
Eliyas memijit sedikit pelipisnya, ia kepikiran akan perkataan Kelvin. Eliyas takut jika suatu saat ia menyakiti hati Sanas, sedangkan di sisi lain Eliyas yang sudah tidak tertarik lagi dengan Riyana sejak pertemuannya dengan Sanas itu pun yakin jika dia sudah berhasil move on dengan cinta pertamanya itu.
Ketika memasuki Apartemen Eliyas melihat Sanas sedang duduk termenung di balkon. Ia pun mendekati dan memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Eliyas membuyarkan lamunan Sanas.
"Eh.. Kak El, Tidak.. tidak ada yang ku pikirkan." elak Sanas.
"Sudah pandai berbohong ya sekarang.." ujar Eliyas mencubit hidung Sanas.
"Seandainya anak kita masih ada di sini, mungkin saat ini aku benar - benar sedang mengidam ya kak El.." ujar Sanas dengan mata berkaca - kaca.
"Sssttt.. sudah, mungkin Tuhan ingin melihat kita membesarkan anak dengan ikatan yang sah. ikhlaskan dia ya! dia di sana sudah bahagia, apa lagi sebentar dia akan menyaksikan mama dan papanya menikah secara Sah, dia akan lebih bahagia bukan." ujar Eliyas menghibur.
"Tapi kak El tahu sendiri kan, kalau aku bakal susah punya anak." ujar Sanas serak.
"Jangan bicara seperti itu, masih banyak kemungkinan kamu bisa hamil sayang, ku mohon jangan bicara seperti itu lagi." kata Eliyas membererat pelukannya.
"Kenapa kau sebegitunya yakin? kau tidak hanya kasihan terhadapku kan?" tanya Sanas.
"Sama sekali tidak, Aku mencintaimu sungguh mencintaimu. Dari awal kita bertemu saat kamu masih duduk di bangku SMA dulu ada perasaan aneh setiap kali aku bertemu denganmu, meskipun awal pertemuan kita terkesan menyebalkan saat itu." ujar Eliyas meyakinkan. Sanas menatap manik mata Eliyas, dan tida ada kebohongan di sana.
"Apa kau ingat saat aku mencuri ciuman pertamamu?" tanya Eliyas cengengesan.
"Ishh.. menyebalkan!" ujar Sanas, otaknya menuju pada kejadian dimana Eliyas mencium Sanas beberapa tahun yang lalu.
"Jadi mau rujak jambu kristal nggak?" tanya Eliyas. dengan sigap Sanas menganggukan kepala.
"Ayok.." ajak Eliyas.
"Kemana?" tanya Sanas.
"Astaga, katanya pengen rujak jambu kristal." kata Eliyas tepuk jidat.
"Kan bisa Gofood." ujar Sanas.
"Enakan dimakan di tempat, buruan siap - siap terus kita otw.." ujar Eliyas.
"Oke.. Oke.. Aku siap - siap dulu 1 jam oke!!' ujar Sanas berlalu memasuki kamarnya. Melihat tingkah Sanas itu pun membuat Eliyas hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.
Skip..
Skip...
Skip....
Skip.....
Setelah mengelilingi Alun - Alun kota M, Eliyas menepikan mobil lamborgininya di tepi jalan.
" Akhirnya dapat!!" ujar Eliyas.
"Akhirnya.." ujar Sanas.
__ADS_1
"Kamu turun dulu ya, aku angkat telepon terlebih dahulu." ujar Eliyas.
"Ok, aku tunggu di sana ya.." ujar Sanas.
"Ok, Sayang.." ujar Eliyas. Sanas pun turun lalu menuju tempat abang - abang rujak jambu kristal.
Lama - lama Sanas jenuh, Sudah 15 menit berlalu, namun Eliyas belum juga menampakan batang hidungnya. Karena cuaca sedikit panas Sanas pun merasa kehausan, ia pun memutuskan untuk mencari minuman dingin.
"Mas, Es jeruk perasnya 1 ya.." ujar Sanas kepada pedagang es jeruk.
"Sanas.." panggil orang itu, merasa namanya di panggil Sanas pun melihat ke arah sang penjual es jeruk.
