
Seperti biasa Sanas akan pulang setiap Weekendnya. Tapi begitu pintarnya Eliyas bersikap seolah tidak terjadi apa - apa. Dimana Riyana saat Sanas pulang? Tentu di sembunyikan si apartemen milik Eliyas, jika Sanas pulang Eliyas akan tinggal di apartemen karena sudah sewajarnya wanita hamil akan merengek minta ini itu dengan alasan Ngidam, benar ngidam atau hanya akal - akalan Riyana agar Eliyas simpati dengannya. jika di tanya Apakah Eliyas berhubungan intim dengan Riyana? jawabanya Tidak!!! Eliyas sama sekali enggan untuk menyentuh Riyana, bahakan meskipun tinggal bersama Eliyas tetap tidur terpisah dengan istri keduanya itu.
"Apa yang harus aku lakuhkan jika Ayashaa pulang seterusnya.." batin Eliyas.
"Sayang berapa lama lagi kamu di kota KL?" tanya Eliyas.
"Sepertinya 2 - 3 minggu lagi hubby." jawab Sanas.
"Baiklah.." kata Eliyas lesu.
"Hey.. sepertinya kau tidak suka mendengarku akan pulang sebentar lagi sayang." kata Sanas.
"Bukan sayang, kenapa terasa lama sekali." ujar Eliyas.
"sabar dong sayang.." kata Sanas hendak bergelanyut manja, namun Eliyas menghindarinya.
"Why?" tanya Sanas.
"Tidak, aku hanya lelah saja." ujar Eliyas.
"tapi aku rindu El.." ujar Sanas memohon, akhirnya Eliyas meraup Sanas kedalam dekapannya. Tak selang beberapa lama Sanas pun tertidur.
"aku pasti berdosa karena menikah tanpa sepengetahuanmu Ayashaa.." lirih Eliyas sembari menatap sendu istrinya.
"Tapi kau harus tau Ayashaa, di balik rasa bersalahku ini aku juga bahagia karena aku akan menjadi seorang ayah. Kau.. Kau juga akan menjadi seorang ibu." tambah Eliyas.
"Semoga saja kau bisa menerima ini semua ya.." ujarnya mencium kening Sanas dalam - dalam.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Seperti biasa, Eliyas mengantarkan Sanas ke Airport. Namun bedanya Eliyas tak menunggu Pesawat Sanas, karena alasan sibuk. Padahal siapa lagi yang membuat ulah jika bukan Riyana, wanita gatal itu selalu membuat waktu Eliyas terasa sempit. Namun demi anak, Eliyas menuruti apa pun kemauan Riyana.
Sedangkan Sanas, Ia tak jadi pergi ke Kota KL karena memang urusannya sudah selesai. Ia hanya ingin memberi kejutan untuk Eliyas karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, sebenarnya semalam ia sudah memberikan ucapan tapi kali ini dia ingin memberikan kado sepecial untuk Eliyas. Ia membuntuti Mobil Eliyas yang ia kira menuju kantornya, namun ia sedikit heran karena Eliyas justru menuju Apartemennya.
"Mungkin dia ingin mengambil beberapa berkas." batin Sanas.
"Pak, tunggu di sini dulu nggak papa ya, nanti saya kasih tips deh." ujar Sanas kepada sopir taksi yang di tumpanginya.
Sudah 30 menit lamanya, namun Eliyas tak kunjung keluar juga, Sanas memutuskan untuk menyusul masuk ke Apartemen Eliyas. Sanas tak bisa membayangkan ekspresi Eliyas jika melihat isi dari kotak yang di bawa Sanas. Sanas menekan Pin untuk masuk ke apartemen Eliyas, ia sengaja tak menekan bel, karena ya memang tujuannya untuk kejutan.
Pintu terbuka, namun Sanas tak menemukan Eliyas duduk di meja kerjanya yang kebetulan berhadapan dengan pintu masuk, Sanas sudah mengira jika Eliyas berada di kamar. Saat hendak memutar knop pintu, jantung Sanas terasa berdetak begitu kencang. Keringat dingin mengucur, dadanya sesak kala mendengar ada suara perempuan di dalamnya. Dengan penuh keberanian ia membuka pintu tersebut.
"Ell....." lirih Sanas, ia tak mampu berteriak saat melihat Suaminya sedang berhadapan dengan seorang wanita dengan bibir yang masih bercumbu. Mendengar ada yang memanggil namanya, Eliyas segera melepaskan tautan bibirnya.
"Ayashaa.." ujar Riyana dan Eliyas bersamaan.
"Apa ini?" tanya Sanas lirih.
"Sayang.."
"Apa maksut ini semua?" tanya Sanas lagi.
__ADS_1
"Ayashaa.. aku akan menjelaskan semuanya, ini.. ini semua tidak seperti yang kau bayangkan." kata Riyana.
"Aku tidak berbicara denganmu Jala*g. dan perlu kau ingat, jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu." ujar Sanas dingin, kini pandangannya berlaih kearah suaminya.
"Ayashaa cukup!!! aku bukan ******!!! dan jangan sekali - kali kau bersikap seperti itu karena posisi kita sekarang sama!!" teriak Riyana yang membuat Sanas tersulut emosi.
"Apa? jangan samakan derajatku dengan wanita rendahan sepertimu." Teriak Sanas.
Plakk!!!! satu tamparan mendarat mulus pada pipi mulus Sanas.
"El.. Kau?" tanya Sanas tak percaya.
"Jaga mulutmu Ayashaa.. Dia bukan wanita rendahan. Dia calon ibu dari anak - anaku!!" ujar Eliyas tegas. Sanas spontan melihat ke arah perut Riyana.
"Kalian sudah?" tanya Sanas menggeleng tak percaya
"kami sudah menikah." kata Eliyas penuh penekanan.
Sanas tersenyum sumbang, tak hanya pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari suaminya, tapi hatinya juga hancur, remuk, redam.
"Kenapa?" tanya Sanas namun tak ada yang menjawabnya.
"Kenapa harus dia El kenapa?" tanya Sanas lagi.
"Apa kurangnya aku el?" tanya Sanas yang membuat Eliyas tersenyum mengejek.
"sepertinya aku tak perlu menjawabnya!!!" kata Eliyas dingin, sedingin sifat dimana mereka pertama kali di pertemukan.
"Oke.." kata Sanas pergi begitu saja, Eliyas hendak mengejarnya namun Riyana menahan dengan alasan kram perut, akhirnya Eliyas mengurungkan niatnya.
__ADS_1