CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 168


__ADS_3

Eliyas berlari menuju lantai dasar, siapa tau ia bisa menemukan istri cantiknya di sana. Ia sudah memeriksa seluruh ruangan namun tak di dapatinya Sanas di sana, Eliyas ingat juka istrinya sangat suka sekali ke taman untuk merawat tanaman mawar kesayangannya, tanpa pikir panjang Eliyas bergegas kesana. Betapa terkejutnya Eliyas ketika melihat seluruh tanaman mawar kesayangan istrinya yang sudah layu dan nyaris mati.


"Astaga.. apa yang terjadi, mengapa bisa seperti ini?" batin Eliyas.


"Sayang.. kamu di mana? ayo kita cari tanaman mawar yang baru,aku akan membelikan jenis mawar yang kau mau.. Kamu di mana, Sayang!!!" teriak Eliyas menggema di seluruh ruangan.


"T-Tuan muda s-sudah pulang.." kata bi Gina yang baru saja sampai.


"Bibi.. kau dari mana saja? Apa bibi tau kemana perginya istriku?" tanya Eliyas.


"Nona Muda...." kata Bi gina bingung harus menjawab apa.


"Bibi.. kau tau, akhirnya istriku hamil bi.. Bibi cepat siapkan pesta yang besar di rumah ini, aku ingin merayakan kehamilan istri cantikku." kata Eliyas.


"Oh ya Bi... aku akan pergi sebentar, aku ingin mengganti tanaman mawar istriku yang mati dengan tanaman yang baru, Bibi siapkan semuanya ya. usahakan sebelum istriku pulang semuanya sudah selesai oke, aku pergi dulu Bi.. " kata Eliyas hendak beranjak, Bi gina yang mendengar itu pun trenyuh di buatnya.


"Nona Muda ada di rumah sakit Tuan..." ujar Bi Gina bergetar. mendengar itu pun Eliyas menghentikan langkahnya, perasaannya mulai tak enak.


"Apa dia menemui Riyana?" tanya Eliyas khawatir, Bi Gina hanya menggeleng


"Pasti dia checkup kehamilannya kan Bi?" tanya Eliyas lega. lagi - lagi Bi gina hanya Menggeleng.


"Lalu?" tanya Eliyas.


"Semalam Tuan Kelvin yang membawa Nona ke rumah sakit." ujar Bi Gina.


"Kelvin? kenapa bisa Kelvin?" tanya Eliyas.


"Semalam Nona menenggelamkan diri pada bathup Tuan Muda, sepertinyan Nona sengaja ingin bunuh diri. beruntung Ada Tuan Kelvin, Kalau tidak-" kata Bi gina terpotong.


"Di ruang apa istriku di rawat bi?" tanya Eliyas panik.

__ADS_1


"VVIP No.409 Tuan Muda." jawab Bi Gina. Eliyas pun dengan segera menginjak pedal gasnya menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan ia hanya mengumpat dirinya sendiri. Lagi - lagi ia hampir saja menyelakai Istri cantiknya. bukan hampir, tapi sudah menyelakainya.


Rumah Sakit Angkasa


"Permisi Nona... Saya akan memeriksa keadaan Nona.." kata Dokter.


"Silahkan Dokter." kata Sanas.


"Permisi.." kata Dokter saat hendak memeriksa menggunakan stetoskop.


"Kak Dariel.." lirih Sanas namun masih dapat di dengar oleh sang Dokter. Merasa namanya di panggil, Dokter Dariel pun mendongakan wajahnya.


"Apa Nona pernah bertemu saya sebelumnya?" tanya Dokter Dariel. Bukan maksud terlalu PeDe atau apa, karena memang ia baru Dua bulan pindah tugas di Rumah Sakit ini. Tentu ia terkejut jika ada yang memanggilnya dengan sebutan KAK, terkesan dekat sekali bukan?


"Benar ini Kak Dariel? Aku Ayashaa kak.. apa kakak Lupa?" tanya Sanas.


"Ayashaa? benarkah? jadi kau istri dari pemilik rumah sakit ini?" tanya Dokter Dariel terkejut.


"Astaga.. maafkan kami Ayashaa.. Kami tidak bisa datang ke acara pernikahanmu." kata Dariel.


"Tak apa kak.." jawab Sanas.


Dariel adalah anak sambung dari Rachel ibunda Sanas, mereka pernah bertemu ketika Sanas masih duduk di bangku kelas 3 SD meskipun tak banyak perubahan pada diri Sanas ternyata sukses membuat kakak tirinya itu lupa akan dirinya.


"Kakak.. menjadi seorang dokter sekarang." ujar Sanas.


"Ya... seperti janjiku dulu, aku akan menjadi dokter agar bisa mengobatimu. ternyata kesampaian juga mengobatimu. kau lupa kau dulu sakit - sakitan apa lagi terkena cuaca dingin." kata Dariel.


"Ya.. yaa.. aku sangat ingat, apa lagi saat kau mengerjaiku dengan bunga kenanga waktu itu aku benar - benar mual.' kata Sanas.


"Hahaha.. kau masih ingat saja, maafkan aku!!! waktu itu aku gemas melihat tingkahmu saat ketakutan." kata Dariel.

__ADS_1


"Dasar!!!" kata Sanas meninju lengan Dariel.


"Hmm... terima kasih ya, ini lumayan loh.." ringis Dariel. Sanas tertawa.


"Apa yang terjadi sampai - sampai tubuhmu melepuh seperti ini?" tanya Dariel.


"Aku salah menyalakan shower saat mandi kak, jadi hasilnya ya seperti ini." kata Sanas bohong.


"Lalu lebam di wajahmu?" tanya Dariel masih ingin tahu.


"Aku punya alergi kak." jawab Sanas bohong lagi.


"Sungguh? kau tidak mengalami KDRT kan?" tanya Dariel tepat sasaran.


"Tidak kak, mana mungkin.." ujar Sanas.


"Syukurlah jika begitu." ujar Dariel.


Brakk.....


Tampak Eliyas datang buru - buru membuka pintu dengan nafas yang terengah - engah. Dariel yang melihat itu pun kaget, sedangkan Sanas jangan di tanya lagi. Ia tampak ketakutan melihat Eliyas.


"Aku harus memeriksa pasien berikutnya Ayashaa.. jam istirahat nanti aku akan kemari." ujar Dariel.


"Terima Kasih kak Dariel, sampai nanti.." kata Sanas.


Eliyas tampak mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa seorang Sanas tampak begitu akrab dengan seorang dokter yang belakangan


diketahui dokter baru di sini.


"Permisi Tuan.." kata Dariel. Eliyas hanya sedikit menyunggingkan senyumannya lalu mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2