"Loh.. Daniel, Nyonya Marisa!!" seru Sanas terkejut.
"Kalian, Kok.." ujar Sanas heran.
"kami harus menyambung hidup dengan cara seperti ini. Yah.. mungkin kamu heran tapi Beginilah keadaan kami setelah ayahmu memutuskan kontrak kerja dengan perusahaan kami nak, maafkan saya.. Saya dulu berlaku buruk kepadamu, Maafkan saya.. Maafkan saya.." ujar Marisa bersimpuh di kaki Sanas.
"Sudahlah, Nyonya.. saya sudah lama memaafkan anda." ujar Sanas mengajak Marisa bangkit.
"Sungguh saya menyesal, seandainya waktu itu saya tidak gegabah mungkin kamu sekarang adalah menantuku." ujar Marisa penuh sesal, terlihat Daniel yang tertunduk diam seribu bahasa.
"Yang lalu biarlah berlalu Nyonya, saya sudah melupakan kejadian itu." ujar Sanas.
"Kau memang anak baik." ujar Marisa.
"Niel.. Mana Nathaline?" tanya Sanas, bukannya menjawab semuanya justru terdiam.
"Kenapa diam?" tanya Sanas.
"Terus saja sebut - sebut wanita keparat itu sampai mulutmu berbusa. Ingat Daniel, selagi statusku masih sebagai istrimu. Tidak akan ku biarkan satu wanita pun berani mendekatimu.Camkan itu!!!" seru Nathaline.
"Siapa yang menganggapmu sebagai istri hah?? apa kau pikir aku sudi mengakui kau sebagai istriku. Jangan mimpi terlalu tinggi. Asal kamu tahu, aku menikahimu selain menjadikanmu budak *** ku adalah memperlancar jalanku untuk menikahi Sanas kekasihku, Mulai sekarang kau harus sadar diri karena sampai kapan pun kau tidak akan mampu menggeser posisi Sanas di hatiku." tegas Daniel.
"Tega sekali kau mengatakan hal ini kepadaku yang tengah hamil tua darah dagingmu Daniel, terbuat apa hatimu itu hah.." teriak Nathaline.
"Jangan tanyakan perihal hati, jika saja waktu itu kau tidak datang di kehidupanku mungkin saat ini aku tengah bahagia dengan Sanas." ujar Daniel dengan nada tinggi, entah kenapa bayangan Sanas tetap terngiang di pikiran Daniel, Obsesinya dan rasa ingin memiliki Sanas tetap ada meskipun ia tahu jika Sanas sekarang sudah bahagia dengan dunianya, di tambah lagi sebentar lagi ia akan menjadi istri seorang CEO di Arthamara Group.
"Baik, jika kau rasa kedatanganku hanya sebuah petaka dalam hidupmu. Kali ini aku akan pergi, aku muak dengan sebutan nama wanita ****** itu. Dan ingat Daniel kamu akan menyesal!!! dengar!!! KAMU AKAN MENYESAL!!!" ujar Nathaline dengan menekan kata - kata terakhirnya.
"Silahkan saja kau pergi, justru dengan itu aku akan mendapatkan cinta Sanas kembali." ujar Daniel sinis.
"Dasar laki - laki tak tau malu!!!" hardiknya dan hendak menampar Daniel, namun di tepisnya tangan Nathaline. Tiba - tiba tubuh Nathaline tak seimbang hingga membuat ia terguling di tangga dan terjatuh dari lantai 2 rumah Daniel. Tentu Daniel Syok setengah mati, bagaimana tidak. Kini ia menyaksikan sendiri ada seorang wanita yang tengah mengandung darah dagingnya tergeletak tak sadarkan diri di lantai dasar rumahnya.
Tanpa aba - aba Daniel membopong tubuh Nathaline dan membawanya ke rumah sakit.
****
Di depan ruang Operasi Daniel mondar mandir kebingungan menunggu hasil pemeriksaan Nathaline dan calon anaknya. Tak selang beberapa lama, Dokter keluar dari ruang Operasi.
