
"Apa?" tanya Sanas saat mengangkat telepon.
"Aih mak.. ketus kali nada bicaramu, pantaskah seorang calon istri bersikap seperti itu kepada calon suaminya?" kata Tama di seberang telepon.
"Ada apa ku bilang?" ujar Sanas.
"Keruanganku sekarang." ujar Tama menutup teleponnya.
"Ishh..." dengus Sanas lalu beranjak dari duduknya.
"Ehh.. mau kemana?" tanya Caca.
"Keruangan Presdir." jawab Sanas berlalu menuju lift.
Ting!!! pintu Lift terbuka, Sanas segera masuk ke ruangan Tama. Terlihat Tama sedang berkutik dengan monitor di depannya.
"Permisi Pak Presdir, bapak panggil saya?" ujar Sanas dengan nada Formal.
"Duduk!!" kata Tama dingin. Terlihat ekspresi muka Tama yang serius membuat bulu kuduk Sanas merinding.
"Agendakan acara makan malam bersama kedua orabf tua kita." ujar Tama to the point.
"Hah??" ujar Sanas terkejut.
"Kenapa?" tanya Tama.
"Dalam rangka apa anda mau mengajak kedua orang tua kita makan malam?" tanya Sanas.
"Bukankah kau yang mau semua ini?" Kata Tama balik tanya.
"Apa maksutnya?" tanya Sanas.
"Aku sudah membicarakan keinginanku untuk menikah kepada kedua orang tuaku, dan mereka tidak keberatan. Mereka juga membebaskan aku untuk memilih pasangan So.. Bulan ini aku berencana melamarmu, tapi sebelumnya aku mau ada pertemuan antara kedua orang tua kita." jelas Tama.
"What? apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Sanas.
"Lebih cepat lebih baik." kata Tama Santai.
__ADS_1
"Apa kau gila? aku masih kuliah setengah jalan, dan aku tidak mau putus kuliah." ujar Sanas.
"Siapa yang memintamu berhenti kuliah, kau tetap kuliah." kata Tama.
"Tidak Bisa, aku dapat beasiswa kalau kau lupa, itu tandanya aku baru boleh menikah setelah lulus." ujar Sanas.
"Kau kuliah tinggal 3 semester bukan, waktu yang tepat untuk kita melaksankan pertunangan." kata Tama.
"Aku.. Aku.." kata Sanas gugup.
"Kau yang minta ini semua Kreyasa Anastasya, aku banyak bergantung padamu saat ini. ku harap kau tidak mengecewakan." kata Tama.
"Silahkan keluar, dan lanjutkan pekerjaanmu." ujar Tama.
Tanpa menunggu perintah lagi Sanas beranjak dari duduknya.
"Permisi!!" ujar Sanas pergi meninggalkan Tama.
"Jangan lupa agendakan acara makan malamnya." kata Tama sebelum Sanas keluar dari ruanganya.
"Aku tidak janji." ujar Sanas.
"Kenapa?" tanya Tama.
"Hmm.. baiklah, minimal orang tuaku bertemu denganmu. Lebih cepat lebih baik ya calon istriku." sambung Tama, Sanas hanya terdiam.
Kini jantung Sanas seakan berpacu 10x lebih cepat dari biasanya, ia kelabakan dengan tantangan yang ia ajukan kepada atasannya. Sanas memasuki ruangannya dengan lesu.
"Sstt..." bisik Caca kepada Delon.
"Apa?" tanya Delon.
"Si Sanas kok lesu banget? jangan - jangan dia di pecat." kata Caca.
"Hah? ga mungkin." ujar Delon, keduanya oun menghampiri Sanas.
"Sa.. Loe kok pucet banget si? loe ngga di pecat kan?" tanya Caca.
__ADS_1
"Ini lebih parah dari di pecat Ca.." jawab Sanas membuat Caca dan Delon terkejut.
"Kenapa, loe di blacklist?" tanya Caca heboh.
"Bukan Ih.." ujar Sanas kesal.
"Ya terus apa?" tanya Caca tak kalah kesal.
"Si bos nyanggupin persyaratan yang gue minta. dan loe tau, dengan gampangnya orang tua dia ngiyain dong." ujar Sanas.
"Ya bagus lah, loe jadi ngga konflik batin gegara ngga di restuin calon mertua." ujar Caca santai.
"Pala bapak kau!!! bukan itu masalahnya." ujar Sanas menoyor kepala Caca.
"Aww... ya terus apa dong, kalo cerita jangan setengah - setengah." ketus Caca sambil meraba - raba jidatnya.
"Tau ihh.. Sanas, bikin kita penasaran aja." ujar Delon.
"Bulan ini Presdir mau ngelamar gue." ujar Sanas.
"What??" seru Caca dan Delon bersamaan.
"Gila, loe serius?" tanya Caca yang di balas anggukan oleh Sanas.
"Wah bakal jadi nyonya Arthama nih temen gua." seru Delon.
"Plis kasih tau gue, gue harus gimana? jujur gue ngga siap nikah muda." ujar Sanas dengan muka memelas.
"Ya mau gimana lagi, elu sih pake acara kasih tantangan segala kan jadi makin runyam." kata Caca.
"Ya gue ga mikir kalo bakal kejadian kayak gini kali Ca, gue pikir, orang kalo udah bahas nikah itu pasti harus di pikirin mateng - mateng. Gataunya malah gini." ujar Sanas.
"Udah jalanin aja kali Sa, lagian kalian berdua cocok kok." ujar Delon.
"Ngga semudah itu, loe tau kan gue masih kuliah." ujar Sanas.
"Udah bener kata si Delon, loe jalanin aja dulu" sambung Caca.
__ADS_1
"What The Hell!!!!!" umpat Sanas.