apa kau mau menanyakan berapa lama durasi kita tadi malam?" Tanya Zen kembali menggoda Sanas.


"Aku Serius Zen." Ujar Sanas.


"Cepat katakan."


"Apa kau bisa menjaga rahasia tentang kita semalam Zen, sungguh aku takut jika itu menurunkan harga diri ku. Aku janji aku ngga akan nuntut apa - apa dari kamu." Ucap Sanas serius.


"Apa kamu yakin tidak akan meminta pertanggung jawaban apa pun dariku Sanas?" Tanya Zen meyakinkan.


"Ya... Tentu, aku janji Zen tapi tolong cukup kita yang tahu masalah ini." Pinta Sanas.


"Kalau kamu hamil, apa masih tetap tak mau meminta pertanggung jawabanku?" Desak Zen. Seketika Sanas bungkam, ia berfikir bagaimana nasipnya jika benar dia hamil. Selain keluarga tentu masa depannya juga hancur.


"Yaa... aku akan menggugurkanya." Dengan berat hati Sanas harus mengatakan itu, demi Zen merahasiakan apa yang terjadi dengannya semalam. Zen hanya manggut - manggut.


"Baiklah jika itu maumu, Tapi dengan satu syarat." Ujar Zen.


"Syarat? Syarat apa?" Tanya Sanas.


"Kau juga harus bersikap biasa saja kepadaku, kau tidak boleh merasa canggung ketika berpapasan denganku.. Kau juga tidak boleh menolak ketika aku mengajakmu entah pergi keluar jalan - jalan atau sekedar pergi ke kantin waktu di sekolah." Ujar Zen.


"Baik.." Tanpa ragu Sanas mengiyakan persyaratan dari Zen, Zen tersenyum puas. Sedangkan Sanas hanya menunduk, "Bagaimana jika kau hamil" Perkataan itu tetap terngiang - ngiang di pikiran Sanas.


Sesampainya di rumah Sanas, Zen membukakan pintu mobil untuk Sanas.


"Terima kasih" Ujar Sanas. Zen hanya tersenyum.


"Mau mampir dulu?" Tanya Sanas.


"Tidak perlu aku harus kembali ke Aparteman." Ujar Zen.


"Baik.. Byee!!" Sanas melambaikan tangannya, ia memasuki rumah. Untung saat itu rumah sedang kosong jadi dia tak khawatir di introgasi oleh keluarganya. ia segera menuju kamar.

__ADS_1


_____________________________________


Maaf ya rek!!!! Ceritanya masih amburadul. karena baru pertama kali menulis cerita. Suport terus ya!!! I Love You💙


__ADS_2