"Keluarga Nona Nathaline?" tanya Dokter.
"Saya suaminya dok." ujar Daniel.
__ADS_1
"Mari ikut saya terlebih dahulu Tuan, ada yang harus saya bicarakan." ujar dokter. Daniel pun mengikuti sang dokter.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" tanya Daniel.
"Nona Nathaline sudah melewati masa kritisnya, mungkin beberapa jam lagi beliau akan sadarkan diri. Tapi.." kata dokter menggantungkan perkataannya.
"Anak saya sehat kan dok?" tanya Daniel antusias.
"Kami sudah melakuhkan yang terbaik pak, namun anak bapak tidak dapat kami selamatkan. Dan kemungkinan anak bapak sudah meninggal di dalam kandungan sejak perjalanan menuju rumah sakit." jelas Dokter. Dunia Daniel serasa runtuh kala mendengar pernyataan tersebut.
Dengan langkah gontai Daniel menuju ruang rawat Nathaline, di lihatnya wanita terbaring di atas brangkar.
"Seandainya tadi kamu tidak mengatakan hal yang tidak - tidak tentang Sanas yang membuatku emosi, mungkin Anak kita akan terlahir selamat Nath.." lirih Daniel sambil mengusap rambut Nathaline.
***
Nathaline mengerjap - erjapkan matanya, ia menelusuri sekeliling hingga ia sadar jika ia sedang ada di rumah sakit. Seketika ingatanya menuju kejadian dimana Ia bertengkar hebat dengan Daniel semalam. Ia meraba perutnya yang semula membuncit kini telah rata kembali, itu tandanya buah hati yang di nanti - nantinya telah lahir.
"Anakku..." ujar Nathaline. Daniel yang sedang tertidur di sofa kamar Nathaline terbangun seketika setelah mendengar suara Nathaline yang telah sadarkan diri.
"Nath.. kau sudah sadar?" tanya Daniel.
"Niel.. Mana Anak kita? anak kita sudah lahir kan? aku ingin bertemu dengannya, Aku ingin menggendongnya, Menyusuinya." ujar Nathaline Sumringah.
"Nath.. tenang dulu ya, aku panggilkan dokter sebentar." kata Daniel. Tak selang beberapa lama dokter pun datang memeriksa keadaan Nathaline.
"Nona Nathaline, jangan terlalu banyak bergerak dulu ya, karena kondisi nona masih sangat lemah." kata Dokter.
"Baik Dokter, Tapi dok.. saya boleh menggendong anak saya kan?" tanya Nathaline. Mendengar itu pun dokter hanya terdiam.
"Dokter kenapa diam? saya ingin bertemu anak saya dok." ujar Nathaline.
"Maaf Nona, biar Tuan Daniel yang menjawabnya. Saya permisi!!" kata Dokter. Nathaline semakin di buat kebingungan karenanya.
"Daniel.. mana anak kita? aku ingin menyusuinya." ujar Nathaline.
"Anak kita.." kata Daniel menggantungkan ucapanya.
"Iya mana anak kita?" tanya Nathaline.
"Anak kita tidak terselamatkan, Anak kita meninggal." ujar Daniel dengan nada bergetar. Jedar!!!! bagai di sambar petir di siang bolong.
"Tidak.. Tidak.. Tidak mungkin!!! kau bohong Daniel, kau bohong!!! kau pasti ingin memisahkan aku dan anakku kan." ujar Nathaline histeris.
"Aku tidak bohong Nath.. anak kita meninggal." kata Daniel.
"Tidak!!!!" teriak Nathaline.
Satu minggu berlalu...
Keadaan Psikis Nathaline semakin hari semakin buruk. Ia mulai berhalusi tentang anaknya, keluarga Nathaline berusaha mengobati Nathaline dengan membawanya ke beberapa psikiater namun usahanya sia - sia, semakin hari keadaan Nathaline semakin memburuk, akhirnya beberapa psikiater menyarankan agar Nathaline di rawat di RSJ.
...----------------...
__ADS_1
...Hallo Readersku, Satu karma mendarat cantik ke orang yang tepat ya pemirsa😂 Lanjut gak nih?...