
Saat aku sedang memantau proyek bersama Sanas, Glen yang ku perintahkan mengikuti Yussy mengirimkan lokasi keberadaan Yussy, aku segera mengantarkan Sanas pulang dan menuju lokasi tersebut. Sialnya sudah tak ku dapati wanita ular itu di tempat. Akhirnya aku kembali kerumah Sanas dengan harapan semoga apa yang di lihat utusanku bukanlah hal yang benar. Kedatanganku di sambut hangat oleh Sanas, seperti seorang istri yang menyambut suaminya pulang bekerja.
"Ah.. mungkin seperti ini rasanya mempunyai seorang istri." batinku, aku masuk ke kamarku dan membersihkan tubuhku yang penuh keringat. Setelah itu ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur.
Tiba - tiba ponselku berbunyi tanda ada pesan masuk, Yussy!! ya mau apa lagi kalau bukan minta uang. Ku transfer uang yang ia minta, selama ini Yussy bersikap manis terhadapku, itulah mengapa aku menepis kabar jika ia berkhianat di belakangku. Saat asyik ber-Chating ria dengan Yussy pintu kamarku di ketuk oleh seseorang, segera ku raih handel pintu. Ada wanita cantik yang tengah berdiri di depan pintu kamarku memberi tahu jika sudah waktunya makan malam.
Selesai makan malam, aku duduk di ruang keluarga bersama kedua paman dan bibi Sanas, mereka sangat ramah hingga membuatku merasa tak di asingkan meskipun aku orang luar. Aku terkejut saat mataku menangkap bingkai foto yang disana terdapat rekan kerjaku di luar kota, siapa sangka ternyata itu adalah ayah dari wanita menyebalkan di hadapanku. Cukup membuatku salut, meskipun ia mempunyai seorang ayah pengusaha namun ia memilih hidup mandiri dengan bekerja sebagai sampingan kuliahnya, Ah.. ku rasa otaku sudah meledak jika di posisinya.
****
__ADS_1
Keesokan harinya aku kembali mendapat kabar jika Yussy berada di sebuah hotel berbintang yang jaraknya lumayan jauh dari keberadaan proyekku. Tanpa pikir panjang ku tinggalkan Sanas seorang diri untuk menantau proyek, sedangkan aku bergegas menuju lokasi. Sesampainya di hotel aku langsung menuju meja resepsionis ku tanyakan keberadaan kamar seorang Yussy Kumala, Benar saja Yussy chekin di hotel tersebut.
"Boleh saya minta kunci cadangan?" tanyaku.
"Maaf, anda siapa nona pemilik kamar ini? kami sangat menjaga privasi customer kami jadi tak sembarang orang boleh masuk ke kamar customer." kata Resepsionis itu dengan ramah.
"Apa perlu bantuan dari kami tuan?" tanyanya lagi.
"Tidak, ini sangat privasi.. ku mohon adikku sedang ada masalah dan butuh bantuanku." kataku memohon, akhirnya resepsionis itu memberikan aku kunci kamar yang di tempati Yussy.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, aku segera menaiki lift menuju lantai 3 untuk menuju kamar Yussy. Ting!! pintu lift terbuka aku segera mencari kamar nomor 103 dan ketemu, segera ku buka pintu kamar tersebut namun ta ada seorang pun di sana. Ku lihat tas kesayangan Yussy di letakkan di atas nakas, itu berarti aku tak salah kamar. Ku dengar suara gemercik air dari kamar mandi.
"Pasti Yussy sedang mandi." batinku, namun tak berapa lama sepertinya Yussy telah usai mandi. Karena kepalang tanggung, dengan sigap aku masuk bersembunyi di dalam almari yang di penuhi handuk dan bathdrop, Pengap? jelas iya tapi apalah daya demi memastikan kebenaran aku harus melakukan ini.
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah persembunyianku.
"Semoga aku tidak ketahuan." batinku. aku memilih posisi duduk agar tak ketahuan. Mataku terbelalak kala melihat Yussy tengah telanjang bulat meraih bathdrop, aku semakin terkejut saat melihat tangan kekar memeluk tubuh polos kekasihku dari belakang.
Degh!!! aku menyaksikan sendiri kekasihku tengah bersetubuh dengan pria lain, hatiku sakit saat mendengar desahan dan lenguhan nikmat yang di lontarkan kekasihku. Aku masih tak percaya tapi inilah kenyataanya, dadaku sesak emosiku memuncak. Ingin rasanya ku hantamkan pukulan bertubi - tubi ke arah pria itu tapi rasanya aku tak mampu. Ku raih ponsel miliku dan ku rekam aksi keduanya sebagai senjata jika suatu saat Yussy mengelak.
__ADS_1